Berita

Ilustrasi saham BBTN terjungkal (Foto: Dok. BTN)

Bisnis

Saham BTN Paling Terjungkal, IHSG Terhenti di 7.740,9

RABU, 25 SEPTEMBER 2024 | 16:43 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Gerak turun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terlihat rapuh di sesi perdagangan sore pertengahan pekan ini, Rabu 25 September 2024. Sikap optimis pelaku pasar terkesan mulai berbalik pesimis. Tekanan jual mendera sejumlah besar saham unggulan yang selama ini langganan masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan.

Terlebih pada saham-saham BUMN terkemuka, tekanan jual terlihat merata dan dalam rentang tajam. Pola demikian sekaligus mencerminkan gerak turun  IHSG yang meyakinkan. Pantauan hingga sesi perdagangan sore ditutup menunjukkan, IHSG yang runtuh 0,48 persen dengan menginjak posisi 7.740,9 setelah konsisten menginjak zona pelemahan tajam di sepanjang sesi perdagangan.

Sejumlah besar saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan terjungkal tajam di antara paling menonjol adalah saham Bank Tabungan Negara (BBTN) yang turun 4,62 persen di Rp1.445, dan Bank Mandiri (BMRI) turun 3,03 persen di Rp7.200, Astra Motor (ASII) turun 0,94 persen di Rp5.225, Adaro Energy Indonesia (ADRO) turun 1,33 persen di Rp3.690, dan saham Bukit Asam (PTBA) turun 0,64 persen di Rp3.080. Sedangkan saham Bank Central Asia (BBCA) dan Telkom Indonesia (TLKM) mampu berbalik positif di menit akhir jelang penutupan sesi. 


Pelemahan IHSG yang  kukuh di sesi perdagangan sore ini seakan mendahului pesimisme di Asia. Pantauan menunjukkan, gerak indeks di bursa saham utama Asia yang sempat berupaya positif (kecuali di Bursa saham Hong Kong dan China yang sedang terangkat oleh sentimen stimulus) namun kemudian beralih merah di sesi perdagangan sore. Namun gerak turun Indeks di Asia terlihat cenderung di rentang moderat.

Hingga sesi perdagangan berakhir, indeks Nikkei (Jepang) turun tipis 0,19 persen di 37.870,26, sementara indeks KOSPI (Korea Selatan) terkoreksi tajam 1,34 persen di 2.596,32 dan indeks ASX200 (Australia) terkoreksi tipis 0,19 persen di 8.126,4. Pelaku pasar di Australia mendapat suntikan sentimen domestik dari rilis data inflasi terkini yang masih sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar, sebesar 2,7 persen. Namun rilis data tersebut gagal menyelamatkan Indeks ASX200 dari terpaan koreksi.

Tekanan jual moderat yang mulai hinggap di Asia kali ini diyakini lebih dilatari oleh potensi teknikal di tengah minimnya sentimen positif yang meyakinkan. Beralih turunnya Indeks di Asia akhirnya semakin mengukuhkan IHSG untuk menapak zona merah lebih mantap di sesi perdagangan sore. Saham-saham unggulan akhirnya kesulitan untuk melakukan gerak balik dan justru semakin merah.

Rupiah Kukuh di Zona Hijau

Kinerja prospektif terlihat masih berlanjut pada nilai tukar Rupiah. Gerak menguat Rupiah terlihat mulai terkikis di pertengahan sesi perdagangan sore ini, namun level penguatan Rupiah terlihat masih signifikan. Hingga sesi perdagangan sore berlangsung, Rupiah tercatat diperdagangkan di kisaran Rp15.095 per Dolar AS atau menguat 0,55 persen.

Pantauan menunjukkan, Rupiah yang mampu mencetak titik terkuatnya hari ini di kisaran Rp15.059 per Dolar AS atau telah sangat dekat dengan level psikologis pentingnya di kisaran Rp15.000. Di tengah tiadanya sentimen rilis data perekonomian terkini, gerak positif Rupiah kali ini yang lebih disokong oleh sentimen global dari melonjaknya nilai tukar mata uang utama dunia.

Pantauan terkini menunjukkan, nilai tukar mata uang Euro yang sempat menembus level psikologis nya di 1,1200 namun kemudian sedikit berbalik di sore ini. Pola serupa juga terjadi pada Poundsterling yang sempat menembus level psikologis nya di 1,3400 namun kemudian berbalik di kisaran 1,3390-an hingga sore ini.

Gerak balik moderat Euro dan Poundsterling, terbilang sangat wajar dalam tinjauan teknikal. Namun situasi tersebut membuat gerak menguat Rupiah turut terhenti.

Sementara pantauan pada mata uang Asia memperlihatkan gerak menguat yang bervariasi. Dolar Hong Kong, Dolar Singapura, serta Rupee India tercatat melemah sangat tipis dan rentan untuk segera beralih menguat. Sedangkan Baht Thailand, Ringgit Malaysia serta Peso Filipina bersama dengan Rupiah kukuh menginjak zona penguatan signifikan.

Stabilnya Rupiah di zona hijau kali ini sekaligus mengukuhkan tren penguatan yang masih solid untuk membuka lebar peluang menjungkalkan Dolar AS di bawah level psikologis nya di kisaran Rp15.000 dalam waktu dekat.

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Perbedaan Perlakuan Tersangka Jadi Ujian Kesetaraan Hukum

Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:23

KDKMP Kembalikan Kendali Ekonomi ke Warga Desa

Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:19

Jangan Terjebak Angka, Pertumbuhan Ekonomi Harus Berdampak ke Masyarakat

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:24

Gus Salam: Caketum PBNU Harus Bersaing Secara Sehat

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:21

Kuasa Hukum Yaqut Tegaskan Kebijakan Kuota Haji Harus Dinilai Utuh

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:14

Konsolidasi Rakyat untuk Pemerintahan Bersih

Minggu, 09 Agustus 2026 | 06:48

Petani Diminta Jangan Tertipu Konten Pupuk Viral di Medsos

Minggu, 09 Agustus 2026 | 06:23

Menteri Luar Negeri Layak Diganti karena Dicap Tidak Profesional

Minggu, 09 Agustus 2026 | 05:54

InfraNexia jadi Pilar Utama Bisnis Telkom untuk Wholesale Connectivity

Minggu, 09 Agustus 2026 | 05:27

BGN Libatkan Peran Guru Perkuat Pengawasan MBG

Minggu, 09 Agustus 2026 | 04:48

Selengkapnya