Berita

Ilustrasi kotak suara pemilu/Ist

Publika

Doa di Kotak Suara

RABU, 27 NOVEMBER 2024 | 08:01 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

SEBUAH video dari seorang kiai mencuri perhatian di TikTok @ngaji.ngabdii. Duduk tenang di kursi, di hadapan jamaah, sang kiai memberikan life hack sederhana untuk memilih di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Tak perlu survei panjang atau debat ngotot. Cukup baca doa pendek ini tiga kali: "Allahumma khir lana" (????? ?? ???).

Doa ini, menurut sang kiai, jalan gampang menuju pilihan yang berkah karena diridhai oleh Allah, Rasulullah, dan umat. "Pas nyoblos, bacalah doa ini tiga kali," kata Gus Qayyum Lasem (KH. Abdul Qayyum Mansur). Kemudian, ia menambahkan, "Tak perlu memikirkan amplop berapa tebal. Kalau berdoa, Gusti Allah sendiri yang akan menggerakkan tanganmu untuk memilih yang terbaik."

Di tengah suasana pemilu yang kadang lebih mirip bazar amal daripada pesta demokrasi, saran ini terdengar seperti angin segar. Tak perlu sibuk mencocokkan janji politik dengan kenyataan atau memperdebatkan apakah “serangan fajar” itu berkah atau musibah. Serahkan saja kepada Gusti Allah. Selesai perkara.


Namun, mari kita renungkan sejenak. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan "khir"? Dalam bahasa Arab, kata ini punya sejarah panjang, penuh makna, dan, tentu saja, sangat fleksibel. Di dalam Al-Qur'an, akar kata ini muncul lebih dari 150 kali dalam berbagai bentuk derivasinya, termasuk di antaranya istikharah. 

Secara harfiah, “khir” adalah kata kerja perintah, berasal dari akar kata kha'-ya'-ra' (???), yang artinya memilih atau membaik. Kata ini saudara dekat dari istikharah, salat dan doa terkenal yang biasa dilakukan sebelum keputusan besar, seperti menikah atau membeli motor bekas. Melalui istikharah, kita akan mendapatkan pilihan yang terbimbing.

Tapi jangan keliru. Konsep memilih di sini bukan sekadar masalah pasrah total. Dalam tradisi Arab, memilih adalah proses aktif. Sama seperti memilih durian, Anda harus memeriksa baunya, mengetuk kulitnya, agar tidak kecewa saat mencicipi. Begitu pula saat memilih jodoh, selain melakukan istikharah, Anda perlu mengenal calon Anda.

Doa "Allahumma khir lana" mengandung permintaan agar Gusti Allah memilihkan sesuatu yang baik. Bukan asal baik, tapi baik menurut-Nya, Rasulullah, dan, tentu saja, umat. Dalam istilah pak kyai tadi, "Diridhai oleh Allah, Rasulullah, dan manusia, sehingga pilihan kita membawa berkah bagi agama, bangsa, dan negara."

Apakah doa ini benar-benar sakti, atau ini sekadar upaya spiritualisasi politik? Realitas pemilu memang sering kali lebih kompleks. Ada uang haram di amplop yang bisa sangat menggiurkan. Janji politik lebih sering terdengar seperti dongeng pengantar tidur. Namun, doa ini menawarkan sesuatu yang berbeda: keikhlasan total. 

Dengan kata lain, doa ini perlawanan spiritual terhadap korupsi hati, pikiran, dan, tentu saja, amplop. Tapi, mari jujur. Apa yang terjadi jika doa Anda “berhasil” tetapi hasilnya mengecewakan? Bagaimana jika pemimpin yang “baik” yang Anda pilih dengan berdoa ternyata tidak kompeten? Apakah ini tetap dianggap takdir Allah?

Di sini letak dilema pemilu: antara ikhtiyar dan intikhab. Anda sudah baca di kamus, pemilu disebut intikhab, bukan ikhtiyar. Ikhtiyar adalah memilih berdasarkan hati nurani dan kebaikan, sementara intikhab adalah pemilihan berbasis seleksi sosial-politik. Doa sang kiai lebih condong ke ikhtiyar, pilihan moral dan spiritual. 

Tapi intikhab membutuhkan lebih dari sekadar doa. Ia menuntut penelitian, pengamatan, dan, tentu saja, kemampuan mengabaikan poster dengan desain norak. Jadi, tak cukup hanya berdoa. Seperti durian tadi, Anda tetap harus mengetuk dan mencium baunya. Doa tanpa usaha, akan sia-sia. Dan usaha tanpa doa, itu kesombongan.

Pesan sang kyai menyentuh satu hal yang sering kita lupakan: Pemilu adalah momen untuk mengingat Allah, bukan sekadar mencatat nama di TPS. Doa "Allahumma khir lana" mengajarkan kita untuk menggantungkan harapan pada-Nya, tapi juga mengingatkan bahwa harapan itu harus diiringi dengan usaha yang serius.

Jadi, saat Anda berdiri di bilik suara, peganglah paku itu dengan penuh keyakinan. Bacalah doa, hirup napas, lalu pilihlah. Bukan hanya yang tampak baik, tapi yang benar-benar baik. Dan jangan lupa, pastikan tinta di jari Anda tetap menempel sampai sore. Bukan untuk pamer, tapi mengingatkan diri sendiri bahwa Anda telah berusaha sebaik mungkin.

*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an




Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Analisis di Balik Penerimaan Eksepsi Dokter Tifa

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:52

Legislator PDIP Desak Pemerintah Benahi Infrastruktur Hulu Migas

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:34

Panglima TNI: Perang Narasi Salah Satu Ancaman Paling Berbahaya Saat Ini

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:17

PABPDSI Kawal Program Nasional Hingga ke Desa Lewat 8 Satgas Asta Cita

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:55

MBG dan Peluang Besar Bangun Ekonomi Desa

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:30

Pemerintah Buka Opsi Biayai Utang Proyek Whoosh Pakai Panda Bond

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:05

Korupsi Pakan Satwa Rp10,2 Miliar, DPR Minta Eks Dirut KBS Dihukum Berat

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:45

Lulus S2 Hukum, Mikael Saragih Ungkap PR Hukum Indonesia Tak Lagi soal Kekurangan UU

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:37

BEM Kristiani Se-Indonesia Desak Kejagung Segera Tangkap Febrie Adriansyah

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:16

Polri dan FBI Sepakat Perkuat Kerja Sama Penanganan Kejahatan Transnasional

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:03

Selengkapnya