Berita

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Lampung (UML), Candrawansah/RMOLLampung

Politik

Sejumlah Petahana Tumbang di Pilkada Lampung, Pengamat: Masyarakat Ingin Perubahan

JUMAT, 29 NOVEMBER 2024 | 05:31 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Provinsi Lampung 2024 menghadirkan fenomena menarik. Banyak petahana yang gagal mempertahankan posisinya, termasuk dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung. 

Berdasarkan hasil quick count dari sejumlah lembaga survei, petahana Gubernur Lampung tertinggal jauh dari pesaingnya.

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Lampung (UML), Candrawansah mengatakan, fenomena tumbangnya petahana ini disebabkan oleh sejumlah faktor. Di mana kinerja yang tidak memenuhi ekspektasi masyarakat menjadi alasan utama kekalahan.


“Lambatnya pembangunan, kurang optimalnya pelayanan publik, atau kegagalan menyelesaikan isu-isu lokal sering memicu ketidakpuasan. Selain itu, calon baru yang menawarkan program atau visi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat dapat dengan mudah mengalihkan dukungan pemilih. Kandidat yang dianggap lebih segar dan inovatif sering kali menjadi daya tarik utama bagi pemilih,” tuturnya, dikutip RMOLLampung, Kamis 28 November 2024.

Candrawansah juga menyoroti pentingnya strategi kampanye yang efektif. Komunikasi yang lemah dengan masyarakat, minimnya pemanfaatan media sosial terutama karena pemilih Gen Z dan milenial cukup signifikan, serta lemahnya koordinasi tim sukses bisa menjadi faktor kekalahan.

Di sisi lain, ia mencatat adanya fenomena antiincumbent di beberapa daerah, di mana masyarakat memiliki kecenderungan untuk mencari pemimpin baru sebagai bentuk protes terhadap situasi saat ini, meskipun tidak sepenuhnya disebabkan oleh kinerja petahana.

Ia juga menambahkan bahwa perpecahan internal partai pengusung turut berkontribusi besar terhadap tumbangnya incumbent. Ketika partai tidak solid dalam mendukung calon, hanya sekadar formalitas tanpa diikuti struktur yang utuh, hasilnya tentu mengecewakan.

Candrawansah menilai bahwa kekalahan dengan selisih suara yang signifikan menunjukkan tingkat ketidakpuasan masyarakat yang sangat tinggi terhadap kepemimpinan petahana.

“Jika petahana kalah dengan persentase yang jomplang, hal ini mencerminkan betapa masyarakat menginginkan perubahan besar,” demikian Candrawansah.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Setelah 19 Kapolda Berganti, Apa yang Berubah bagi Masyarakat?

Selasa, 06 Oktober 2026 | 06:19

King Indo Sah Jadi Raja ASEAN Usai Geprek Thailand 4-2

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:54

Jika Gugatan Denny Indrayana Cs Diterima MK Tak Otomatis Gibran Lengser

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:33

Ada Beking Politik, Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Jaksinema Bakal Jadi Mesin Baru Ekonomi Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:55

Bonus Timnas Indonesia Diatur Ketum PSSI

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:38

Nasib Gibran di Tangan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:19

Tak Mudah Pecat Gibran Meski Gugatan Denny Indrayana Cs Dikabulkan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:28

Festival Indonesia 2026 Perkuat Diplomasi Budaya Jakarta-Seoul

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:03

Jakarta Butuh Regulasi Parkir Valet

Selasa, 06 Oktober 2026 | 02:23

Selengkapnya