Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Tiji Tibeh

Oleh: Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla*
SENIN, 24 FEBRUARI 2025 | 22:51 WIB

SELAMA hampir satu dekade, pemerintahan Presiden Joko Widodo yang lalu dan didukung penuh oleh PDI Perjuangan serta koalisinya telah melahirkan berbagai kebijakan dan undang-undang yang dinilai merugikan rakyat, bangsa, dan negara. 

Partai-partai yang tergabung dalam koalisi, seperti Gerindra, Golkar, Nasdem, PAN, PPP, dan PKB, turut bertanggung jawab atas lahirnya regulasi yang memperkuat oligarki dan melemahkan demokrasi.

Beberapa produk hukum yang dianggap kontroversial antara lain Undang-Undang Mineral dan Batubara (Minerba), Revisi Undang-Undang KPK (yang melemahkan lembaga antikorupsi), Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja (yang menggerus hak-hak pekerja) dan Undang-Undang Ibu Kota Negara (IKN) (yang dinilai sarat kepentingan kelompok tertentu). 


Tidak hanya itu, kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) berkali-kali di tengah kondisi ekonomi yang sulit semakin menambah beban rakyat.

Kondisi ini menggambarkan bagaimana kekuasaan yang terlalu besar cenderung korup. Hal ini selaras dengan kutipan terkenal dari Lord Acton: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Kekuasaan yang tidak terkendali selalu membawa potensi penyalahgunaan. Fenomena korupsi yang sistemik dalam pemerintahan Indonesia pun semakin menguat. Seperti yang dikatakan Roma Hurmuji, ”hampir semua pejabat elektoral terlibat dalam praktik korupsi”, yang sering kali dijadikan alat untuk menekan lawan politik.

Kini, konstelasi politik mulai berubah. PDI Perjuangan, yang dahulu menjadi pilar utama pemerintahan Jokowi, kini berseberangan dengan kekuasaan. Namun, pengaruh Jokowi di pemerintahan Prabowo masih cukup kuat. Dalam dinamika politik yang memanas, kasus hukum mulai dimainkan sebagai alat tekanan. Salah satunya adalah penetapan Hasto sebagai tersangka dalam kasus pergantian antarwaktu (PAW) Harun Masiku. Langkah ini diduga kuat sebagai bentuk tekanan politik menjelang Kongres PDI Perjuangan tahun ini.

Merasa diserang, PDI Perjuangan tidak tinggal diam. Dengan semangat “Mati Siji, Mati Kabeh - Tiji Tibeh”, partai ini mulai melakukan perlawanan terbuka terhadap Jokowi dan keluarganya. Banyak pihak menduga bahwa PDI Perjuangan memiliki sejumlah kartu truf yang dapat membongkar berbagai kebijakan kontroversial serta dugaan praktik korupsi yang melibatkan lingkaran kekuasaan.

Jika benar ingin melakukan pembongkaran, maka seharusnya dilakukan secara menyeluruh. Seluruh partai politik, anggota DPR, kepala daerah, hingga pemenang Pilpres seharusnya di audit secara transparan (bila perlu dilakukan oleh Auditor Internasional). Hal ini diperlukan agar masyarakat memahami bahwa kerusakan sistemik telah mengakar dalam tubuh pemerintahan dan politik Indonesia.

Indonesia saat ini tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Kerusakan telah menjalar ke seluruh aspek, baik struktural maupun fungsional. Sistem korporatokrasi yang mendominasi pemerintahan telah menciptakan lingkaran setan korupsi, termasuk korupsi kebijakan. 

Demokrasi yang berjalan dengan biaya politik tinggi menyebabkan para pemimpin yang terpilih lebih mengutamakan kepentingan oligarki yang mendanai mereka.

Jika Indonesia ingin benar-benar berubah, maka sistem politik demokrasi yang bercampur dengan kapitalisme harus dikaji ulang atau di-Reset Ulang (Re-start). 

Sejarah telah menunjukkan bahwa Islam memiliki sistem pemerintahan dan ekonomi yang dapat menciptakan kesejahteraan yang berkeadilan. Kini, pertanyaannya adalah: apakah bangsa ini siap untuk melepaskan diri dari cengkeraman oligarki dan membangun sistem yang lebih adil? Waktunya telah tiba untuk perubahan besar.

*Penulis adalah Purnawirawan TNI AL, pemerhati masalah kebangsaan

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Kepala BRAN Dorong 3,1 Juta Hektare Lahan Transmigrasi jadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:32

KPK Pastikan Video Penjemputan Paksa Nusron Hoax!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:24

Quo Vadis 2 tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:23

Prabowo Setujui Kajian DEN soal Definisi Korupsi Berstandar Internasional

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:17

Penindakan 1.000 Tambang Ilegal: Kalau Tidak Sekarang, Kapan Lagi?

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:13

DPR Dorong Penguatan Koordinasi Penyaluran BBM

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:01

Gibran Terima Perwakilan WALUBI Bahas Karhutla hingga Bakti Sosial

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:50

KPK Perlu Periksa Hercules soal Uang Rp800 Juta Terkait Summarecon

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:46

Menteri Agama Optimistis Akan Ada Kebangkitan Syarikat Islam Jilid Baru

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:43

Pertamina Diusulkan Peroleh Insentif Sewa Kapal Tanker Lokal

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:41

Selengkapnya