Berita

Ilustrasi/RMOL

Bisnis

Ketegangan Timur Tengah Mengancam Pasokan Minyak

KAMIS, 03 OKTOBER 2024 | 07:20 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ketegangan di Timur Tengah akan berimbas ada pasokan minyak dunia, menyusul serangan rudal balistik Iran ke Israel. 

Analis energi senior di MST Marquee, Saul Kavonic, mengatakan saat ini gangguan material terhadap pasokan minyak semakin dekat. 

Kemungkinan besar Israel akan menyerang Infrastruktur minyak Iran sebagai reaksi atas serangan balasan tersebut. 


Menurutnya, setelah  para pedagang sempat menepis ancaman gangguan pasokan minyak yang berasal dari situasi di Timur Tengah serta Ukraina, kini mereka dapat melihat bahwa perkembangan terbaru dapat menjadi pengubah permainan. 

Hingga 4 persen dari pasokan minyak global terancam karena konflik sekarang secara langsung menyelimuti Iran, dan serangan atau sanksi yang lebih ketat dapat menaikkan harga kembali ke 100 Dolar AS per barel, menurut Kavonic.

Serangan rudal terbaru Iran menyusul pengerahan pasukan darat Israel ke Lebanon selatan, yang mengintensifkan serangannya terhadap Hizbullah, kelompok militan yang didukung Iran. Sebagian besar dari 200 rudal yang diluncurkan dicegat oleh pertahanan Israel dan AS, dan tidak ada laporan korban jiwa di Israel akibat serangan tersebut.

Sejak konflik bersenjata Israel-Hamas dimulai pada 7 Oktober tahun lalu, gangguan pada pasar minyak telah terbatas. Pasar minyak juga tetap tertekan karena peningkatan produksi dari AS menambah gambaran pasokan, dan permintaan Tiongkok yang melambat telah menekan harga, kata Andy Lipow, presiden di Lipow Oil Associates.

Iran adalah produsen terbesar ketiga di antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak, memproduksi hampir empat juta barel minyak per hari, menurut data dari Badan Informasi Energi.

CIO Bison Interests, Josh Young, juga mengamati kemungkinan peningkatan potensi serangan terhadap infrastruktur minyak Iran yang mengganggu pasokan minyak. Ia mengatakan bahwa ini menandai "eskalasi signifikan" oleh Iran.

Jika ekspor Iran terhenti karena serangan, Young memperkirakan harga minyak akan melonjak hingga lebih dari 100 Dolar per barel.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Purbaya Soal Pegawai Rompi Oranye: Bagus, Itu Shock Therapy !

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:16

KLH Dorong Industri AMDK Gunakan Label Emboss untuk Dukung EPR

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:05

Inflasi Jakarta 2026 Ditargetkan di Bawah Nasional

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:04

PKB Dukung Penuh Proyek Gentengisasi Prabowo

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:57

Saham Bakrie Group Melemah, Likuiditas Tinggi jadi Sorotan Investor

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:51

Klaim Pemerintah soal Ekonomi Belum Tentu Sejalan dengan Penilaian Pasar

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:50

PN Jaksel Tolak Gugatan Ali Wongso pada Depinas SOKSI

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:48

Purbaya Optimistis Peringkat Utang RI Naik jika Ekonomi Tumbuh 6 Persen

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:32

IHSG Melemah Tajam di Sesi I, Seluruh Sektor ke Zona Merah

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:27

Prabowo Dorong Perluasan Akses Kerja Profesional Indonesia di Australia

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:16

Selengkapnya