Berita

Ahmadie Thaha

Publika

Ketika Sarung Bertemu Sains

RABU, 25 DESEMBER 2024 | 13:26 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

KETIKA rombongan masyayikh pesantren bersilaturrahim ke kampus hijau nan ilmiah IPB, terbayanglah sebuah revolusi di balik peci dan sarung. Pertemuan dengan Rektor IPB membuka lembaran baru –kerja sama di bidang pendidikan, sains, dan pengembangan ekonomi pesantren.

Salah satu topik menarik yang mereka kerja samakan tak lain STEM, atau mungkin lebih jauh lagi, STREAM.

Rombongan kiai yang tergabung dalam Perhimpunan Pengasuh Pesantren Indonesia (P2i), dipimpin oleh sang "Presiden" Kiai Tata Taufik, itu merancang STEM masuk lebih dalam ke pesantren.


Ya, Anda tahu, STEM adalah singkatan dari Science, Technology, Engineering, and Mathematics. Konsep pendidikan ini bertujuan mencetak lulusan yang siap menghadapi dunia teknologi modern. 

Versi lebih artistik dari STEM adalah STEAM, di mana "A" melambangkan Arts –sebuah usaha mengimbangi otak kiri dan kanan. Namun, untuk pesantren, tentu yang lebih cocok adalah STREAM, yaitu STEAM ditambah "R" (Religion). Bayangkan, santri tak hanya menguasai ilmu agama tapi juga sains, teknologi, seni, hingga keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills atau HOTS).

Sayangnya, hingga saat ini baru sebagian pesantren yang menerapkan model pembelajaran ala STEM, apalagi STREAM. Padahal, bayangkan kemungkinan yang terjadi jika pesantren benar-benar mengadopsi pendekatan ini. Ngaji kitab kuning yang berjilid-jilid, yang biasanya memeras otak untuk memahami bahasa Arab gundul, digabungkan dengan pembelajaran robotika dan kecerdasan buatan dalam bahasa Inggris.

Jika itu terjadi, pesantren bukan lagi sekadar pencetak ulama. Mereka akan menjadi pusat lahirnya Ibnu Khaldun baru yang paham ilmu sosial modern, Khawarizmi baru yang menciptakan algoritma masa depan, atau Al-Biruni era digital yang menulis traktat tentang bintang sekaligus teknologi blockchain. Santri bukan hanya menghafal Shahih Bukhari, tapi juga bisa merancang program kecerdasan buatan yang mampu memahami teks-teks kuno.

Namun, jangan lupakan esensi pesantren. Di tengah semangat berpikir kritis dan logis, Allah SWT tetap menjadi poros utama. Pendidikan STREAM di pesantren akan memastikan bahwa santri tidak hanya berpikir out of the box, tetapi juga in the divine box. Berpikir tingkat tinggi (HOTS) tidak harus membuat mereka lupa bahwa segala ilmu berasal dari Sang Maha Ilmu.

Sekjen P2i, KH Anang Rikza Masyhadi menggarisbawahi perlunya skema beasiswa khusus agar kader-kader pesantren bisa melanjutkan studi di kampus-kampus unggulan seperti IPB.

Dengan begitu, kaderisasi di pesantren dapat berlangsung lebih terstruktur. Jika langkah ini diwujudkan, bukan tidak mungkin pesantren akan melahirkan generasi ulama intelektual yang mampu berkontribusi dalam ilmu pengetahuan global.

Betapa tidak. STEM yang dipakai IPB, mungkin juga STREAM, bukan hanya soal penguasaan sains dan teknologi. STREAM adalah pendekatan yang menyatukan ilmu dunia dan akhirat, menjadikan santri sebagai individu yang multidimensional. Mereka bisa menjadi ahli fiqih yang juga paham bioteknologi, atau ahli tafsir yang juga memahami revolusi industri 4.0.

Salah satu tantangan terbesar, bagaimana memadukan pembelajaran agama dan ilmu pengetahuan umum. Untuk itu, pendekatan kurikulum yang integratif menjadi kunci. Misalnya, pelajaran tafsir bisa diintegrasikan dengan kajian sains tentang alam semesta.

Pelajaran fiqih muamalah bisa dikaitkan dengan studi ekonomi syariah modern. Dengan demikian, pesantren tak hanya mencetak generasi yang paham agama, tetapi juga kompeten dalam menghadapi tantangan zaman.

Setelah pertemuan dengan Rektor IPB, para kyai melanjutkan diskusi dengan Dekan School of Business IPB. Topik utamanya, peluang pengembangan unit-unit usaha ekonomi pesantren.

Bayangkan jika pesantren mengadopsi teknologi pertanian IPB. Santri yang biasa memelihara ikan lele kini bisa belajar aquaponik, atau bagaimana menghasilkan ikan dan sayuran dalam satu sistem.

Lebih jauh lagi, mungkin pesantren akan memiliki program studi baru: Tafsir Artificial Intelligence, Jurusan Bioteknologi Halal, atau Teknik Sipil Syariah.

Kunjungan masyayikh ke IPB hanyalah awal dari revolusi pendidikan pesantren. Mereka tak ingin pesantren menjadi institusi mandeg. Mereka paham, model pembelajaran STREAM sudah tersedia lama, menjadi peluang besar bagi pesantren untuk menjadi pusat peradaban baru, seperti masa keemasan Islam di era Al-Andalus.

Namun, tentu semuanya membutuhkan komitmen, baik dari pesantren maupun pemerintah. Jadi, akankah kita menyaksikan pesantren sebagai pusat sains dan teknologi berbasis spiritual? Kita tunggu saja. Sebab, seperti kata pepatah, “Di balik sarung, ada masa depan.”

Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:23

Bamus Betawi Siapkan Program Strategis Menuju Lima Abad Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:18

BEM Bersatu Ungkap Tiyo Ardianto Dekat dengan Jaringan PDIP dan Eks Timses Ganjar

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:08

Nasabah BRImo Bisa Beli Reksa Dana USD Batavia

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:04

BEM Bersatu: Mobil Tiyo Ardianto Diduga Milik Besan Andhika Perkasa

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:01

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30

Haikal Hassan Dianugerahi Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University Korsel

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:14

Rp35 Triliun Anggaran MBG Berubah Jadi Sampah

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:00

Kemensos Genjot Sentra Terpadu jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:57

Pola Kenaikan Tidak Biasa Kekayaan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:43

Selengkapnya