Berita

Menkeu China, Lan Fo'an (Foto: bloomberg.com)

Bisnis

Stimulus China Belum Jelas, IHSG Naik 0,52 Persen

SENIN, 14 OKTOBER 2024 | 12:47 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Usai mampu beralih menjejak zona penguatan dalam menutup sesi perdagangan pekan lalu, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah kembali terjebak di rentang terbatas dalam membuka sesi pekan ini, Senin 14 Oktober 2024. Sementara kinerja bursa saham utama Asia cenderung kompak menginjak zona hijau dengan memaksimalkan sentimen dari China, IHSG mencoba melakukan lonjakan tajam.

Serangkaian laporan yang beredar sebelumnya menyebutkan, pemerintahan Beijing pada akhir pekan lalu yang mengumumkan rencana stimulus guna membangkitkan perekonomian terbesar Asia itu. Menteri keuangan China Lan Fo'an menyatakan, pemerintahan Xi Jinping yang memiliki ruang untuk meningkatkan besaran defisit. Pernyataan yang dirilis dalam sebuah konferensi pers yang sangat ditunggu itu lebih jauh mengungkap niatan untuk membangkitkan sektor properti.

Namun demikian, Menkeu China itu masih juga belum mengungkap rincian stimulus yang sedang sangat ditunggu investor. Sementara pada sisi lain, otoritas China yang merilis data inflasi September lalu yang sebesar 0,4 persen dan indeks harga grosir yang turun 2,8 persen. Rilis data tersebut semakin memantik kekhawatiran investor pada lemahnya permintaan China.


Pernyataan menkeu China seakan hendak meredakan kekhawatiran tersebut. Namun kalangan pelaku pasar gagal mendapatkan kepastian dan kejelasan rincian langkah stimulus pemerintahan Xi Jinping. Hingga kini, sejumlah kalangan investor yang memperkirakan besaran stimulus China yang sangat besar hingga lebih dari Rp21.000 triliun guna menghentikan kesuraman perekonomian terbesar kedua dunia itu.

Rangkaian situasi tersebut akhirnya menghantarkan sikap optimis yang berhati-hati di sesi perdagangan Asia pagi ini. Hingga menjelang berakhirnya sesi pagi di Jakarta, indeks KOSPI (Korea Selatan) mampu menanjak tajam 0,95 persen dengan berada di 2.621,46, sedangkan indeks ASX200 (Australia) naik 0,47 persen di 8.253,1. Bursa saham Jepang dilaporkan libur di awal pekan ini.

Optimisme terbatas di sesi Asia tersebut kemudian berimbas pada sesi perdagangan di Jakarta. Pelaku pasar di Jakarta terkesan mencoba mengikuti optimisme yang belum terlalu meyakinkan di Asia. Gerak IHSG akhirnya konsisten berada di rentang moderat di sepanjang sesi pagi. IHSG kemudian menutup sesi pagi dengan menguat 0,52 persen di 7.559,85. Ketiadaan agenda rilis data perekonomian domestik menjadikan IHSG sangat bergantung pada arahan sentimen di Bursa regional.

Pantauan lebih jauh menunjukkan, kinerja sejlah saham unggulan yang bervariasi. Sejumlah saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan mampu bertahan di zona hijau, seperti: BBRI, ADRO, PTBA, JPFA, PGAS, BBCA dan BBNI. Sedangkan sejumlah saham unggulan lain tercatat masih kesulitan untuk keluar dari zona merah, seperti: TLKM, ASII, UNTR, BMRI dan SMGR.

Rupiah Kesulitan Bangkit

Pola tak jauh berbeda terjadi pada nilai tukar Rupiah. Pantauan menunjukkan, Rupiah yang konsisten menapak di rentang terbatas hingga siang ini. Kecenderungan pelemahan mata uang utama dunia menyulitkan Rupiah untuk bangkit dan mencetak penguatan tajam.

Pantauan RMOL sebelumnya memperlihatkan, nilai tukar mata uang utama dunia yang kembali merosot dalam menutup sesi pekan lalu. Nilai tukar Euro Poundsterling dan Dolar Australia semakin suram menjejak zona pelemahan. Ketiga mata uang utama dunia tersebut kini telah semakin menembus ke bawah level psikologis nya masing-masing di 1,100, 1,3100, 0,6800. Sedangkan Dolar Kanada turut terseret merah dengan kini rentan menembus ke atas level psikologis di 1,3800.

Situasi suram tersebut dengan mudah menghadirkan tekanan jual pada Rupiah dan mata uang Asia lainnya. Gerak Rupiah akhirnya terkesan mandek, dan sentimen stimulus China gagal menyokong Rupiah untuk berbalik melonjak tajam. Hingga ulasan ini disunting, Rupiah masih ditransaksikan di kisaran Rp15.579
 per Dolar AS atau melemah tipis 0,03 persen.

Sementara laporan dari pasar Asia menunjukkan, kinerja mata uang Asia yang bervariasi dengan kecenderungan berada di rentang moderat. Yuan China, Dolar Singapura, Baht Thailand, Ringgit Malaysia dan Peso Filipina bersama Rupiah masih bergulat di zona pelemahan tipis. Sedangkan Dolar Hong Kong dan Rupee India bertahan menguat sangat tipis dan rentan beralih melemah.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

KPK Amankan "Surat Tekanan" dari Rumah Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Kamis, 16 April 2026 | 18:15

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kasus Penyiraman Andrie Yunus Masuk Sidang Terbuka Akhir April

Kamis, 16 April 2026 | 18:09

Emil Dardak Prihatin Tiga Kepala Daerah Jatim Kena OTT KPK

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Pimpinan Ombudsman: Kasus Hery Susanto Terjadi Sebelum Menjabat

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Erick Thohir Bawa Kemenpora Tembus Top 5 Kementerian Kinerja Terbaik

Kamis, 16 April 2026 | 17:40

Puspen TNI Pastikan Sidang Kasus Andrie Yunus Terbuka

Kamis, 16 April 2026 | 17:37

BNPB Catat 23 Bencana dalam Dua Hari

Kamis, 16 April 2026 | 17:28

Fokus pada Inovasi dan Kesejahteraan, Bupati Mimika Raih KWP Award 2026

Kamis, 16 April 2026 | 17:22

Sudewo Ngaku Kangen Warga Pati

Kamis, 16 April 2026 | 17:17

Selengkapnya