Berita

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump/Net

Dunia

Trump Tunda Tarif Meksiko dan Kanada, Tiongkok Tetap Kena

SELASA, 04 FEBRUARI 2025 | 10:52 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penghentian sementara tarif terhadap Meksiko dan Kanada selama 30 hari. 

Keputusan itu diambil sebagai imbalan atas komitmen kedua negara dalam memperkuat penegakan hukum perbatasan dan menekan kejahatan lintas negara. 

"Sebagai Presiden, adalah tanggung jawab saya untuk memastikan keselamatan semua warga Amerika, dan saya melakukan hal itu. Saya sangat senang dengan hasil awal ini," kata Trump melalui sebuah unggahan di Truth Social, seperti dimuat Reuters pada Senin, 3 Februari 2025.


Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum setuju untuk memperkuat upaya mereka dalam menangani penyelundupan narkotika dan imigrasi ilegal.

Sebagai imbalannya, AS menangguhkan tarif 25 persen yang harusnya mulai berlaku pada hari Selasa, 4 Februari 2025.

Kanada berkomitmen untuk menyebarkan teknologi dan personel tambahan di perbatasan AS-Kanada serta meningkatkan kerja sama dalam menangani kejahatan terorganisir, perdagangan fentanil, dan pencucian uang.  

Meksiko, di sisi lain, sepakat untuk mengerahkan 10.000 anggota Garda Nasional di perbatasan utara guna membendung arus imigrasi ilegal dan perdagangan narkotika.  

"Amerika Serikat juga berkomitmen untuk mencegah perdagangan senjata berkekuatan tinggi ke Meksiko," ungkap Presiden Sheinbaum, menegaskan peran AS dalam mengatasi krisis keamanan di kawasan tersebut.  

Berbeda dengan Meksiko dan Kanada, AS tetap berencana mengenakan tarif 10 persen terhadap produk-produk dari Tiongkok mulai hari ini.

Trump juga memperingatkan kemungkinan kenaikan tarif lebih tinggi jika Beijing tidak menghentikan pengiriman fentanil ke AS.  

"Tiongkok diharapkan akan berhenti mengirim fentanil kepada kami, dan jika tidak, tarif akan naik jauh lebih tinggi," ujar Trump.  

Tiongkok menyebut bahwa permasalahan fentanil adalah tanggung jawab Amerika Serikat dan berjanji untuk menentang kebijakan tarif tersebut melalui Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) serta tindakan balasan lainnya. Meski demikian, Beijing masih membuka pintu untuk perundingan lebih lanjut.   

Kebijakan terbaru ini memberikan dampak langsung pada pasar keuangan. Dolar Kanada mengalami kenaikan setelah sebelumnya menyentuh titik terendah dalam lebih dari dua dekade. 

Indeks saham berjangka AS juga menguat setelah mengalami penurunan di Wall Street sehari sebelumnya.  

Kelompok industri menyambut baik keputusan Trump untuk menangguhkan tarif terhadap Meksiko dan Kanada.  

"Itu berita yang sangat menggembirakan," kata Chris Davison, pemimpin kelompok perdagangan produsen kanola Kanada.

"Kami memiliki industri yang sangat terintegrasi yang menguntungkan kedua negara," ujarnya lagi.

Namun, Trump juga mengisyaratkan bahwa Uni Eropa bisa menjadi target tarif berikutnya, meskipun tidak merinci kapan kebijakan tersebut akan diterapkan.  

Para pemimpin Uni Eropa yang bertemu di Brussels menyatakan kesiapan mereka untuk melawan tarif AS, tetapi tetap membuka peluang negosiasi.  

Sementara itu, Trump mengakui bahwa tarif dapat menimbulkan dampak negatif jangka pendek bagi konsumen Amerika, namun ia bersikeras bahwa kebijakan ini diperlukan untuk menekan imigrasi ilegal, perdagangan narkotika, serta meningkatkan produksi dalam negeri.  

Analis ekonomi memperingatkan bahwa kebijakan tarif ini bisa menyeret Kanada dan Meksiko ke dalam resesi serta menyebabkan stagflasindi AS?"sebuah kondisi di mana inflasi tinggi, pertumbuhan ekonomi stagnan, dan tingkat pengangguran meningkat.  

Seiring dengan kebijakan tarif yang terus berkembang, dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari pemerintahan Trump dalam perang dagang global yang semakin kompleks.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Iran Tak Terima Dituding Langgar Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:21

Riak Penolakan Jokowi di Lampung, Baliho Sambutan Raib

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:01

Ramai di Medsos, Purbaya Respons Pajak Pencairan JHT BPJS Ketenagakerjaan

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:59

Ajukan Kasasi, Kerry Riza Anggap Putusan PT DKI Janggal

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:46

Harga Minyak Anjlok ke Level 71 Dolar AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:39

bank bjb Perluas Kolaborasi dengan Whuush Ojol, Kadin Jabar dan MUJ

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:38

AS Serang Target Militer Iran, Balas Serangan Drone terhadap Kapal Kargo di Selat Hormuz

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:21

Emas Antam Naik Usai Mandek Dua Hari Beruntun

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:09

Trump Sebut Iran Lakukan Pelanggaran Bodoh Terkait Pelanggaran Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:51

Emas Rebound 1,3 Persen usai Data Inflasi AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:33

Selengkapnya