Berita

Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo/tangkapan layar

Publika

Jokowi dalam Persepsi

SABTU, 04 JANUARI 2025 | 08:39 WIB | OLEH: FARID GABAN

TOKOH yang naik ke panggung politik lebih bermodal citra atau persepsi ketimbang substansi, akan runtuh pula oleh citra dan persepsi yang berbalik.

Inilah kisah tentang Jokowi, dari sebelumnya menjadi idol perubahan kini terjatuh menjadi finalis tokoh paling korup.

Sebagai orang yang mengkritik kebijakan publik Pemerintahan Jokowi sejak awal, saya menyaksikan beberapa gelombang pergeseran persepsi para pendukung Jokowi.


Gelombang pertama berkaitan dengan revisi UU KPK dan upaya pemberantasan korupsi.

Salah satu daya tarik terkuat Jokowi bagi pendukungnya adalah janji dia dalam memberantas korupsi, isu terpenting yang dirasakan banyak orang. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, Jokowi dianggap ikut melemahkan lembaga KPK dan menjadikannya sekadar perkakas politik.

Pendukungnya kecewa berat. Tapi, belum semuanya meninggalkan Jokowi. Masih ada harapan mereka: setidaknya Jokowi itu pemimpin yang peduli rakyat.

Gelombang kedua berkaitan dengan Omnibus Law, yang menunjukkan bahwa populisme Jokowi itu cuma bungkus luar saja. Sejatinya dia pro oligarki. Omnibus Law adalah UU yang dirancang dan dipromosikan oleh kalangan pengusaha swasta besar (Kadin dan Apindo).

Demonstrasi anti-Omnibus Law adalah demo terbesar dan terluas pasca-Reformasi, yang hanya terhenti ketika Covid menggila. Jokowi bersama DPR memanfaatkan ketakberdayaan rakyat akibat pandemi untuk menggolkan legislasi itu.

Tapi, di situ pun, banyak Jokower masih menyimpan alasan untuk mendukungnya. Mereka masih punya harapan: Jokowi tidak nepotis dan tidak berambisi membangun dinasti politik.

Gelombang ketiga berkaitan dengan isu nepotisme. Jokowi tampil di awal sebagai orang sederhana di luar tradisi dinasti politik. Dia menunjukkan anak-anaknya tidak tertarik politik dan lebih suka jualan martabak serta pisang.

Tapi lalu orang melihat Gibran dan Bobby, menantunya, maju jadi walikota. Dan Kaesang jadi Ketua Umum PSI. Citra anti-nepotisme Jokowi rontok.

Gelombang keempat merupakan gelombang paling kuat karena melibatkan PDIP, partai pengusungnya. Yakni soal pelanggaran etika di Mahkamah Konstitusi untuk meloloskan Gibran sebagai calon wakil presiden. Itu puncak kemarahan para pendukung Jokowi yang tersisa.

Ini menggenapkan perubahan persepsi paling kuat di kalangan para Jokower: dari pemuja menjadi pembenci Jokowi.

Pada awal Pemerintahan Jokowi saya merasa sangat sulit untuk mengkritik kebijakan publik Jokowi karena pemujanya sangat militan, dan sering menyerang personal para pengkritiknya.

Kini, berkebalikan. Orang yang dulu memuja bahkan berbalik mengecam Jokowi lebih keras ketimbang saya sendiri.

Tabungan citra Jokowi terus menipis dan terkuras.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Wamenko Dradjad: Penilaian MSCI Tidak Selalu Benar

Jumat, 16 Oktober 2026 | 16:23

Trump Bicara Soal Denuklirisasi dengan Rusia dan Tiongkok

Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:43

PGN Perkuat Efisiensi dan Daya Saing Bisnis Melalui Inisiatif Dekarbonisasi Berkelanjutan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:22

Kawasan Industri Diajak Cak Imin Bantu Korban Karhutla

Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:11

OJK Denda DSSA, BREN, CUAN Rp2,1 Triliun, Sanksi 835 Pihak Tembus Rp390 Miliar

Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:03

DIM RUU Migas Hampir Rampung 90 Persen

Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:00

Airlangga Heran MSCI Mendadak Ancam Cabut Status Emerging Market RI Usai Bertemu Menkeu-BI di Bangkok

Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:52

Pimpin Nasdem Garut, Lola Nelria: Partai Harus Hadir dalam Kehidupan Masyarakat

Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:46

Houthi Serang Istana Presiden Yaman, Lima Meninggal Dunia

Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:41

Kopdes Butuh Talenta Utuh agar Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Desa

Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:34

Selengkapnya