Berita

Ilustrasi (Foto: thoughtco.com)

Bisnis

Saham Bakrie Kejar Emas, IHSG Lemas di 7.134

SELASA, 19 NOVEMBER 2024 | 05:14 WIB | OLEH: ADE MULYANA

GELIAT saham-saham group Bakrie kembali mewarnai jalannya sesi perdagangan awal pekan ini secara dominan. Di tengah situasi ketidakpastian dari sentimen yang berkembang di pasar global, kinerja moncer kembali dibukukan tiga saham dari konglomerasi Aburizal Bakrie.

Serangkaian laporan yang beredar sebelumnya menyebutkan, merahnya indeks Wall Street dalam menutup sesi pekan lalu menyulitkan optimisme pelaku pasar di Asia untuk bertahan. Meski begitu sejumlah sentimen regional mampu menepis pesimisme dari Wall Street.

Bursa saham Jepang merosot tajam dalam menutup sesi hari perdana pekan ini dengan runtuh 1,09 persen di 38.220,85. Pelaku pasar dilaporkan gagal mendapatkan pijakan untuk setidaknya menahan tekanan jual yang hinggap. Investor disebutkan mencoba mengantisipasi rilis data inflasi terkini yang mungkin kurang meyakinkan. Situasi berkebalikan terjadi di bursa saham Korea Selatan, di mana Indeks KOSPI melambung fantastis 2,16 persen setelah menutup di 2.469,07.


Pelaku pasar di negeri ginseng itu mendapatkan suntikan sentimen domestik yang mengejutkan, di mana emiten terkemuka raksasa teknologi Samsung merilis rencana aksi buyback saham senilai $7,19 milyar atau sekitar Rp11,5 triliun. Rencana kejutan tersebut dirilis usai berhasilnya kesepakatan awal dengan serikat pekerja yang menggelar aksi mogok.

Investor merespon laporan tersebut dengan menggelar aksi akumulasi sangat agresif hingga mengangkat saham Samsung lebih dari 7 persen. Lonjakan curam ini sekaligus melanjutkan lonjakan identik sebelumnya pada akhir pekan lalu usai tercapai kesepakatan awal dengan serikat pekerja. Pesta saham Samsung ini kemudian memantik aksi serupa pada saham teknologi lainnya hingga melambungkan Indeks KOSPI.

Sementara pada bursa saham Australia, indeks ASX200 hanya mampu mencetak gerak sempit di sepanjang sesi perdagangan. ASX200 menutup sesi dengan naik moderat 0,18 persen di 8.300,2.

Dengan kepungan sentimen global dan regional yang meragukan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya cenderung terjebak dalam gerak moderat. Pantauan memperlihatkan, gerak IHSG yang mengawali sesi pagi dengan menginjak zona hijau, namun sekitar sejak kemudian beralih merah dan konsisten hingga sesi perdagangan sore ditutup. IHSG yang terkesan bergerak lemas akhirnya menutup sesi awal pekan ini, Senin 18 November 2024 dengan turun 0,38 persen di 7.134,27.

Sejumlah saham unggulan terpantau bergerak bervariasi sekaligus mencerminkan sikap ragu investor. Saham-saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan kembali terperosok merah, seperti: BBRI, BBCA, BMRI, ADRO, ASII, BBNI, UNTR, serta PTBA. Sedangkan sejumlah kecil saham unggulan lain mampu bertahan positif, seperti: TLKM, ITMG dan ICBP.

Pantauan lebih rinci dari jalannya sesi perdagangan menunjukkan, kinerja tiga saham dari kelompok Bakrie yang mencoba mendominasi: BRMS, BUMI dan DEWA. Saham BRMS, perusahaan penambang mineral termasuk Emas, kali ini mengukuhkan diri sebagai saham teraktif ditransaksikan berdasar nilai perdagangan dan sekaligus mencetak lonjakan fantastis 12,5 persen dengan berakhir di Rp450.

Kinerja saham BRMS terkesan berupaya mengejar lonjakan yang sedang berlangsung pada harga komoditas Emas di pasar Dunia. Laporan terkini menunjukkan, harga Emas Dunia yang kini bertengger di kisaran $2.600-an per troy onz setelah sempat meninju level tertingginya sepanjang sejarah beberapa hari lalu di kisaran $2.800. Tren penguatan komoditas emas terlihat masih sangat solid dan sangat mungkin untuk melampaui titik termahal nya sepanjang sejarah yang dicapai beberapa waktu lalu.

