Berita

Ilustrasi/Ist

Bisnis

Harga Minyak Dunia Naik Tipis, Dipicu Cuaca Dingin dan Stimulus Ekonomi China

SABTU, 04 JANUARI 2025 | 08:09 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia mengalami kenaikan tipis pada akhir pekan, didorong oleh cuaca dingin di Eropa dan Amerika Serikat (AS) serta langkah stimulus ekonomi baru dari China.

Dikutip dari Reuters, Sabtu 4 Januari 2025, harga minyak mentah Brent naik 69 sen (0,9 persen) menjadi 76,62 Dolar AS per barel pada perdagangan Jumat. 

Sebelumnya, pada Kamis, harga Brent mencapai level tertinggi sejak 25 Oktober. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,11 Dolar AS (1,5 persen) menjadi 74,24 Dolar AS per barel.


Sepanjang pekan, Brent diperkirakan naik 3,3 persen, sedangkan WTI mencatatkan kenaikan 5 persen.

Sejumlah faktor mendorong kenaikan harga, termasuk stimulus ekonomi China.

Tanda-tanda melemahnya ekonomi China meningkatkan harapan adanya kebijakan tambahan untuk mendorong pertumbuhan. China, sebagai importir minyak terbesar dunia, baru-baru ini mengumumkan kenaikan gaji pekerja pemerintah dan tambahan pendanaan dari obligasi jangka panjang untuk merangsang investasi dan konsumsi.

"China terus mengumumkan langkah untuk mendorong ekonomi, dan pasar memperhatikannya," kata John Kilduff, analis dari Again Capital di New York.

Hal lainnya termasuk cuaca dingin di Eropa dan AS yang diperkirakan akan meningkatkan permintaan minyak pemanas di beberapa wilayah.

"Permintaan minyak kemungkinan mendapat dorongan dari suhu dingin di Eropa dan AS," kata Giovanni Staunovo, analis UBS.

Penurunan stok minyak mentah AS juga menjadi faktor pendorong naiknya harga.

Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan stok minyak mentah turun 1,2 juta barel menjadi 415,6 juta barel minggu lalu. Namun, stok bensin dan solar meningkat karena kilang memperbesar produksi meskipun permintaan bahan bakar mencapai titik terendah dalam dua tahun terakhir.

Meski harga minyak naik, Dolar AS tetap kuat dan mencatatkan performa mingguan terbaik dalam dua bulan terakhir. Hal ini didukung oleh ekspektasi ekonomi AS yang terus unggul dibanding negara lain.

Suku bunga AS yang tinggi juga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global dan permintaan minyak karena biaya pinjaman yang meningkat.

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

Jokowi Sangat Menghindari Pembuktian Ijazah di Pengadilan

Kamis, 19 Februari 2026 | 12:59

UPDATE

Muawiyah Ubah Khilafah Jadi Tahta Warisan Anak

Minggu, 01 Maret 2026 | 02:10

Arab Saudi Kutuk Serangan Iran di Timteng, Ancam Serang Balik

Minggu, 01 Maret 2026 | 02:00

Pramono Siapkan Haul Ulama Betawi di Monas

Minggu, 01 Maret 2026 | 01:40

Konflik Global Bisa Meletus Gegara Serangan AS-Israel ke Iran

Minggu, 01 Maret 2026 | 01:26

WNI di Iran Diminta Tetap Tenang

Minggu, 01 Maret 2026 | 01:09

Meriahnya Perayaan Puncak Imlek

Minggu, 01 Maret 2026 | 01:03

Jemaah Umrah Jangan Panik Imbas Timteng Memanas

Minggu, 01 Maret 2026 | 00:31

Jakarta Ramadan Festival Gerakkan Ekonomi Rakyat

Minggu, 01 Maret 2026 | 00:18

Pramono Imbau Warga Waspadai Intoleransi hingga Hoaks

Minggu, 01 Maret 2026 | 00:03

PT Tigalapan Klarifikasi Tuduhan Penggelapan Proyek

Minggu, 01 Maret 2026 | 00:01

Selengkapnya