Berita

Ilustrasi (Foto: Orbitshub.com)

Bisnis

Ekspor Jepang Lembek, IHSG Tembus 7.700

KAMIS, 17 OKTOBER 2024 | 14:13 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Berhasilnya kembali bursa Wall Street mencetak rekor tertinggi barunya, tidak menjamin kinerja sempurna di Asia. Sebagaimana dimuat dalam sejumlah laporan, indeks Wall Street yang kembali mencetak rekor barunya dalam sesi perdagangan pertengahan pekan ini. Pelaku pasar di AS terlihat beralih optimis menyusul serangkaian perkembangan terkini, terutama dari rilis kinerja kuartalan sejumlah emiten.

Aksi akumulasi berlangsung hingga memaksa Indeks kembali melonjak untuk meninju rekor barunya. Indeks DJIA melonjak 0,79 persen dengan menutup di 43.077,7 yang merupakan titik terkuatnya sepanjang sejarah. Lonjakan juga mendera Indeks S&P500 yang melompat 0,47 persen di 5.842,47, dan indeks Nasdaq yang menanjak 0,28 persen di 18.367,08+. Laporan menyebutkan, kinerja saham-saham teknologi yang masih memantik kekhawatiran investor, namun tertepis oleh aksi akumulasi saham sektor keuangan dan travelling.

Situasi secara keseluruhan akhirnya masih optimis, dan sikap optimis tersebut kemudian mencoba menjalar hingga sesi perdagangan Asia hari ini, Kamis 17 Oktober 2024. Namun kinerja Indeks di bursa utama Asia terlihat masih harus mempertimbangkan sentimen domestik untuk mampu mengikuti optimisme di Wall Street.


Pantauan menunjukkan, Indeks Nikkei (Jepang) yang justru runtuh signifikan 0,61 persen di 38.940,66. Pelaku pasar di Tokyo berbalik pesimis menyusul rilis kinerja ekspor impor negeri Matahari Terbit itu yang di bawah ekspektasi investor. Lebih jauh disebutkan, kinerja ekspor pada September lalu yang turun 1,7 persen, sementara impor hanya tumbuh 2,1 persen. Sementara ekspektasi pasar memperkirakan ekspor yang tumbuh 0,5 persen dan impor tumbuh 3,2 persen. Kinerja suram tersebut kemudian menghadirkan tekanan jual hingga menghajar Indeks Nikkei di zona merah.

Sementara pada bursa saham Australia, indeks ASX200 melonjak tajam menyusul rilis data ketenaga kerjaan terkini yang lebih baik dari ekspektasi pasar. Tingkat pengangguran untuk September lalu di negeri Kanguru itu dilaporkan sebesar 4,1 persen atau di bawah ekspektasi pasar yang sebesar 4,2 persen. Aksi akumulasi akhirnya mengerek Indeks ASX200 hingga 0,67 persen di 8.340,4. Kinerja merah dibukukan indeks KOSPI (Korea Selatan) yang menurun moderat 0,15 persen di 2.606,47.

Sentimen regional secara keseluruhan terlihat masih cenderung optimis, dan optimisme ini kemudian menjadi bekal bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta. Pantauan menunjukkan, gerak IHSG yang konsisten menapak di zona positif di sepanjang sesi perdagangan pagi ini. IHSG kemudian mengakhiri sesi pagi  naik tajam  0,99 persen di 7.724,88.

Tiadanya sentimen domestik yang mewarnai sesi perdagangan kali ini membuat pelaku pasar dengan mudah mengikuti kecenderungan di bursa regional. Laporan lebih jauh menunjukkan, kinerja saham unggulan yang solid di zona hijau sebagai cermin dari meyakinkan nya optimisme pelaku pasar di Jakarta.

Sejumlah sangat besar saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan kembali mencetak kenaikan, seperti: BBRI, BBCA, TLKM, BMRI, SMGR, BBNI, ADRO,  UNTR, ICBP, dan INTP. Sedangkan sejumlah kecil saham unggulan lainnya masih bergulat dalam zona merah, seperti: ASII, ISAT, PGAS, JPFA dan UNVR.

Rupiah Bertaruh ECB

Kinerja  berbeda  terjadi pada nilai tukar Rupiah. Laporan menunjukkan, kinerja Rupiah yang masih konsisten menapak di rentang gerak terbatas pada sepanjang sesi pagi ini. Terlebih pasca penguatan yang berhasil dibukukan pada sesi perdagangan kemarin, Rupiah sangat berisiko mengalami koreksi teknikal.

Gerak di rentang terbatas justru menunjukkan upaya pelaku pasar untuk bertahan optimis di tengah kepungan sentimen.pasar global yang cenderung melemah. Pelaku pasar kini menantikan arahan dari keputusan Bank Sentral Eropa, ECB menyangkut besaran suku bunga.

Rupiah oleh karenanya turut terseret dalam pertaruhan keputusan ECB, dan gerak di rentang terbatas pagi ini adalah opsi yang paling aman. Sementara pantauan pada pasar Asia menunjukkan, gerak kompak di zona pelemahan tipis. Mata uang Ringgit Malaysia terpantau mengalami pelemahan tertajam di Asia dengan merosot lebih dari 0,4 persen.

Hingga ulasan ini disunting, Rupiah masih diperdagangkan di kisaran Rp15.514 setelah melemah sangat tipis 0,06 persen. Keputusan ECB yang diekspektasikan mempertahankan suku bunga diperkirakan akan mampu mengikis koreksi Rupiah untuk sekaligus beralih ke zona penguatan.

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

UPDATE

KAI Gelar Diskon Tiket Kereta 20 Persen, Cek Syarat dan Ketentuannya

Kamis, 26 Maret 2026 | 22:00

Anwar Ibrahim Lega Kapal Malaysia Bisa Lewat Selat Hormuz

Kamis, 26 Maret 2026 | 21:58

Jadwal FIFA Series 2026 Timnas Indonesia Lawan Saint Kitts dan Nevis

Kamis, 26 Maret 2026 | 21:49

Langkah Mundur Letjen Yudi Abrimantyo Sesuai Prinsip Intelijen

Kamis, 26 Maret 2026 | 21:31

Cara Mencairkan JHT BPJS Ketenagakerjaan

Kamis, 26 Maret 2026 | 21:15

Inggris Cegat Kapal Bayangan Rusia, Tuding Putin Raup Untung Minyak dari Perang

Kamis, 26 Maret 2026 | 21:13

Prabowo Blusukan ke Bantaran Rel Senen, Janjikan Hunian Layak untuk Warga

Kamis, 26 Maret 2026 | 21:06

Prabowo Harus Berhati-hati dengan Pernyataan Ngawur Bahlil

Kamis, 26 Maret 2026 | 21:01

Fatamorgana Ekonomi Nasional

Kamis, 26 Maret 2026 | 20:34

“Aku Harus Mati”: Horor tentang Ambisi dan Harga Sebuah Validasi

Kamis, 26 Maret 2026 | 20:20

Selengkapnya