Berita

Ilustrasi (AI/AT)

Publika

Tunggu Giliran Kalian

MINGGU, 23 FEBRUARI 2025 | 23:03 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DI pelataran Gedung Merah Putih KPK —yang kini lebih mirip panggung teater absurd ketimbang kantor pemberantasan korupsi — Adian Napitupulu berdiri penuh semangat. Dengan nada seorang orator revolusioner, ia membacakan puisi Yuyun SS berjudul “Lampu Merah.”

“Bila hari ini kebenaran didustakan, bila hari ini kenyataan dipalsukan, tunggulah hari esok kemanusiaan akan dinistakan… tunggulah hari esok kalian akan dapat giliran.”

Puisi yang dipetik dari karya Yuyun —entah siapa penyair yang satu ini — seakan menjadi firasat bagi mereka yang dulu merasa aman di balik kekuasaan. Ada ancaman bagi mereka yang tersangkut perkara korupsi untuk mendapat giliran diusut KPK.


Tapi, siapa saja “kalian” yang akan mendapat giliran tersebut? Mungkin banyak. Yang pasti, hembusan angin politik yang sarat aroma perlawanan memberi satu nama lebih dulu: Hasto Kristiyanto. Sekjen PDIP itu kini duduk manis di balik jeruji besi.

Dakwaannya? Menyuap dan menghalang-halangi penyidikan kasus Harun Masiku. Tapi Hasto bukan tipe yang pasrah. Ia melempar bola panas ke istana: “Kalau mau tegakkan hukum, jangan tanggung-tanggung. Periksa juga keluarga Pak Jokowi!”

Di momen ini, politik Indonesia resmi memasuki fase battle royale, di mana sekutu lama saling jegal, dan siapa pun yang masih merasa aman mungkin hanya kurang update berita. PDIP, yang satu dekade terakhir menjadi benteng Jokowi, kini berubah haluan.

Sementara Hasto berkontemplasi di sel KPK, Megawati Soekarnoputri tak tinggal diam. Lewat instruksi bernomor 7295/IN/DPP/II/2025, ia memerintahkan 126 kepala daerah dari PDI-P untuk memboikot retret yang diadakan Presiden Prabowo di Magelang.

Kalau sebelumnya PDIP masih setengah hati memainkan peran oposisi, kini sikapnya sudah terang benderang: Prabowo bukan kawan. Retret itu dianggap Mega tak lebih dari sesi team bonding bagi mereka yang ingin hidup nyaman di lingkar kekuasaan.

Di luar gedung-gedung elite, mahasiswa lebih dulu turun ke jalan dengan aksi bertajuk “Indonesia Gelap.” Bukan karena krisis listrik, tapi karena pemotongan anggaran Rp306 triliun yang dilakukan Presiden Prabowo, yang berdampak pada mereka.

Berpakaian serba hitam, mereka meneriakkan kekecewaan atas politik yang semakin vulgar berpihak pada oligarki. “Kami sudah muak! Setiap kali ada pemotongan anggaran, alasannya demi efisiensi, tapi dampaknya selalu menghantam rakyat kecil.”

Namun, absurditas politik mencapai puncaknya ketika Prabowo, di tengah riuh rendah situasi, justru mengangkat kepalan tangan dan meneriakkan: “Hidup Jokowi!” Tiga kali. Ya, tiga kali, dengan penuh semangat, dengan kata-kata yang kuat.

Seakan belum cukup, ribuan hadirin diajaknya menyanyikan lagu apresiasi untuk Jokowi, mantan presiden yang kini banyak dihujat. Momen ini mungkin akan masuk buku sejarah sebagai saat ketika realitas politik Indonesia resmi menyerah pada logika meme internet.

Bagi rakyat, sikap itu memberi penegasan bahwa Prabowo betul-betul bagian dari gang Jokowi. Sementara bagi mahasiswa, ini seperti karpet merah untuk aksi yang lebih keras. Jika sebelumnya mereka turun dengan analisis akademis, kini mereka turun dengan kemuakan murni.

Semua ini mengonfirmasi kecurigaan lama: reformasi sudah lama dikubur. Politik tak lagi soal gagasan atau perjuangan membela rakyat, melainkan soal siapa yang paling berani menunjukkan loyalitas tanpa malu-malu. Politik antara kami dan kalian.

Pertarungan kini terang benderang: PDIP vs Jokowi dan gengnya.

Tinggal pertanyaan besar yang menggantung: Akankah Hasto membuka lebih banyak nama di ruang sidang, menjadikan kasusnya semacam pesta truth or dare yang menyeret elite lain? Jangan-jangan, nanti Harun Masiku tiba-tiba hadir menjadi saksi?

Dan Prabowo, yang kini duduk di puncak kekuasaan, akankah berani menegakkan hukum tanpa pandang bulu? Atau justru sibuk mempertebal garis perlindungan bagi lingkarannya sendiri —termasuk Jokowi dan keluarganya?

Mahasiswa sudah turun ke jalan. Politik juga sudah berubah menjadi panggung sandiwara dengan plot semakin absurd. Satu hal yang pasti: rakyat menunggu keadilan, sementara para elite sibuk mencari cara agar giliran mereka tak pernah datang.

*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an




Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya