Berita

Ilustrasi (Foto: informabtl.com)

Bisnis

iPhone 16 Bersiap Datang, Dolar Masih Rp16.185

JUMAT, 03 JANUARI 2025 | 16:07 WIB | OLEH: ADE MULYANA

KEBERUNTUNGAN mata uang Rupiah nampaknya masih sulit dalam mengawali sesi perdagangan tahun 2025 ini. Usai melemah tajam di sesi perdagangan hari perdana kemarin, gerak lemas kembali berlanjut meski dalam rentang lebih moderat. Pantauan menunjukkan, Rupiah yang konsisten menyisir zona pelemahan terbatas di sepanjang sesi perdagangan penutupan pekan ini, Jumat 3 Januari 2025.

Pelaku pasar terlihat masih belum menemukan pijakan untuk bersikap optimis di tengah tiadanya sentimen domestik dan regional yang signifikan. Laporan yang beredar memperlihatkan, pelaku pasar di Asia yang hanya mendapatkan bekal sentimen minor dari China, di mana pihak bank Sentral berniat menurunkan suku bunga dan menunggu waktu yang tepat.

Laporan tersebut datang dari media keuangan internasional terkemuka, finansial times. Namun demikian laporan tersebut tidak merinci waktu penurunan suku bunga yang dimaksud dengan jelas. Pelaku pasar sejauh ini telah khawatir dengan prospek dan kinerja perekonomian China yang semakin sulit di tengah upaya stimulus oleh pemerintahan Xi Jinping.


Porsi sektor industri manufaktur yang sangat besar bagi perekonomian China kini semakin terancam oleh kebijakan proteksionis Trump yang segera mengambil kendali di Washington. Pada sisi lainnya,  kian dekatnya Trump kembali ke Gedung Putih telah membuat gerak nilai tukar Dolar AS kian mengganas. Pantauan menunjukkan, posisi Indeks Dolar AS yang kini telah menginjak titik tertingginya dalam lebih dari dua tahun terakhir.

Kepemimpinan Presiden Trump di Gedung Putih yang lekat dengan kebijakan proteksionis memantik sikap pelaku pasar untuk terus mengejar Dolar AS untuk sekaligus meruntuhkan mata uang utama dunia. Kerontokan mata uang utama dunia kemudian menyeret mata uang Asia kali di zona merah.

Pantauan lebih jauh menunjukkan, mata uang Asia yang kompak menjejak zona pelemahan meski dalam rentang terbatas. Dolar Singapura dan Rupee India terlihat  berupaya bertahan di zona penguatan sangat tipis, namun  beralih melemah tipis di sesi sore. Sedang Ringgit Malaysia mengalami keruntuhan tertajam di Asia dengan merosot hingga kisaran 0,47 persen. Situasi sedikit berbeda mendera Rupiah. Usai mengalami keruntuhan tajam di sesi perdagangan kemarin, Rupiah masih kesulitan untuk sekedar berbalik menguat. Hingga sore ini, Rupiah terpantau sempat meninju posisi Rp16.184 per Dolar AS sebagai titik terkuatnya, namun kembali sedikit melemah.

Tiadanya sentimen domestik yang tersedia, memaksa Rupiah mengikuti gelombang sentimen global dari melonjaknya Indeks Dolar yang berlanjut. Agak beruntungnya, tekanan jual sedikit mereda di pertengahan sesi sore. Sejumlah mata uang utama dunia berbalik sedikit menguat hingga membuat Rupiah mampu mengikis pelemahan.

Pelaku pasar mendapatkan kabar dari perkembangan terkini menyangkut iPhone 16 yang diekspektasikan akan segera resmi beredar. Kabar dari pihak kementerian menyebutkan, pihak Apple yang akan menemui pejabat kementerian pekan depan guna membahas rencana investasi Apple di Indonesia yang sebelumnya dikabarkan akan mencapai Rp16 triliun.

Namun pelaku pasar secara keseluruhan masih lebih terfokus pada rilis data ketenaga kerjaan AS terkini yang akan dilakukan pekan depan. Gerak Rupiah di rentang moderat akhirnya bertahan. Hingga ulasan ini disunting, Rupiah tercatat diperdagangkan di kisaran Rp16.185 per Dolar AS atau menguat sangat tipis 0,02 persen.

Tinjauan RMOL memperlihatkan, gerak merah Rupiah dalam dua hari pertama tahun 2025 ini lebih mencerminkan konsekuensi teknikal usai secara mengejutkan mampu mencetak penguatan signifikan dalam menutup sesi tahun 2024. Sentimen global dari kembalinya Trump ke Gedung Putih, dengan demikian sekedar menjadikan Rupiah menemukan momentum untuk merealisasikan potensi teknikal nya.

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Anak SMA Peserta Cerdas Cermat MPR Ramai-ramai Dibully Juri dan MC

Senin, 11 Mei 2026 | 14:27

UPDATE

Puan: APBN 2027 Harus Jadi Instrumen Nyata untuk Sejahterakan Rakyat

Rabu, 20 Mei 2026 | 12:19

28 Tahun Reformasi, Kekuasaan Harus Berjalan Independen

Rabu, 20 Mei 2026 | 12:18

Prabowo Minta Menkeu Segera Ganti Pimpinan Bea Cukai Bermasalah

Rabu, 20 Mei 2026 | 12:08

Bitcoin Depot Bangkrut, Hampir 10 Ribu ATM Ditutup

Rabu, 20 Mei 2026 | 12:07

Pemerintah Harus All Out Bebaskan WNI yang Ditahan Israel

Rabu, 20 Mei 2026 | 12:01

Rupiah Melemah, UMKM dan Hilirisasi Industri Harus Diperkuat

Rabu, 20 Mei 2026 | 11:46

Prabowo: Rakyat Tidak Mimpi Kaya Raya, Asal Bisa Hidup Layak dan Sejahtera

Rabu, 20 Mei 2026 | 11:42

Kenaikan Penerimaan Pajak Jangan Bikin Terlena

Rabu, 20 Mei 2026 | 11:38

Sah! Prabowo Wajibkan Ekspor Sawit Hingga Batu Bara Satu Pintu Lewat BUMN

Rabu, 20 Mei 2026 | 11:33

Fatayat NU Ajak Kader Perempuan Lebih Percaya Diri di Ruang Publik

Rabu, 20 Mei 2026 | 11:32

Selengkapnya