Sedangkan saham BUMI juga masuk dalam Saham teraktif ditransaksikan berdasar nilai perdagangan dengan melompat 2,68 persen di Rp153. Dan saham DEWA melambung 0,86 persen dengan menutup di Rp117.

Rupiah Terangkat Rebound Global

Performa sedikit berbeda ditorehkan nilai tukar Rupiah di pasar uang. Setelah gagal bertahan dari tekanan jual pada sepanjang sesi pekan lalu, Rupiah mencoba melawan pada pembukaan pekan ini. Meski kisaran penguatan yang dicetak masih dalam rentang moderat, kinerja Rupiah terbilang lumayan ketimbang sejumlah mata uang Asia lainnya.

Pantauan hingga sesi perdagangan sore ini menunjukkan, Rupiah yang bertengger di kisaran Rp.15.845 per Dolar AS atau menguat tipis 0,03 persen. Sementara kinerja mata uang Asia terlihat bervariasi dan konsisten dalam rentang terbatas. Yuan China, Ringgit Malaysia, Baht Thailand serta Dolar Singapura masih bergulat di zona merah. Sedangkan Peso Filipina bersama Dolar Hong Kong dan Rupee India mampu menjejak zona penguatan.

Gerak bervariasi mata uang Asia kali ini terjadi di tengah upaya rebound teknikal yang dilakukan seluruh mata uang utama dunia. Nilai tukar Euro, Poundsterling, Dolar Australia dan Dolar Kanada terpantau mencoba berbalik sedikit menguat usai runtuh curam pada sesi perdagangan penutupan pekan lalu.

Sentimen dari rilis data perekonomian terkini AS akhir pekan lalu terkait penjualan ritel dan ditambah pernyataan pimpinan The Fed, Jerome Powell yang menyatakan tidak perlu terburu-buru dalam melakukan penurunan suku bunga lanjutan menjadi dalih pelaku pasar menghajar mata uang utama dunia.

Rebound teknikal dalam rentang terbatas pada mata uang utama dunia, kemudian mencoba dimaksimalkan sejumlah mata uang Asia untuk menjejak zona hijau. Terlebih pada Rupiah, yang telah mengalami pelemahan secara konsisten dalam beberapa pekan sesi perdagangan terakhir.

Tiadanya sentimen domestik membuat Rupiah semakin mengandalkan sentimen global. Namun situasi di pasar global terlihat masih jauh dari bersahabat hingga memaksa Rupiah hanya mengalami penguatan dalam rentang moderat untuk sekaligus merealisasikan potensi teknikal.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

UPDATE

Setahun BPI Danantara Berdiri Justru Tambah Masalah

Rabu, 04 Maret 2026 | 00:07

Jangan Giring Struktural Polri ke Ranah Politik Praktis

Selasa, 03 Maret 2026 | 23:53

2 Kapal Tanker Pertamina dan Awaknya di Selat Hormuz Dipastikan Aman

Selasa, 03 Maret 2026 | 23:35

KPK Amankan BBE dan Mobil dari OTT Bupati Pekalongan Fadia Arafiq

Selasa, 03 Maret 2026 | 23:30

Mutasi AKBP Didik ke Yanma untuk Administrasi Pemecatan

Selasa, 03 Maret 2026 | 23:09

SiCepat Ekspansi ke Segmen B2B, Retail, hingga Internasional

Selasa, 03 Maret 2026 | 23:07

GoTo Naikkan BHR Ojol, Cair Mulai Besok!

Selasa, 03 Maret 2026 | 23:01

Senator Dayat El: Pembangunan Indonesia Tak Boleh Tinggalkan Desa

Selasa, 03 Maret 2026 | 22:46

Kenapa Harus Ayatollah Khamenei?

Selasa, 03 Maret 2026 | 22:38

Naik Bus Pariwisata, 11 Orang Terjaring OTT Pekalongan Tiba di KPK

Selasa, 03 Maret 2026 | 22:13

Selengkapnya