Berita

Presiden Prabowo Subianto mengumumkan komposisi Kabinet Merah Putih (Foto: Setneg.go.id)

Bisnis

Kabinet Prabowo Ampuh, IHSG Jawara Asia

SELASA, 22 OKTOBER 2024 | 19:41 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Upaya pelaku pasar di Jakarta untuk mengapresiasi pemerintahan baru di bawah komando Presiden Prabowo Subianto masih bertaring. Hal ini terlihat dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang akhirnya mampu menjejak zona positif meski dalam rentang moderat. Laporan sebelumnya menyebutkan, kinerja IHSG yang konsisten menapak zona pelemahan terbatas di sepanjang sesi pagi hari kedua pekan ini, Selasa 22 Oktober 2024.

Namun sekitar pertengahan sesi perdagangan sore berlangsung, IHSG mulai mampu menjamah zona hijau. Secara keseluruhan gerak IHSG cenderung terjebak di rentang sempit pada sepanjang sesi hari ini. IHSG kemudian menutup sesi dengan menguat 0,21 persen untuk singgah di 7.788,98.

Sekalipun gerak naik yang dibukukan tergolong moderat, kinerja IHSG terlihat menonjol dan gemilang di tengah suramnya bursa saham Asia. Sejumlah saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan, tercatat mulai mampu bangkit dengan mencetak kenaikan yang bervariasi, seperti: BBNI, ASII, UNTR, INDF, serta LSIP. Sedangkan saham unggulan lain masih terperosok merah, seperti: BBRI, TLKM, BMRI, BBCA, ADRO, SMGR dan ISAT.


Laporan lebih jauh dari jalannya sesi perdagangan juga memperlihatkan, gerak naik yang cukup mencolok yang terjadi pada 4 saham dalam kelompok konglomerasi Aburizal Bakrie. Saham DEWA bahkan telah menembus level psikologis pentingnya di Rp100 setelah melompat 13,54 persen untuk menutup di Rp109. Kemudian saham BRMS melompat curam 9,88 persen di Rp378, dan saham BUMI menanjak 2,17 persen di Rp141, serta Saham ENRG yang melambung 6,66 persen di Rp256.

Untuk dicatat, empat saham dari kelompok Bakrie tersebut  juga masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan berdasar volume. Pola gerak naik yang menonjol dari sejumlah saham kelompok Bakrie tercatat telah terjadi beberapa kali dalam beberapa pekan sesi perdagangan terakhir.

Sementara laporan dari jalannya sesi perdagangan di Asia menunjukkan kinerja buram yang masih bertahan. Hampir seluruh Indeks di Bursa utama Asia jatuh dalam koreksi curam. Indeks Nikkei (Jepang) merosot tajam 1,39 persen dengan berakhir di 38.411,96, sementara indeks ASX200 (Australia) terpangkas 1,66 persen di 8.205,7, dan indeks KOSPI (Korea Selatan) tersungkur 1,31 persen di 2.570,7.

Tidak ada sentimen regional yang menonjol dalam sesi perdagangan kali ini. Kemerosotan Indeks di Asia terlihat lebih dilatari oleh keraguan yang telah mendera Wall Street dalam sesi perdagangan sebelumnya. Sementara laporan lain datang dari India, di mana perusahaan pabrikan otomotif terkemuka Dunia asal Korea Selatan, Hyundai Motor India yang menggelar penjualan saham perdana atau IPO terbesar sepanjang sejarah Bursa saham India senilai Rp50 triliun.

Namun sayangnya, di tengah kesuraman yang sedang membelit sentimen di Asia membuat gelaran IPO tersebut justru berjalan tragis. Harga saham Hyundai dilaporkan langsung rontok hingga 6 persen. Sejumlah analis menyatakan, harga IPO saham Hyundai yang terbilang mahal, namun sejumlah kalangan lain masih optimis bahwa saham Hyundai mampu bangkit hingga melonjak sekitar 20 persen dari harga IPO.

Rupiah Belum Cerah

Tak seperti kinerja IHSG yang mampu beralih menjejak zona hijau, kinerja nilai tukar Rupiah justru masih kesulitan di sepanjang sesi hari ini. Kesuraman yang kukuh mencengkeram mata uang utama dunia menyulitkan Rupiah untuk mengikuti jejak IHSG.

Pantauan RMOL menunjukkan, gerak mata uang utama dunia yang mulai mencoba berbalik menguat di sesi perdagangan sore ini di Asia. Namun kisaran penguatan yang dibukukan masih terlalu sempit. Keraguan investor terkesan masih membayang terkait dengan prospek berlanjut nya penurunan suku bunga oleh The Fed.

Situasi tersebut akhirnya menyulitkan Rupiah untuk bangkit di tengah tiadanya suntikan sentimen domestik dari rilis data perekonomian terkini. Hingga ulasan ini disunting, Rupiah tercatat diperdagangkan di kisaran Rp15.555 per Dolar AS atau melemah 0,43 persen.

Sementara laporan dari pasar Asia memperlihatkan, kinerja yang tak jauh berbeda dengan hampir seluruh mata uang Asia tersaruk dalam zona merah. Mata uang Asia kini tercatat hanya menyisakan Rupee India dan Dolar Singapura yang mencoba bertahan di zona penguatan sempit namun rentan untuk beralih ke zona pelemahan.

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

UPDATE

KAI Gelar Diskon Tiket Kereta 20 Persen, Cek Syarat dan Ketentuannya

Kamis, 26 Maret 2026 | 22:00

Anwar Ibrahim Lega Kapal Malaysia Bisa Lewat Selat Hormuz

Kamis, 26 Maret 2026 | 21:58

Jadwal FIFA Series 2026 Timnas Indonesia Lawan Saint Kitts dan Nevis

Kamis, 26 Maret 2026 | 21:49

Langkah Mundur Letjen Yudi Abrimantyo Sesuai Prinsip Intelijen

Kamis, 26 Maret 2026 | 21:31

Cara Mencairkan JHT BPJS Ketenagakerjaan

Kamis, 26 Maret 2026 | 21:15

Inggris Cegat Kapal Bayangan Rusia, Tuding Putin Raup Untung Minyak dari Perang

Kamis, 26 Maret 2026 | 21:13

Prabowo Blusukan ke Bantaran Rel Senen, Janjikan Hunian Layak untuk Warga

Kamis, 26 Maret 2026 | 21:06

Prabowo Harus Berhati-hati dengan Pernyataan Ngawur Bahlil

Kamis, 26 Maret 2026 | 21:01

Fatamorgana Ekonomi Nasional

Kamis, 26 Maret 2026 | 20:34

“Aku Harus Mati”: Horor tentang Ambisi dan Harga Sebuah Validasi

Kamis, 26 Maret 2026 | 20:20

Selengkapnya