Berita

Ilustrasi Foto/Net

Nusantara

Pemuda Pesisir Rentan Terhadap Dampak Perubahan Iklim

SELASA, 29 OKTOBER 2024 | 04:01 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Semangat Sumpah Pemuda yang dideklarasikan pada 96 tahun silam, merupakan pekikan pemuda tentang semangat dan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Kini Indonesia sudah merdeka. Meski demikian menurut Ketua Umum Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI), Hendra Wiguna, di wilayah pesisir kondisinya masih memprihatinkan.

Persoalan lingkungan dan ekonomi-sosial utamanya masih menjadi momok bagi belum sejahteranya masyarakat pesisir.


“Pemuda pesisir umumnya berkeinginan untuk melakukan perubahan akan persoalan hal tersebut, namun banyak aral melintang. Mulai dari keberpihakan lingkungan dari pemerintah yang perlu dipertanyakan, akses pendidikan dan peningkatan keterampilan yang masih minim terutama bagi pemuda yang tinggal di pulau kecil,” jelas Hendra dalam keterangan tertulis, Senin malam, 28 Oktober 2024.

Lanjut dia, saat ini resiko melaut semakin tinggi, begitupun sesampainya mereka di darat hasil tangkapan mereka belum tentu terserap atau dihargai dengan baik. Tentu hal ini menjadikan pemuda pesisir harus berpikir ribuan kali untuk menjadi seorang nelayan.

“Sebagai negara kepulauan kita memang memiliki kerentanan yang sangat tinggi terhadap dampak perubahan iklim, tidak hanya meningkatkan risiko bekerja di laut, hal ini juga mengancam tempat tinggal masyarakat pesisir,” ungkapnya.

Berdasarkan kajian Bappenas (2021), nilai potensial ekonomi rentang tahun 2020–2024 yang hilang akibat perubahan iklim dari sektor pesisir dan laut rerata mencapai Rp81,53 triliun yang menjadikan sektor ini paling terdampak akibat perubahan iklim dengan pesisir Pulau Jawa dan Sulawesi yang paling berpotensi tinggi.

Apabila tidak segera diantisipasi tentu akan terus menerus menjadi kendala bagi kemajuan masyarakat pesisir, sekaligus ancaman bagi masa depan pemuda pesisir. Menurut Hendra, sebaiknya pemerintah bersama masyarakat pesisir duduk bersama merumuskan agenda mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim.

“Bagi KPPMPI, penting masyarakat dibekali kemampuan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim, sehingga masyarakat pesisir memiliki ketahanan iklim yang baik,” tegasnya.

Agenda pendampingan yang komprehensif dan holistik juga penting, kata Hendra, pemuda pesisir harus dibekali dengan keterampilan sehingga mampu menambah nilai produk hasil perikanan dan mengoptimalkan potensi sumber daya dengan tetap mengedepankan keberlanjutan.

“Kita harus memiliki peta jalan dan kontriksi kebijakan yang baik dalam menyikapi dampak perubahan iklim, tentunya regulasi harus sejalan dengan implementasi. Oleh karena itu, perlu ada leader penting di pemerintahan sekarang yang fokus mengurusi dampak perubahan iklim sepertinya halnya soal pangan,” terang Hendra

Perlu juga terbangun komunikasi yang baik, antara pemerintah pusat dengan daerah kaitanya dengan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Sehingga akan memudahkan perencanaan dan implementasinya, kemudian keterlibatan masyarakat pesisir juga jangan sampai terlewatkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kebijakan.

“Keterlibatan masyarakat pesisir, akan menghadirkan kebijakan yang sesuai. Dengan demikian masyarakat pesisir akan memiliki ketahanan iklim yang lebih baik, sehingga akan mempermudah mewujudkan Indonesia maju dan emas 20245,” pungkasnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

Ngobrol Serius Bareng Macron

Rabu, 15 April 2026 | 01:59

Diplomasi Konstruktif Diperlukan Buat Akhiri Perang di Selat Hormuz

Rabu, 15 April 2026 | 01:41

BGN Bantah Hapus Pemberian Susu dalam Program MBG

Rabu, 15 April 2026 | 01:13

Pujian Habiburokhman ke Polri soal Transparansi Sesuai Realitas

Rabu, 15 April 2026 | 00:58

Prabowo Disambut Pasukan Kehormatan saat Temui Macron di Istana Élysée

Rabu, 15 April 2026 | 00:35

Taman Sunyi: Sebuah Pembelaan atas Rumah-Rumah Fantasi

Rabu, 15 April 2026 | 00:06

Maruli Tuntut Yayasan Tanggung Biaya Perawatan Head Chef SPPG

Selasa, 14 April 2026 | 23:55

DPR Sambut Baik MDCP: Bisa Buka Kerja Sama Lain

Selasa, 14 April 2026 | 23:37

AFPI Buka Suara Usai Didenda KPPU: Kami Hanya Melindungi Konsumen

Selasa, 14 April 2026 | 23:12

Denda Rp755 Miliar ke Perusahaan Pinjol Menguak Borok Regulasi

Selasa, 14 April 2026 | 22:48

Selengkapnya