Berita

Ilustrasi/Ist

Bisnis

Ekonomi AS dan Jerman Goyah, Harga Minyak Anjlok hingga 2 Persen

RABU, 26 FEBRUARI 2025 | 08:20 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Berita ekonomi terbaru dari Amerika Serikat dan Jerman telah memicu kekhawatiran di pasar minyak, menyebabkan harga minyak turun sekitar 2 persen ke level terendah dalam dua bulan pada perdagangan Selasa, 25 Februari 2025.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun 1,76 persen atau 2,4 persen menjadi 73,02 Dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,77 Dolar AS atau 2,5 persen menjadi 68,93 dolar AS per barel. 

Ini merupakan penutupan terendah untuk Brent sejak 23 Desember dan WTI sejak 10 Desember.


Penurunan harga ini terjadi setelah data menunjukkan ekonomi Jerman menyusut sebesar 0,2 persen pada kuartal terakhir tahun 2024 dibandingkan kuartal sebelumnya. Kanselir terpilih Jerman, Friedrich Merz, menolak reformasi cepat terhadap batasan pinjaman negara yang dikenal sebagai "rem utang," meskipun ada desakan dari beberapa investor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Di Amerika Serikat, data menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen pada Februari memburuk dengan laju tercepat dalam 3,5 tahun, sementara ekspektasi inflasi 12 bulan meningkat tajam. 

Analis menyatakan bahwa rencana Presiden Donald Trump untuk menaikkan tarif telah meningkatkan kekhawatiran inflasi di Federal Reserve AS, yang dapat menyebabkan bank sentral mempertahankan suku bunga lebih tinggi. Hal ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi.

Selain itu, kemungkinan kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina yang dapat mengarah pada pencabutan sanksi terhadap Rusia menambah tekanan pada harga minyak.


"Kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina yang menunjukkan pencabutan sanksi Rusia, berpotensi menyambut pasokan Rusia tanpa batas kembali ke pasar," kata Tamas Varga dari pialang minyak PVM.

Rusia merupakan produsen minyak terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi, serta anggota OPEC+, organisasi yang terdiri dari negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Wakil Bupati Bogor Jaro Ade Dipanggil KPK

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:31

Bisnis Ritel MAP Tumbuh Dua Digit, Laba Bersih Capai Rp2,1 Triliun

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:30

Konser Ye Sumbang Perputaran Ekonomi Rp600 Miliar, UMKM Ikut Kecipratan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:20

Cari Pemimpin Baru, Kadin Jaktim akan Gelar Mukota VII

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:20

Ekosistem Baterai Makin Maju, Toyota Didorong Garap Full EV

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:16

KPK Panggil Sejumlah Tenaga Ahli dan Kepala Biro BNPB

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:01

Periksa Suhu

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:00

Dony Oskaria Kumpulkan Petinggi BUMN, Ada Apa?

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:51

Bank Mandiri Buka-bukaan Soal Kredit Rp40 Triliun ke Haji Isam, Beberkan Agunan Saham JARR-PGUN

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:41

Sempat Mangkir, KPK Bakal Panggil Ulang Suami Fadia Arafiq

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:26

Selengkapnya