Berita

Presiden Tiongkok Xi Jinping. Pemerintah Tiongkok sedang mempertimbangkan paket stimulasi untuk memompa ekonomi Tiongkok.

Bisnis

Stimulus 1,4 T Dolar AS Sinyal Pelemahan Ekonomi Tiongkok

RABU, 11 DESEMBER 2024 | 08:45 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Era ketangguhan ekonomi Tiongkok disinyalir mulai runtuh. Kelemahan struktural yang mengancam akan merusak pertumbuhan pesat dan ambisi global yang dibangun negara itu selama puluhan tahun.

Sinyal paling mengkhawatirkan dari kesulitan ekonomi Tiongkok, menurut kalangan pemerhati, adalah paket stimulus sebesar 10 triliun yuan atau setara 1,4 triliun dolar AS yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang kini sedang dipertimbangkan.

Intervensi besar-besaran ini bukanlah tanda kekuatan, tetapi upaya putus asa untuk menghidupkan kembali ekonomi yang sedang kehilangan kepercayaan dan momentum.


Sentimen konsumen telah jatuh ke tingkat yang sangat buruk. Survei terbaru oleh Bank Rakyat Tiongkok mengungkapkan sebanyak 62 persen responden mengindikasikan bahwa mereka akan menabung lebih banyak di masa mendatang. Ini adalah manifestasi nyata dari kecemasan ekonomi yang mengakar.

Yang lebih penting lagi adalah fakta bahwa hanya 13,3 persen yang menyatakan keinginan untuk berinvestasi, angka terendah yang pernah tercatat. Ini bukan sekadar fluktuasi sementara, tetapi erosi mendasar kepercayaan ekonomi yang menyerang inti model ekonomi Tiongkok.

Sebuah artikel yang diterbitkan Times of Oman mengatakan, sektor properti, yang dulunya merupakan mesin utama pertumbuhan ekonomi Tiongkok, kini hancur total. Apa yang dulunya merupakan sumber dinamisme ekonomi yang tampaknya tak ada habisnya telah berubah menjadi beban ekonomi negara.

Pemerintah daerah tenggelam dalam lautan utang tersembunyi, dengan kewajiban yang belum dibayar sebesar 14,3 triliun yuan. Upaya putus asa mereka untuk mengurangi jumlah ini menjadi 2,3 triliun yuan pada tahun 2028 tampaknya semakin seperti mimpi yang mustahil, yang menyoroti kedalaman krisis keuangan. Strategi ekonomi Tiongkok yang didorong oleh ekspor menghadapi ancaman eksistensial, terutama dengan potensi kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih.

Analis ekonomi menggambarkan gambaran yang suram, yakni tarif 60 persen dapat menghancurkan sektor ekspor Tiongkok, berpotensi memangkas total ekspor hingga 8 persen dan mengurangi PDB hingga dua poin persentase hanya dalam waktu 12 bulan. Kerentanan ini memperlihatkan kerapuhan mendasar dari model ekonomi yang terlalu bergantung pada pasar eksternal.

Lanskap ekonomi global dengan cepat berubah, dan Tiongkok mendapati dirinya semakin terpinggirkan. Amerika Serikat, yang pernah menjadi tujuan ekspor utama Tiongkok, telah melihat pangsa ekspor Tiongkoknya turun dari 18,9 persen pada tahun 2017 menjadi hanya 14,8 persen pada tahun 2023.

Di artikel itu disebutkan, Louis Kumis dari S&P Global menyatakan bahwa meskipun ada stimulus fiskal, peningkatan substansial dalam pertumbuhan ekonomi tetap tidak mungkin terjadi. Dukungan konsumsi tetap sederhana, dan risiko deflasi terus berlanjut.

Respons pemerintah merupakan campuran antara kepanikan dan ketidakefektifan. Paket stimulus, pertukaran utang, dan intervensi moneter tidak banyak membantu memulihkan kepercayaan. Setiap langkah baru tampak lebih seperti solusi sementara yang putus asa daripada solusi komprehensif untuk tantangan ekonomi yang mengakar dalam.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya