Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Antisipasi Perang Nuklir, Ini Langkah yang Harus Dilakukan Prabowo

SELASA, 26 NOVEMBER 2024 | 15:32 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Presiden Prabowo Subianto diminta mengantisipasi dampak penggunaan senjata nuklir dalam perang Rusia-Ukraina dan kawasan Timur Tengah terhadap kepentingan Indonesia. 

Indonesia dinilai perlu memiliki sistem kedaruratan nuklir nasional dengan melibatkan dan mengaktifkan seluruh lembaga ketenaganukliran yang ada. 

Anggota Dewan Pengarah Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Rohadi Awaludin mengingatkan antisipasi ini perlu dilakukan segera untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk penggunaan nuklir dalam perang di beberapa kawasan. 


"Presiden Rusia, Vladimir Putin menandatangani doktrin nuklir Rusia yang baru pada Selasa 19 November 2024 lalu. Doktrin tersebut dinamakan Prinsip Dasar Kebijakan Negara Federasi Rusia tentang Pencegahan Nuklir atau The Basic Principles of State Policy of the Russian Federation on Nuclear Deterrence,” kata Rohadi dalam keterangan yang diterima redaksi, Selasa, 26 November 2024. 

Lanjut dia, doktrin itu menguraikan kondisi ancaman-ancaman yang dapat dibalas dengan penggunaan senjata nuklir, salah satunya adalah ancaman penggunaan senjata konvensional yang menimbulkan ancaman kritis terhadap kedaulatan dan/atau integritas territorial. 

“Menanggapi hal tersebut Indonesia harus siap mengantisipasi kemungkinan terburuknya," tegas Rohadi. 

Rohadi menyebut doktrin baru yang dikeluarkan Putin dapat memicu kekhawatiran dunia internasional akan pecahnya perang nuklir di tengah berkecamuknya perang Rusia-Ukraina. 

Oleh sebab itu Indonesia perlu memastikan kembali sistem kedaruratan nuklir nasional guna mengantisipasi seandainya kondisi tidak diharapkan tersebut benar benar terjadi. 

"Pada dasawarsa 1950-an, dilakukan uji coba senjata nuklir besar besaran di Kawasan Pasifik. Mengantisipasi dampak hal tersebut bagi wilayah Indonesia, Presiden Soekarno membentuk Panitia Negara untuk Penyelidikan Radioaktivitet dan selanjutnya membentuk Lembaga Tenaga Atom yang merupakan cikal bakal Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) pada tahun 1958,” jelasnya.

Panitia negara tersebut dipimpin oleh Prof. GA Siwabessy yang selanjutnya menjadi Kapala BATAN yang pertama. Pembentukan BATAN sebagai lembaga khusus nuklir tidak terlepas dari tujuan nasional untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dari bahaya kenukliran internasional," terang mantan Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir ini. 

Rohadi menjelaskan tahun 1997 disahkan Undang Undang No 10 tahun 1997 tentang ketenaganukliran. Berdasarkan UU tersebut, lembaga pemerintah di bidang nuklir menjadi 2 lembaga, yaitu Badan Pengawas dan Badan Pelaksana Ketenaganukliran. Badan pengawas adalah BAPETEN sedangkan Badan Pelaksana adalah BATAN. 

"Dalam sistem kedaruratan nuklir nasional, BAPETEN sebagai Badan Pengawas ketenaganukliran berada di garda depan dengan dukungan teknis dari BATAN.  Struktur organisasi BATAN pun telah disusun dengan mempertimbangkan kemampuan teknis yang cepat untuk melakukan identifikasi dan menyusun langkah langkah mitigasi bahaya kenukliran jika terjadi bahaya nuklir di tingkat internasional,” bebernya. 

“Kecepatan sangat diperlukan dalam merespon kondisi darurat. Oleh sebab itu BATAN sebagai Badan Pelaksana Ketenaganukliran yang mandiri dan lincah perlu segera dibentuk kembali sebagai bagian dari penguatan sistem kedaruratan nuklir nasional," tandas Rohadi.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya