Berita

Ilustrasi

Dunia

Situasi Keamanan Pakistan Masih Mengkhawatirkan, Kedutaan AS Terbitkan Peringatan Berpergian

KAMIS, 28 NOVEMBER 2024 | 22:31 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Situasi keamanan di Pakistan tidak memperlihatkan tanda-tanda perbaikan. Aksi teror terus terjadi secara sporadis. Padahal, sejak bulan Juni lalu pemerintah telah meluncurkan operasi kontraterorisme Azm-i-Istehkam atau Tekad untuk Stabilitas.

Serangan nyaris terjadi setiap hari di provinsi perbatasan Pakistan, Balochistan dan Khyber Pakhtunkhwa (KPK). Baik lembaga militer maupun pemerintah federal Pakistan gagal menciptakan keamanan dan stabilitas bagi kelompok etnis minoritas di negara tersebut. Hampir 200 insiden teror tercatat pada bulan Oktober lalu di kedua provinsi rawan itu.

Begitu mengkhawatirkannya situasi keamanan di Pakistan, hari Rabu, 27 Oktober 2024, Keduataan Besar Amerika Serikat mengeluarkan peringatan keamanan yang menghimbau warganya untuk tidak mengunjungi Peshawar di provinsi KPK hingga 16 Desember.


NDTV melaporkan, peringatan keamanan berjudul “Ancaman terhadap Hotel Serena, Peshawar” itu  menyarankan personel Misi AS untuk menghindari hotel tersebut dan menyarankan kewaspadaan dengan segera. 

"Warga AS diimbau untuk menghindari hotel dan area di sekitar hotel selama periode ini dan mempertimbangkan kembali rencana perjalanan," bunyi pernyataan itu. 

Warga AS di Pakistan diminta untuk melihat kembali peringatan “Jangan Bepergian” yang dikeluarkan pada bulan September.

Selain menghadapi aksi terorisme yang sporadis, pemerintah Pakistan juga menghadapi tekanan dari pemerintah Tiongkok yang mulai merasa tidak nyaman karena tidak sedikit serangan teroris ditujukan kepada proyek insfrastruktur yang sedang mereka kerjakan di Pakistan. 

Hal lain yang belakangan ini juga cukup merisaukan adalah penghilangan paksa pemuda-pemuda yang kerap bersuara keras mengkritik pemerintah di KPK dan Balochistan,  khususnya di distrik Gwadar, yang secara langsung terkena dampak Koridor Ekonomi Tiongkok-Pakistan (CPEC).

Tuduhan yang dialamatkan pemerintah kepada aktivis HAM seperti Mahrang Baloch dari Komite Baloch Yakjehti (BYC) dan Manzoor Pashteen dari Gerakan Pashtun Tahafuz (PTM) malah melahirkan perlawanan yang lebih besar.

Kondisi politik-keamanan yang tidak stabil di provinsi-provinsi ini akan meningkatkan peluang kelompok-kelompok ekstremis merekrut banyak pemuda yang tidak puas. Alih-alih berfokus pada peningkatan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, pemerintah Pakistan mendorong pemuda menuju ekstremisme.

Institut Pakistan untuk Studi Konflik dan Keamanan (PICSS) yang berbasis di Islamabad, baru-baru ini menunjukkan data bahwa meskipun serangan militan menurun hingga 12 persen pada bulan Oktober, jumlah korban tewas secara keseluruhan melonjak hingga 77 persen dibandingkan dengan bulan September.

Meskipun terjadi sedikit penurunan dalam jumlah keseluruhan serangan militan, Oktober muncul sebagai bulan paling mematikan dalam dua tahun belakangan ini. 

Menurut data Pusat Penelitian dan Studi Keamanan (CRSS), kuartal ketiga tahun 2024 mengalami peningkatan tajam, hampir 147 persen, kematian akibat kekerasan teroris dan kampanye kontraterorisme, dengan lonjakan kekerasan sebesar 90 persen.

Untuk menyembunyikan kegagalan operasional dan jatuhnya korban jiwa personel angkatan bersenjata setiap hari, militer Pakistan dan pemerintah federal telah secara signifikan mengendalikan aliran informasi ke media arus utama. Selain itu, platform media sosial seperti X/Twitter tetap dilarang di negara tersebut, bersama dengan pembatasan pada Jaringan Pribadi Virtual (VPN).

Kepala Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Syed Asim Munir, telah berulang kali menyerukan kontrol yang lebih ketat terhadap media sosial di Pakistan. Dalam sebuah pernyataan baru-baru ini, Munir mencatat bahwa "kebebasan berbicara tanpa batas" menyebabkan degradasi nilai-nilai moral di semua masyarakat dan mempromosikan peraturan media sosial yang lebih ketat, bersama dengan pengurangan kebebasan daring di Pakistan. 

Sementara Munir mengaitkan misinformasi dan penggunaan media sosial untuk terorisme sebagai alasan untuk aturan yang lebih ketat, hal itu berfungsi sebagai sarana yang kuat untuk menyembunyikan sentimen militer anti-Pakistan yang berlaku di negara tersebut.

Setelah penggulingan pemerintahan Imran Khan yang kontroversial dari kekuasaan pada bulan April 2022, sebagian besar penduduk berbalik melawan Angkatan Darat dan bahkan menyerang instalasi militer, markas besar, dan tempat tinggal perwira senior. Jembatan antara rakyat Pakistan dan lembaga militer telah semakin dalam secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Kurangnya kesempatan kerja, kebebasan berbicara, dan akses ke Internet dan media sosial, akhirnya mendorong tidak sedikit pemuda Pakistan bergabung dengan kelompok ekstremis atau terlibat dalam kegiatan ilegal lainnya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Febrie Adriansyah Resmi Ajukan Gugatan Praperadilan ke PN Jaksel

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:27

Menko Polkam: Aktivitas Masyarakat Tetap Normal, Pasar dan Mal Ramai

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:26

Gelombang Reshuffle Berlanjut, Zelensky Pecat Dubes Ukraina untuk AS

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:22

Harga Garam Brebes Anjlok saat Panen Raya

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:16

Kelakuan SPPG di Ketapang: Rumah Wartawan Dikepung, Istrinya Diintimidasi

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:02

Situasi di Dalam Negeri Sangat-sangat Mantap

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:52

Laba Tergerus, Saham Lufthansa Anjlok 8 Persen

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:51

Kepemilikan Aset Tak Wajar Jadi Indikator Awal Pencucian Uang

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:40

Api Membakar Lahan, Seorang Ayah Tak Pernah Pulang

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:31

Koperasi Merah Putih Dinilai Jadi Penentu Implementasi Pasal 33 UUD 1945

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:26

Selengkapnya