Berita

DPP PDI Perjuangan memberikan keterangan pers/RMOL

Politik

‘Kandang Banteng’ Geser ke Jakarta, PDIP: Jateng Kandang Bansos dan Parcok!

KAMIS, 28 NOVEMBER 2024 | 22:42 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Provinsi Jawa Tengah (Jateng) bisa disebut bukan lagi ‘kandang banteng’. Sebab, setelah puluhan tahun Jateng menjadi basis pemilih PDIP, kini menjadi objek penyalahgunaan bantuan sosial (bansos) dan intervensi oknum aparat kepolisian atau partai cokelat (Parcok). 

Demikian disampaikan Ketua DPP PDIP Deddy Yevri Sitorus saat jumpa pers di kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 28 November 2024.

"Sekarang rekan-rekan semua mulai hari ini bisa menyebut Jawa Tengah bukan sebagai kandang banteng lagi, tapi sebagai kandang bansos dan parcok (partai cokelat). Jadi jangan lagi sebut Jawa Tengah sebagai kandang banteng, tetapi sebagai kandang bansos dan parcok," kata Deddy. 


Menurut Deddy, pasangan yang diusung PDIP Andika Perkasa-Hendrar Prihadi mengalami dikalahkan oleh pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin itu semata-mata akibat adanya pergerakan instrumen kepolisian lewat politisasi bantuan sosial (bansos), hingga intimidasi warga khususnya kepala desa.

Meski begitu, Anggota Komisi II DPR RI fraksi PDIP ini menyebut, ‘kandang banteng’ kini bergeser ke DKI Jakarta. Sebab, pasangan Pramono Anung-Rano Karno berhasil menang satu putaran dengan perolehan suara 50,07 persen.

"Kami memenangkan DKI Jakarta dari Jawa Tengah, PDI Perjuangan kandangnya sekarang di Ibu kota Jakarta. Jadi jangan ada lagi pertanyaan soal kandang banteng," kata Deddy.

Deddy juga mengungkap bahwa saat ini ada istilah budaya baru yang berkembang dalam sistem pemilihan umum di Indonesia. Ia menyebutnya sebagai budaya Jokowisme.

Istilah Jokowisme merujuk pada rusaknya tatanan demokrasi karena upaya dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) sejak masih menjabat Presiden hingga tak lagi menjabat, lalu mendesain pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah sesuai kepentingannya.

Ketika segala cara dihalalkan untuk ambisi kekuasaan, kata Deddy, akhirnya digerakanlah Partai Cokelat atau Parcok yang menjadi kosakata baru dalam perpolitikan Indonesia masa kini. 

"Sudah disebutkan di dalam gedung DPR, baik Komisi II maupun Komisi III juga sudah mensinyalir masalah ini. Jadi ini bukan sesuatu yang baru. Kami di PDI Perjuangan terus terang sedih, karena yang dimaksud Partai Coklat ini sudah barang tentu adalah oknum-oknum kepolisian. Cuma karena tidak hanya satu, tidak hanya satu tempat, mungkin sebaiknya kita tidak menyebut oknum-oknum," katanya. 

Deddy mengatakan, Partai Cokelat bergerak sudah berdasarkan komando, dan orang yang paling bertanggungjawab di balik itu adalah Kapolri Listyo Sigit. 

Atas dasar itu, Deddy mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo harus dievaluasi. Sebab, Listyo adalah orang paling bertanggungjawab usai oknum aparat kepolisian cawe-cawe dalam Pilkada Serentak 2024. 

"Beliau bertanggung jawab terhadap institusi yang dia kendalikan, yang dia pimpin, yang ternyata merupakan bagian dari kerusakan demokrasi kita. Ini tanggung jawab yang saya kira harus dibebani di pikul sepanjang sejarah kita," tandasnya.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

TNI AU Bersama RCAF Kupas Konsep Keselamatan Penerbang

Rabu, 04 Februari 2026 | 02:04

Jokowi Dianggap Justru Bikin Pengaruh Buruk Bagi PSI

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:45

Besok Jumat Pandji Diperiksa Polisi soal Materi Mens Rea

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:28

Penguatan Bawaslu dan KPU Mendesak untuk Pemilu 2029

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:17

Musorprov Ke-XIII KONI DKI Diharapkan Berjalan Tertib dan Lancar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:56

Polisi Tetapkan Empat Tersangka Penganiaya Banser, Termasuk Habib Bahar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:41

DPR Minta KKP Bantu VMS ke Nelayan Demi Genjot PNBP

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:17

Kejagung Harus Usut Tuntas Tipihut Era Siti Nurbaya

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:49

Begini Alur Terbitnya Red Notice Riza Chalid dari Interpol

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:25

Penerapan Notaris Siber Tak Optimal Gegara Terganjal Regulasi

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:11

Selengkapnya