Berita

Donald Trump/Net

Bisnis

Jika Trump Unggul di Pemilu AS, Ini Langkah Ekonomi yang Disiapkan China

Laporan: Sarah Alifia Suryadi
RABU, 30 OKTOBER 2024 | 14:18 WIB

China tengah mempertimbangkan penerbitan utang baru senilai lebih dari 10 triliun Yuan (sekitar 1,4 triliun Dolar AS) dalam beberapa tahun mendatang untuk menstabilkan ekonominya. 

Sumber dari Reuters pada Selasa, 29 Oktober 2024, menyatakan paket fiskal ini kemungkinan akan diperbesar jika Donald Trump memenangkan pemilihan presiden AS mendatang.

Donald Trump dari Partai Republik mengatakan akan meningkatkan tarif dan berbagai kebijakan lainnya untuk melawan teknologi canggih asal China.


Apabila Trump memenangkan pemilihan presiden (Pilpres) 2024, bukan tak mungkin akan ada pertarungan untuk menjaga teknologi AS agar tidak dimanfaatkan militer China.

"Kami melihat akan ada babak baru perang teknologi AS dan China yang fokus pada data, software, dan perangkat terkoneksi," kata Peter Harrell, mantan pejabat keamanan nasional pada pemerintahan Biden, dikutip Rabu, 30 Oktober 2024.

Bahkan, pada September 2024, AS sempat mengajukan aturan untuk melarang mobil listrik yang dibuat dengan komponen dari China untuk beredar di jalanan AS.

"Ada banyak kekhawatiran jika perusahaan China bisa mengakses dan menyediakan update ke perangkat- perangkat yang ada di AS," kata Harrell.

Sementara itu, Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional (NPC), yang merupakan badan legislatif tertinggi di China, sedang mempertimbangkan untuk menyetujui paket fiskal baru sebesar 6 triliun yuan, yang sebagian besar akan diperoleh melalui penerbitan obligasi khusus pemerintah. Paket ini bertujuan untuk membantu pemerintah daerah dalam mengatasi risiko utang tersembunyi.

Jumlah total dana yang akan diperoleh melalui obligasi ini setara dengan lebih dari 8 persen dari PDB China, yang saat ini sedang menghadapi tekanan akibat krisis sektor properti serta tingginya utang pemerintah daerah. 

Rencana ini menunjukkan bahwa China kini beralih ke langkah-langkah stimulus yang lebih kuat untuk mendorong ekonominya, meskipun nilainya masih belum sebesar stimulus tahun 2008, seperti yang diharapkan beberapa investor. 
Bank sentral China, The People’s Bank of China (PBOC), pada akhir September 2024 juga mengumumkan langkah dukungan moneter yang paling agresif sejak pandemi Covid-19.
Selain itu, sebagai bagian dari paket fiskal yang sedang direncanakan, NPC diperkirakan akan menyetujui penerbitan obligasi khusus senilai hingga 4 triliun yuan untuk membeli tanah dan properti yang belum digunakan selama lima tahun ke depan. Pemerintah daerah akan diizinkan untuk menambah jumlah tersebut di luar kuota tahunan yang biasanya digunakan untuk belanja infrastruktur.

Langkah ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam mengelola pasokan lahan, serta membantu mengurangi tekanan likuiditas dan utang di kalangan pemerintah daerah serta pengembang properti. 

Jika seluruh paket disetujui, total stimulus ini bisa mencapai lebih dari 10 triliun yuan, yang mencerminkan keseriusan China dalam mendorong perekonomian.

Pada akhir tahun 2023, China juga telah menerbitkan obligasi negara senilai 1 triliun yuan untuk mendukung pembangunan infrastruktur pencegahan banjir dan mencapai target pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen. Namun, jumlah belanja fiskal yang direncanakan ini masih jauh lebih kecil dari stimulus 2008, yang saat itu mencapai 13 persen dari PDB China.


Penulis adalah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang sedang magang di RMOL.id


Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya