Berita

Presiden Prabowo Subianto/Repro

Publika

Siapa Musuh Swasembada Energi Prabowo?

KAMIS, 31 OKTOBER 2024 | 15:37 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

MENCENGANGKAN, gagasan Presiden Prabowo untuk swasembada energi. Swasembada berarti memenuhi kebutuhan energi nasional dengan kemampuan Indonesia sendiri. Tidak terbayangkan bagaimana berat masalahnya dan betapa banyak musuhnya pemerintah untuk dapat mencapai tujuan ini.

Mari kita lihat masalahnya yang paling berat adalah impor energi, yakni impor bahan bakar minyak yang sudah berada pada level ketergantungan yang sangat besar. Keadaan paling parah justru terjadi dalam satu dekade terakhir.

Menurut data BPS 10 komoditas impor terbesar Indonesia, 3 barang impor paling besar adalah impor bahan bakar Refined Petroleum: 23,2 miliar Dolar AS, Crude Petroleum: 10,1 miliar Dolar AS dan Petroleum Gas: 4,92 miliar Dolar AS.


Nilai ketiga barang impor ini mencapai 38-40 miliar Dolar atau mencapai Rp620-650 triliun sangat tergantung pada harganya dan nilai tukar.

Impor 3 bahan bakar minyak dan gas tersebut mencakup 61 persen dari seluruh 10 besar impor barang terbesar Indonesia. Adapun barang impor terbesar lainnya adalah motor vehicles and parts 4,19 miliar Dolar AS, broadcasting equipment 4,01 miliar Dolar AS, machinery including computers 3,9 miliar Dolar AS, electrical machinery and equipment 3,5 miliar Dolar AS, iron and steel 3,2 miliar Dolar AS, plastics and plastic articles 2,9 miliar Dolar AS dan organic chemicals 2,5 miliar Dolar AS.

Ketujuh barang ini  bernilai 24,2 miliar Dolar AS.  

Jadi walaupun secara kasat mata di jalan-jalan, di kantor-kantor, di dalam rumah penduduk, di badan-badan orang, banyak sekali kita lihat barang impor dari Tiongkok, Amerika, Eropa dan dari berbagai negara lainnya.

Namun semua impor itu belum menyamai hebatnya impor bahan bakar minyak yang sebagian besar hanya datang dari dua negara saja.

Sehingga untuk mencapai swasembada energi, maka Presiden Prabowo akan menggantikan semua impor minyak itu dengan hasil minyak dalam negeri.

Akan tetapi, hal itu peluangnya kecil sekali jika melihat produksi minyak nasional dalam 3 dekade terakhir menurun secara konsisten, terus menerus dan mencapai titik terendah sehingga membawa Indonesia sebagai net importir minyak saat ini.

Menghentikan impor minyak akan membawa konsekuensi kepada para pemain minyak yang telah membangun infrastruktur mereka yang siap digunakan untuk mendukung impor minyak itu sendiri.

Seperti misalnya kilang-kilang minyak Indonesia yang dibangun untuk menyerap crude oil impor, kapal-kapal tanker yang dibeli dalam jumlah banyak untuk mendukung importasi minyak, infrastruktur pendukung minyak dalam negeri yang dibangun untuk melahap minyak impor.

Jika meningkatkan produksi minyak bumi Indonesia sudah tidak mungkin karena masalah dan penyakitnya sudah sangat kronis, maka Presiden Prabowo punya satu peluang dalam mencapai swasembada energi, yakni dengan minyak nabati, bio energi, yang sumber bahan bakunya cukup melimpah di Indonesia.

Namun seberapa kuat menghadapi para pedagang minyak impor beserta para pendukungnya, yakni sektor keuangan yang menopang mereka, hingga perdagangan otomotif serta peralatan industri pendukung minyak keberlanjutan energi fosil?

Itu akan menjadi pertarungan yang sangat hebat. Welcome To The Jungle!

Penulis adalah Direktur Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI)

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Seriuskah Kemdiktisaintek Menjaga Mutu Pendidikan Tinggi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:22

Anggota Dewan Etik Golkar Diduga Terlibat Dugaan Penipuan Miliaran

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:11

Membangun Kemandirian Energi Desa Melalui Penguatan Kapasitas Local Hero

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:05

Pertamina Perkuat Kemitraan Strategis Lewat SRM Summit 2026

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:31

Kerja Sama KSPSI-UT Perluas Kesempatan Pekerja Raih Pendidikan Tinggi

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:17

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PTPN IV PalmCo Fasilitasi APRC 2026, Perputaran Ekonomi Masyarakat Meningkat

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:58

Isu Wamenhan Baru Jangan Terjebak Kepentingan Bisnis dan Korporasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:55

Paroki Kraksaan Menanti Kejelasan

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:32

Pramono-Erick Thohir Godok Persiapan FIFA ASEAN Cup di Jakarta

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:24

Selengkapnya