Berita

Ilustrasi

Bisnis

FDI India Tembus 1 Triliun Dolar AS

SENIN, 06 JANUARI 2025 | 04:20 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

India telah mencapai tonggak sejarah ekonomi yang signifikan, dengan arus masuk Penanaman Modal Asing (FDI) melampaui 1 triliun dolar AS. Berbagai kalangan menilai, prestasi ini memperlihatkan kepercayaan masyarakat internasional pada  daya tarik India sebagai tujuan investasi yang mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang kuat, reformasi progresif, dan potensi pasar yang berkembang di panggung global.

Nilai FDI yang fantastis ini juga memperlihatkan kemampuan negara tersebut untuk tidak hanya mempertahankan daya tariknya bagi investor tetapi juga secara signifikan meningkatkan posisinya sebagai tujuan investasi utama secara global.

The Hindu.com melaporkan, pada paruh pertama tahun fiskal 2024-25, FDI India telah mengalami peningkatan signifikan sebesar 26 persen, yakni mencapai 42,1 miliar dolar AS.


Lonjakan arus masuk FDI ini bukan hanya bukti peningkatan daya tarik negara tersebut, tetapi juga cerminan dari lingkungan bisnisnya yang terus berkembang, kerangka kebijakan yang kuat, dan daya saing internasional yang kuat. Selama bertahun-tahun, FDI telah memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan India dengan menyediakan modal yang sangat dibutuhkan, mendorong transfer teknologi, menciptakan peluang kerja, dan meningkatkan pembangunan infrastruktur. Seiring dengan terus meraup keuntungan dari investasi asing, perannya dalam membentuk tren ekonomi global semakin menonjol.

Beberapa faktor yang saling terkait telah mendorong peningkatan dramatis India dalam menarik investasi asing. Ini termasuk daya saing, inovasi, reformasi kebijakan pemerintah, dan iklim bisnis yang membaik.

Pertama, berupa peningkatan daya saing dan inovasi India naik tiga peringkat menjadi peringkat ke-40 dari peringkat ke-43 pada tahun 2021. Demikian pula, dalam Indeks Inovasi Global 2023, India berada di peringkat ke-40 di antara 132 negara. Untuk inovasi ini India mengalami lonjakan yang spektakuler dari peringkat ke-81 pada tahun 2015.


Kedua, posisi India di peta investasi global telah menguat secara signifikan selama beberapa tahun terakhir. Menurut Laporan Investasi Dunia 2023, India muncul sebagai penerima proyek greenfield terbesar ketiga, dengan 1.008 pengumuman proyek greenfield. Proyek-proyek greenfield, yang melibatkan investasi baru dalam infrastruktur dan fasilitas, merupakan indikator utama kepercayaan investor jangka panjang. Selain itu, negara tersebut mengalami peningkatan 64 persen dalam transaksi pembiayaan proyek internasional, yang memposisikannya sebagai penerima kedua terbesar dari transaksi tersebut secara global.

Faktor penting lain dalam meningkatnya arus masuk FDI di India adalah upaya negara tersebut untuk meningkatkan lingkungan bisnisnya. Menurut Laporan Doing Business Bank Dunia, India mengalami peningkatan dramatis dari posisi ke-142 pada tahun 2014 menjadi posisi ke-63 pada tahun 2020, menandai peningkatan peringkat ke-79 selama kurun waktu lima tahun. Kemajuan ini dapat dikaitkan dengan serangkaian inisiatif pemerintah yang bertujuan untuk menyederhanakan kerangka regulasi, memangkas birokrasi, dan mempermudah investor asing untuk berbisnis di negara tersebut.

Terakhir, serangkaian reformasi kebijakan yang diambil pemerintah India telah berperan penting dalam mendorong arus masuk FDI.

Pemerintah telah meliberalisasi norma FDI di beberapa sektor, termasuk pertahanan, telekomunikasi, dan ritel, yang memungkinkan hingga 100 persen FDI melalui jalur otomatis. Pergeseran ini telah menghilangkan beberapa hambatan bagi investasi asing, yang memungkinkan perusahaan global memasuki pasar India dengan lebih mudah.

Upaya pemerintah untuk menjadikan India sebagai pusat manufaktur melalui inisiatif "Make in India" telah berhasil menarik modal asing di sektor-sektor seperti elektronik, otomotif, dan barang-barang konsumen.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya