Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Ironis, Ribuan Pejabat Anti Korupsi Tiongkok Ikutan Korup

SELASA, 11 FEBRUARI 2025 | 11:01 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Tiongkok telah menjalankan kampanye antikorupsi selama lebih dari satu dekade dengan tujuan membersihkan birokrasi dari praktik korupsi. Ironisnya, banyak pejabat yang seharusnya menindak korupsi justru tersandung kasus yang sama.  

Mengutip laporan South China Morning Post pada Selasa, 11 Februari 2025, Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin (CCDI), lembaga antikorupsi tertinggi di Tiongkok, telah menempatkan 3.900 pejabatnya dalam penyelidikan sepanjang 2024. 

"Jumlah ini memang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencapai 7.817, tetapi tetap menunjukkan betapa dalamnya permasalahan korupsi dalam struktur pemerintahan," ungkap laporan tersebut.


Fenomena ini menjadi semakin mencolok karena kampanye antikorupsi yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping kini memasuki tahun ke-13. 

Meskipun demikian, hasil yang diharapkan masih jauh dari tercapai. Dari ribuan pejabat CCDI yang diselidiki tahun lalu, hanya 58 yang berpangkat wakil menteri ke atas. 

Hal ini menegaskan bahwa pejabat tinggi di Tiongkok masih relatif aman dari tuntutan hukum.  

Sejumlah pengamat menilai bahwa korupsi yang merajalela di Tiongkok disebabkan oleh struktur kekuasaan yang sangat tertutup dan absennya sistem peradilan yang independen. 

Pemerintah memang mengumumkan pemecatan beberapa pejabat militer seperti mantan Menteri Pertahanan Li Shangfu dan pendahulunya Wei Fenghe pada 2023. 

Namun, jumlah pejabat senior yang benar-benar dihukum masih sangat kecil dibandingkan skala korupsi yang ada.  

Antara 2013 dan 2022, pemerintah Tiongkok telah menyelidiki 4,39 juta kasus korupsi dan menghukum sekitar 4,7 juta orang. Mayoritas yang dikenai sanksi adalah pejabat tingkat rendah hingga menengah.

Sementara pejabat tinggi yang memiliki pengaruh besar dalam birokrasi masih terhindar dari tindakan tegas.  

Dalam beberapa waktu terakhir, skandal korupsi juga mencuat di sektor militer dan industri pertahanan. 

Dua pejabat tinggi dari Aviation Industry Corporation of China (AVIC), Yang Wei dan Hao Zhaoping, yang terlibat dalam pengembangan jet tempur siluman J-20, diberhentikan dari jabatan mereka. Tidak ada penjelasan resmi atas pemecatan ini, tetapi dugaan korupsi menjadi spekulasi utama.  

Sistem industri militer Tiongkok telah lama dianggap sebagai sarang korupsi. Ada kekhawatiran bahwa penyelewengan dana dalam proyek pertahanan bisa berdampak pada kualitas jet tempur dan roket yang dikembangkan. 

Jika benar terjadi malpraktik dalam pengembangan pesawat J-20, maka dampaknya bisa sangat besar bagi ambisi militer Tiongkok.  

Presiden Xi Jinping berulang kali menyebut bahwa "korupsi adalah ancaman terbesar bagi Partai Komunis." Namun, para ahli menilai bahwa kampanye antikorupsi ini lebih bersifat retoris daripada membawa perubahan nyata.

Mereka berpendapat bahwa pemusatan kekuasaan di tangan Partai Komunis justru menjadi akar dari masalah korupsi di Tiongkok.  

Sistem yang terlalu tertutup dan kendali penuh partai atas politik, ekonomi, serta keamanan memungkinkan pejabat untuk menyalahgunakan kekuasaan.

Tanpa reformasi yang lebih luas, korupsi di Tiongkok akan terus berlanjut, bahkan di dalam lembaga yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam pemberantasan korupsi.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Sandy Rio Kuahaty Nakhodai GAMKI Jakut 2026-2029

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:26

Bawaslu Dorong Transformasi Digital dari Administrasi ke Pengawasan Berbasis Risiko

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:23

Kementerian HAM Perluas Akses Pendidikan Tak Hanya untuk ASN

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:14

Reformasi Kelistrikan Penting untuk Capai Ekonomi 8 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:01

Menkop Kukuhkan Yudi Azis sebagai Rektor IKOPIN Periode 2026–2031

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:44

Bahas Keamanan hingga Lapangan Kerja

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:42

Meracik Horor Komedi di Film Ghosthing, Ini Pandangan Peter Surya Wijaya

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:41

Tanggapi Survei Celios, Gibran Janji Kerja Lebih Baik

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:35

Mantan Pj Gubernur Sulsel Bantah Cawe-cawe Pengadaan Bibit Nanas

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:31

APBD DKI 2027 Diusulkan Rp82,89 Triliun, Naik 4,18 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:20

Selengkapnya