Berita

Ilustrasi/AI

Publika

Superpower Baru DPR

KAMIS, 06 FEBRUARI 2025 | 07:47 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

MARI kita tepuk tangan sejenak untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kita yang begitu gesit dan inovatif! Biasanya, lembaga legislatif dikenal dengan pembahasan RUU yang berlarut-larut, penuh drama, dan kadang berakhir di tong sampah sejarah. 

Tapi kali ini, mereka telah menunjukkan kecepatan dan ketegasan yang luar biasa —tentu saja dalam urusan yang paling penting bagi bangsa: revisi Tata Tertib DPR. Baru kali ini dalam sejarah negeri, keputusan menambahkan pasal Tatib datang secepat kilat.

Ya, saudara-saudara, dalam hitungan kurang dari tiga jam, DPR berhasil mengubah aturan internalnya agar tidak hanya mengatur perilaku para anggota dewan yang terhormat, tetapi juga nasib para pejabat negara yang sebelumnya hanya tunduk pada Undang-undang. 


Sebuah prestasi luar biasa! Mungkin setelah ini, Tatib DPR bisa direvisi lagi agar bisa mencopot presiden atau bahkan mengatur cuaca. Siapa tahu? Mungkin para anggota Dewan yang terhormat sedang menafsirkan ulang kata "Tata Tertib" dengan "Tata Copot."

Logika mereka sesederhana anak kecil yang, karena masih kecil, merasa berhak menuntut ini-itu pada ortu. Sebagai lembaga yang hobi melakukan fit and proper test, DPR kini merasa wajar jika mereka juga berhak melakukan unfit and improper test. 

Tentu, kita bisa membayangkan ke depan setiap pejabat negara harus terus-terusan menebak-nebak apakah dirinya masih cukup fit di mata DPR atau akan menjadi korban dari sebuah rapat paripurna yang mendadak diadakan di tengah malam.

Hakim MK? Bisa dievaluasi! Komisioner KPK? Bisa dicopot! Ketua KPU? Hati-hati! Sepertinya satu-satunya pejabat yang aman dari evaluasi DPR adalah para anggota DPR itu sendiri. Sangat menarik melihat bagaimana revisi aturan ini melompat dari sekadar mengatur pakaian batik di hari Kamis menjadi mekanisme pemecatan pejabat tinggi negara.

Ahli hukum tata negara, akademisi, hingga masyarakat awam pun terkejut. "Ngaco!" teriak Ketua Indonesia Police Watch, Sugeng Teguh Santoso. Tapi kita harus melihat ini secara objektif. Apakah ini benar-benar ngaco seperti kata MKMK? Atau ini bentuk seni politik tingkat tinggi yang belum bisa kita pahami sepenuhnya ke mana arahnya?

Bayangkan, sebuah peraturan internal yang seharusnya mengatur jadwal makan siang dan absen rapat, tiba-tiba menjadi alat untuk menilai kelayakan pejabat yang dipilih berdasarkan Undang-undang. Ini bukan sekadar ngaco, kata mereka yang masih peduli kualitas demokrasi.

Ya, inilah bentuk inovasi demokrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya! Bahkan, mungkin para pendiri negara kita di tahun 1945 tidak terpikir untuk memberikan kekuasaan sebesar ini kepada satu lembaga meskipun berlabel yang terhormat.

Salah satu aspek paling mengesankan dari perubahan ini adalah kecepatannya. Jika biasanya RUU penting seperti UU Perlindungan Data Pribadi butuh waktu bertahun-tahun, revisi Tatib DPR ini melesat secepat kilat. 

Mungkin kita perlu mengusulkan agar semua permasalahan bangsa—mulai dari kemiskinan hingga harga beras, mulai dari korupsi hingga stunting —dibahas di bawah Tatib DPR. Siapa tahu solusinya bisa ditemukan dalam tiga jam juga?

Tentu, revisi ini dilakukan dengan alasan luhur: menjaga "kehormatan DPR". Apakah ini berarti kehormatan DPR selama ini begitu rentan hingga perlu dilindungi dengan peraturan yang memungkinkan mereka menilai kinerja pejabat negara seenaknya? Jika benar begitu, mungkin kita perlu mengatur ulang definisi "kehormatan".

Jika revisi Tatib ini dibiarkan, kita harus bersiap menghadapi berbagai kejutan lainnya. Mungkin di masa depan, DPR bisa menentukan siapa yang boleh menjadi dosen, wartawan, atau bahkan dokter. 

Kita tidak boleh menganggap enteng kekuatan Tatib DPR. Hari ini pejabat negara yang dievaluasi, besok bisa saja rakyat biasa yang harus melalui uji kelayakan agar tetap menjadi warga negara.

Satu hal yang pasti, revisi Tatib DPR ini bukan sekadar perubahan aturan biasa. Ini adalah eksperimen ketatanegaraan yang spektakuler. Entah kita sedang menyaksikan tragedi konstitusi atau komedi politik terbesar abad ini, yang jelas kita semua telah menjadi penonton dalam sebuah pertunjukan yang luar biasa absurd.

Jadi, mari kita nikmati sajian akrobat politik ini, pantau ke mana arahnya. Dan jangan lupa, siapkan popcorn!

Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya