Berita

PDI Perjuangan/RMOL

Publika

PDIP di Balik PPN 12 Persen

SENIN, 23 DESEMBER 2024 | 23:03 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

PPN 12 persen (naik 1 persen) jadi isu politik. Bukan lagi masalah kepentingan rakyat. Apa lagi stabilitas proyeksi pembangunan negara. PDIP sama sekali nggak punya standing untuk berisik apalagi tolak. 

PKS lebih punya kepantasan menolak. Tapi berubah sikap setelah dijelasin. PPN 12 persen demi performa penerima negara, mendukung pembangunan, keseimbangan fiskal, dan pembiayaan pembangunan infrastruktur,  pendidikan, dan kesehatan. 

Cash negara perlu diperkuat. Pajak salah satu instrumen. Mau ngutang aja, negara butuh performa keuangan yang bagus. Baru debitor percaya. 


PDIP cari panggung. Ingin disebut pembela "wong cilik". Tapi jadi inisiator UU No. 7 Tahun 2021. Buang badan. Nyalain Jokowi. Lah saat itu Jokowi adalah kader PDIP kok. 

Faksi Prananda, Hasto, Ginanjar, Sitorus, Adian punya 2 objektif; Delegitimasi Pemerintahan Prabowo-Gibran dan downgrade Puan Maharani yang Ketua DPR waktu Ketok Palu UU menaikkan PPN 12 persen di tahun 2025. 

Mereka mungkin tahu bahwa Prabowo-Gibran akan cari solusi tunda PPN 12 persen. Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar bahkan rilis statement "Pemerintah akan tunda". 

Pemerintah tentu nggak mau tampak kalah/tunduk ditekan partai katro macam PDIP. Sikap akan mengeras. Bila tetap dengan rencana awal tunda PPN 12 persen maka yang dapet poin seolah PDIP. 

Pajak, by consensus, dianggap perlu supaya masyarakat berfungsi dan bertumbuh. Penganut libertarian, anarcho-capitalist, dan khilafah tolak pajak. Menganggapnya sebagai "pencurian" dan pemaksaan negara dengan kekerasan. 

Ada yang duga, oknum jahat PDIP beroperasi dan jadi donatur gerakan rasis Said Didu cs. Andaikata sindikat 2 pihak ini sukses menjatuhkan Pemerintah Prabowo-Gibran, maka duel ronde 2 di antara mereka akan pecah. Rebutan siapa juaranya. Indonesia nggak akan perna stabil karena adanya orang-orang ini.

*Penulis adalah Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak)


Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya