Berita

Presiden Suriah Bashar Al Assad/AFP

Dunia

Benjamin Netanyahu Klaim Israel Berjasa Gulingkan Rezim Bashar Al Assad

SENIN, 09 DESEMBER 2024 | 09:16 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Berakhirnya kekuasaan Bashar Al Assad di Suriah diklaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai akibat langsung dari kampanye militer Israel melawan Hizbullah dan Iran.

Dalam kunjungan ke perbatasan Israel-Suriah pada hari Minggu, 8 Desember 2024, Netanyahu memuji pengambilalihan Suriah oleh kaum radikal Islam.

"Ini adalah hari bersejarah dalam sejarah Timur Tengah," katanya dalam sebuah pernyataan video, seperti dikutip dari RT, Senin 9 Desember 2024.


"Rezim Assad adalah mata rantai utama dalam poros kejahatan Iran: rezim ini telah jatuh," katanya.

Pasukan antipemerintah, termasuk jihadis Hayat Tahrir-al-Sham (HTS) dan militan Tentara Pembebasan Suriah yang dipersenjatai AS, menyerbu Damaskus pada Sabtu 7 Desember 2024, saat Tentara Suriah mundur dan Assad kabur ke Rusia.

Pemimpin HTS Abu Mohammed al-Jolani, mantan komandan al-Qaeda, mengumumkan kemenangan dalam pernyataan yang disiarkan televisi pada hari Minggu, dengan menyatakan bahwa “masa depan adalah milik kita.”

"Ini adalah akibat langsung dari serangan yang telah kita lakukan terhadap Iran dan Hizbullah, pendukung utama rezim Assad," kata Netanyahu, sambil mengklaim bahwa serangan Israel terhadap Iran dan kampanye militer terhadap Hizbullah di Lebanon menghambat kemampuan mereka untuk memperkuat pasukan Assad dalam melawan kemajuan teroris.

“Hal ini telah menciptakan reaksi berantai di seluruh Timur Tengah dari semua pihak yang ingin terbebas dari rezim yang menindas dan tirani ini,” tambahnya.

Pasukan HTS melancarkan serangan mendadak terhadap Tentara Suriah di provinsi Idlib dan Aleppo utara akhir bulan lalu, dan dengan cepat merebut sejumlah kota penting di sepanjang jalan selatan menuju Damaskus. 

Sejak awal, pemerintah Assad menyatakan bahwa jumlah jihadis bertambah karena banyaknya pejuang asing, sementara Kementerian Luar Negeri Rusia mengklaim bahwa para teroris telah menerima pelatihan dari intelijen militer Ukraina.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Buyback Emas Antam Meroket Rp55.000, Satu Gram Dibanderol Rp2,45 Juta

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Merosot Imbas Keputusan Trump

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:56

IHSG Terbang 1,6 Persen Menuju 6.000, Rupiah Ikut Menguat

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:44

PKS: Koalisi Prabowo Akan Tetap Konstruktif Jaga Persatuan Bangsa

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:40

Pengusaha Heri Black Dicecar KPK soal Kontainer Berisi Sparepart di Pelabuhan Tanjung Emas

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:29

10 Kader Ramaikan Bursa Caketum PB SEMMI di Kongres IX Banten

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:17

Berkas Lengkap, Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:08

Korea Pimpin Reli Bursa Asia

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:54

Galeri 24 Dorong Literasi Investasi Emas Masyarakat di Jakarta Fair 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:47

Manfaatkan Program Nikah Massal dan One Stop Nikah Solution dari Kemenag, Daftar Sekarang!

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya