Berita

Direktur Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng/Ist

Publika

Pembekalan Geopolitik, Langkah Progresif Revolusioner Membangun Kabinet KIM

JUMAT, 18 OKTOBER 2024 | 19:41 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

MATERI pertama dalam pembekalan calon anggota kabinet Koalisi Indonesia Maju (KIM) adalah diberikannya materi geopolitik. Ini baru, di luar mainstream dan perubahan besar.

Ini adalah kejutan yang luar biasa, tentu akan menjadi perbincangan di internasional dan di dalam negeri bahwa pemerintahan ke depan akan berdiri di atas pijakan yang berbeda.

Pemerintahan Prabowo-Gibran telah memberikan suntikan cairan ke dalam kepala anggota kabinetnya, yang akan mengubah secara total cara pandang dalam melihat keadaan dan memecahkan persoalan secara mendasar.


Metode berpikir dan alat analisis yang mungkin tidak pernah diterima di bangku kuliah oleh para menteri dan tidak pernah menjadi bahan kajian dalam rapat di pemerintahan atau tidak pernah dijadikan sebagai materi penting dalam menyusun perencanaan pembangunan di eksekutif dan legislatif selama ini.

Tapi sekarang harus menjadi formula atau rumus yang wajib digunakan oleh para menteri dalam mengambil keputusan.

Geopolitik adalah pisau analisis, cara pandang dalam melihat persoalan yang membedakan dirinya dengan cara pandang mainstream globalisasi, neoliberalisme, pasar bebas yang selama ini lazim digunakan di Indonesia.

Geopolitik melihat bagaimana aktor-aktor ekonomi internasional bermain, bagaimana mereka membentuk cara pandang agar sejalan dengan kepentingannya, bagaimana mereka mengubah UU atau regulasi untuk mengoptimalkan keuntungan, bagaimana memperalat pemerintahan agar dapat aliran belanja APBN suatu negara dan seterusnya.

Studi geopolitik paling relevan saat ini adalah studi tentang Indonesia pasca reformasi yang merupakan succes story aktor internasional dalam mempertahankan dominasinya dalam rangka eksploitasi ekonomi Indonesia.

Ringkasnya pembekalan geopolitik akan membuat para menteri paham dalam membuat kebijakan yang  menghasilkan keputusan  yang mengutamakan, mementingkan  kepentingan nasional atau kepentingan bangsa dan negara diatas semua kepentingan internasional.

Selama ini aspek geopolitik tidak dipandang penting dalam pengelolaan negara, pemerintahan dan perusahaan. Bahkan dalam satu diskusi dengan pejabat BUMN, mereka menyatakan bahwa dilarang membuat keputusan keuangan atau manajemen di atas dengan analisis geopolitik.

Tidak ada atau jarang aspek geopolitik menjadi landasan dalam membuat regulasi di DPR.

Walaupun kenyataannya bahwa banyak masalah yang dialami belakangan ini gagal diatasi karena salah pisau analisisnya. Contoh yang paling besar adalah pandemi Covid-19 atau contoh lainnya adalah mengapa kilang Tuban gagal dibangun?

Atau, mengapa harus menutup pembangkit batu bara yang masih produktif? Atau mengapa harus mengakhiri energi fosil? Atau mengapa tax amnesty kurang berhasil?

Semua akan terang-benderang jika dikaji dengan pisau analisis geopolitik.

Pisau analisis geopolitik akan membuat kabinet pemerintahan Prabowo-Gibran cemerlang, terang-benderang dalam setiap keputusannya, tidak akan abu-abu atau samar-samar, pemihakan pada bangsa, negara dan rakyat akan terlihat kasat mata oleh awam.

Lebih hebat lagi kabinet ini akan tahu persis siapa musuh ideologinya, yakni neokolonialisme dan imperialisme atau nekolim. Darah mereka berani. Mereka progresif dan revolusioner. Itulah misi pembekalan dengan materi utama geopolitik.

Penulis adalah Direktur Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI)

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Mantan Menpora Dito Ariotedjo Hadir Bersama Habib Jindan di Safari Sholawat Lombok

Senin, 12 Oktober 2026 | 22:08

PLN Siapkan Integrasi EBT PLTP Wayang Windu Unit 3 ke Sistem Kelistrikan Jabar

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:54

Gaduh Dugaan Aturan Selundupan, Doli Sentil Hasyim: Jabatan Komisaris Hadiah dari Siapa?

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:44

Sertijab Menlu, Arrmanatha Tegaskan Arah Polugri Indonesia Tidak Berubah

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:28

Kades Ciangsana Bakal Mediasi Polemik Bangunan 480 Meter Persegi di Coatesville

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:07

Bank Jakarta dan PAM Jaya akan Melantai di Bursa, Ini Respons Senator Fahira

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:37

Berat Langkah IHSG Kembali ke 9.000, Saham Konglo Tak Akan Bangkit?

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:28

Danantara Diandalkan Pacu Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:22

AMDK dan Komoditas Mamin Harus Dikecualikan dalam Pelarangan Truk Sumbu 3

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:21

Komisi II Buka Peluang RDP Bahas Putusan MK pada Gibran

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:02

Selengkapnya