Berita

Ilustrasi/Ist

Bisnis

Sanksi Baru AS Paksa China dan India Cari Pasokan Minyak Alternatif

SENIN, 13 JANUARI 2025 | 08:07 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah memberlakukan sanksi baru yang menargetkan produsen minyak Rusia, seperti Gazprom Neft dan Surgutneftegas, serta 183 kapal yang mengangkut minyak Rusia.

Akibat sanksi ini, ekspor minyak Rusia diperkirakan akan menurun signifikan. Hal ini memaksa kilang minyak di China dan India, yang merupakan konsumen utama minyak Rusia, untuk mencari sumber pasokan alternatif dari Timur Tengah, Afrika, dan Amerika. 

Perubahan ini diprediksi akan meningkatkan harga minyak dan biaya pengiriman. 


Menurut Matt Wright, analis utama di Kpler, dari 183 kapal yang terkena sanksi, 143 di antaranya adalah kapal tanker minyak yang tahun lalu mengangkut lebih dari 530 juta barel minyak mentah Rusia. Sekitar 300 juta barel di antaranya dikirim ke China, sementara sebagian besar sisanya menuju India. 

"Dari jumlah tersebut, sekitar 300 juta barel dikirim ke China sementara sebagian besar sisanya dikirim ke India," kata Wright, seperti dikutip dari Reuters, Senin 13 Januari 2025.

"Sanksi ini akan secara signifikan mengurangi armada kapal yang tersedia untuk mengirimkan minyak mentah dari Rusia dalam jangka pendek, sehingga mendorong tarif angkutan lebih tinggi," ujarnya..

Selain itu, harga minyak global telah mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan terakhir sebagai respons terhadap sanksi ini. Pada 12 Januari 2025, harga minyak mentah Brent naik menjadi 81,11 Dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai 77,97 Dolar AS per barel. 

Sanksi ini juga diperkirakan akan memaksa kilang minyak independen di China untuk mengurangi produksi mereka di masa mendatang, mengingat keterbatasan pasokan dan meningkatnya biaya. 

Secara keseluruhan, sanksi baru AS terhadap sektor energi Rusia diperkirakan akan menyebabkan pergeseran signifikan dalam pola perdagangan minyak global, dengan dampak langsung pada negara-negara seperti China dan India yang selama ini menjadi konsumen utama minyak Rusia.

Selama 11 bulan pertama tahun lalu, impor minyak mentah Rusia di India naik 4,5 persen per tahun menjadi 1,764 juta barel per hari, atau 36 persen dari total impor India. 

Sementara volume China, termasuk pasokan pipa, naik 2 persen menjadi 99,09 juta metrik ton (2,159 juta barel per hari), atau 20 persen
 dari total impornya, selama periode yang sama.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Dilema Kelas Menengah dan Bawah di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:31

Lewat Surat Terbuka, Forum Guru Besar Indonesia Desak Gibran Mundur dari Wapres!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:20

Prabowo Berbelasungkawa atas Wafatnya Jenderal TNI Purn Subagyo

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:17

Harga Emas Antam Ambruk, Termurah Dijual Rp1,33 Juta

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:13

Sempat Dirumorkan Meninggal, Kim Jong-un Muncul di Pameran Mode Korut

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:03

Muslim Arbi Apresiasi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Swasembada Beras Jadi Prestasi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:59

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Rupiah Bergerak ke Rp18.023 per Dolar AS

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:49

Komisi II DPR Desak HGU Perusahaan Pembakar Hutan Dicabut

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:44

BEI Pastikan Saham HSC Tetap Diperdagangkan, Hanya Dicoret dari Hitungan IHSG

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:40

IHSG Dibuka Merah, Dua Menit Perdagangan Langsung Lompat 1,8 Persen

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:22

Selengkapnya