Berita

Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian Jakarta Taufik Andrie/Ist

Nusantara

Mantan Napiter Hijau Bertambah Lewat Program Deradikalisasi

RABU, 25 DESEMBER 2024 | 03:04 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Program deradikalisasi yang digulirkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam lima tahun terakhir relatif berhasil. Hal ini terlihat dari terus bertambahnya mantan narapidana terorisme (napiter) hijau.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian Jakarta Taufik Andrie yang dikutip dikutip, Rabu 25 Desember 2024.

Taufik mengatakan, sejak di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), biasanya napiter sudah dapat dideteksi masuk kategori merah, oranye atau hijau.


"Kalau merah, memang sejak awal tidak bersedia ikut program deradikalisasi. Sedangkan yang oranye dan medium, kadang-kadang masih mau ikut program dan mau berbicara dengan para sipir penjara," kata Taufik.

Menurut Taufik, untuk napiter kategori merah diperlukan pemantauan sangat ketat, Sedangkan untuk napiter oranye bisa dilakukan monitoring secara berkala, sambil dilihat potensi-potensi engagement untuk mengikuti program-program selanjutnya di luar lapas.

"Kalau yang hijau itu mereka aktif, engagement dengan petugas lapas, dan petugas lain. Sesungguhnya ini membawa keuntungan tersendiri bagi mereka. Karena itu akan menentukan status mereka setelah dibebaskan, termasuk proses pemantauannya nanti," kata Taufik.

Taufik menilai negara cukup serius untuk mengeluarkan resources dalam program deradikalisasi BNPT.

"Seperti yang dialami mantan napiter di Bandung yang mendapat insentif berupa sawah dan uang untuk bibit dan pupuk sampai panen yang bisa mencapai Rp60 juta," kata Taufik Andrie.

BNPT, Densus 88 Anti Teror Mabes Polri dan semua stakeholder agar memperketat pemantauan mantan narapidana terorisme (napiter) yang masuk dalam kategori merah, oranye dan hijau yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Hal ini menyusul penggulingan Presiden Suriah Bashar Al Assad oleh kelompok Hayat Tahrir al Sham (HTS) yang pernah bergabung dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah).

Karena bisa saja keberhasilan HTS pimpinan Abu Mohammed al-Jolani tersebut dipahami oleh sel-sel tidur jaringan ISIS di Indonesia, sebagai keberhasilan perjuangan mereka. Sehingga memantik keinginan untuk kembali berangkat ke Suriah.



Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya