Berita

CHED Ahmad Dahlan. /Ist

Politik

Kebijakan Harga Jual Eceran Rokok 2025 Berdampak Negatif

JUMAT, 20 DESEMBER 2024 | 20:29 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Kebijakan pemerintah terkait Harga Jual Eceran (HJE) rokok tahun 2025 disorot Center of Human Economic Development (CHED) ITB Ahmad Dahlan Jakarta bersama Muhammadiyah Tobacco Control Network (MTCN). 

Mereka mengkritisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 97 Tahun 2024, yang mengatur kenaikan HJE tanpa disertai kenaikan tarif cukai hasil tembakau. Itu berpotensi munculnya efek negatif, seperti down trading, di mana konsumen beralih ke produk rokok yang lebih murah. 

Selain itu, maraknya peredaran rokok ilegal juga menjadi ancaman besar yang dapat mengurangi efektivitas kebijakan ini.


Advisor Indonesia Institute for Social Development (IISD), Sudibyo Markus mengatakan bahwa kebijakan pengendalian konsumsi rokok dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs) sangatlah penting. 

Sebab, tembakau bukanlah komoditas unggulan perkebunan, melainkan tanaman semusim yang telah menjadi tradisi turun-temurun. 

“Dalam sistem usaha yang monopsoni, petani tembakau selalu berada di posisi yang paling dirugikan karena seluruh rantai usaha tani sepenuhnya bergantung pada industri, khususnya tengkulak dan bandol yang menjadi perpanjangan tangan industri tembakau," ujar Sudibyo dalam keterangannya, Jumat, 20 Desember 2024. 

Ia juga mengkritisi ketidakkonsistenan kebijakan fiskal pemerintah yang membatalkan kenaikan cukai pada 2025. Pada tingkat makro, kebijakan ini bertentangan dengan upaya pemerintah menuju Indonesia Emas 2045. Di tingkat meso, pemerintah justru mengeluarkan kebijakan yang hanya mengatur harga eceran, tanpa memperhatikan daya beli masyarakat yang tertekan beban utang.

“Di tingkat mikro, klaim industri tembakau sebagai 'soko guru' perekonomian nasional terasa ironis, karena mereka terus mengeksploitasi petani tembakau yang selalu dirugikan. Lebih jauh, dengan inovasi produk seperti rokok generasi baru dan pave, posisi rokok tradisional, yang menjadi tumpuan utama petani, semakin terpinggirkan," katanya.

Sementara itu, Senior Advisor CHED ITB-AD, Mukhaer Pakkanna menyatakan bahwa kebijakan HJE ini cenderung setengah hati dalam mengurangi prevalensi perokok, terutama di kalangan masyarakat miskin dan remaja. Menurutnya, penetapan HJE tidak menyentuh sektor cukai, yang selama ini menjadi instrumen utama dalam pengendalian konsumsi rokok. 

“Sehingga membuka peluang bagi beredarnya rokok murah yang terjangkau oleh masyarakat bawah," tegas Mukhaer.

Selaras dengan itu, Direktur CHED ITB-AD, Roosita Meilani Dewi, mengungkapkan bahwa kenaikan HJE yang diatur dalam PMK 97 tahun 2024 kemungkinan tidak mampu menekan konsumsi rokok. 

“Karena Rokok jenis SKM dan SPM yang memiliki pangsa pasar tertinggi hanya naik 5-7%, sedangkan SKT yang masih memiliki pangsa pasar rendah justru naik 18,6%. Padahal fakta lapangan menunjukkan bahwa rokok dengan jenis SKM dan SPM banyak dikonsumsi remaja dan perokok pemula" tegasnya.

Selanjutnya, Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) turut menyatakan dukungannya terhadap pengendalian konsumsi rokok yang lebih komprehensif. MPKU mendesak pemerintah untuk melarang penjualan rokok eceran dan meningkatkan cukai agar harga rokok setara dengan negara-negara tetangga. 

Selain itu, edukasi dan kampanye bahaya rokok harus diperluas untuk melindungi masyarakat, khususnya generasi muda.

“Muhammadiyah siap berkontribusi dalam upaya preventif, kuratif, dan rehabilitatif demi mewujudkan Indonesia yang sehat dan bebas dari korban rokok," kata Wakil Ketua MPKU PP Muhammadiyah Emma Rachmawati.



Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya