Berita

Aktivis Pro Demokrasi (Prodem), Setya Dharma Pelawi/Ist

Publika

Permintaan Gerindra Tunda Ekspor Pasir Laut Langkah Elok?

OLEH: SETYA DHARMA PELAWI
SELASA, 24 SEPTEMBER 2024 | 16:31 WIB

"Tak ada lawan atau kawan yang abadi dalam dinamika politik" pepatah ini terdengar klise namun masih dapat menggambarkan kondisi politik saat ini.

Demikian juga hubungan politik antara Jokowi sebagai Presiden yang akan segera lengser dengan Prabowo sebagai presiden terpilih periode 2024-2029. Meskipun Prabowo berulang kali menyatakan akan melanjutkan seluruh kebijakan politik yang telah ditetapkan Jokowi, namun tak ada jaminan hal tersebut dilaksanakan sepenuhnya.

Seperti kita ketahui bersama bahwa Jokowi dan Prabowo telah menjadi lawan politik dalam pemilihan presiden 2014 dan 2019. Jokowi dinyatakan menang dalam kedua momentum politik tersebut.


Mungkin belajar dari dua kekalahan tersebut, setelah Pilpres 2019 Prabowo memutuskan beralih dari lawan politik menjadi kawan. Dengan alasan menjaga persatuan nasional, Ketua Umum Partai Gerindra tersebut bersedia menjadi bagian dari kabinet yang dibentuk Jokowi.

Perubahan dari lawan menjadi kawan tersebut bisa dipahami. Pilihan pragmatis ini, patut diduga karena Prabowo ingin memanfaatkan kekuatan politik Jokowi dalam Pilpres 2024.

Aturan perundang-undangan tidak memungkinkan Jokowi untuk maju menjadi presiden karena sudah dua kali menjabat. Strategi Prabowo terbukti tepat. Komprominya dengan Jokowi membuatnya menjadi pemenang dalam Pilpres 2024.

Apakah perkawanan politik mereka akan langgeng? Jawabannya tentu tidak. Seperti halnya perubahan dari lawan menjadi kawan, maka pergeseran dari kawan menjadi lawanpun akan segera mereka hadapi.

Banyak fenomena yang menjadi indikasi berakhirnya bulan madu Jokowi dan Prabowo. Mulai dari melemahnya komitmen untuk mendanai pembangunan Ibukota Nusantara secara besar besaran, komunikasi politik yang tampak mesra dengan Megawati serta yang terakhir pernyataan Partai Gerindra yang meminta agar ekspor pasir laut ditunda pelaksanaannya.

Perbedaan kepentingan di antara Jokowi dan Prabowo mulai tampak. Perbedaan yang tentu tidak bisa dihindari. Jokowi berkepentingan untuk menyelamatkan warisan kebijakan serta warisan kekuasaan untuk anak-anaknya, sementara Prabowo berkepentingan untuk melaksanakan banyak obsesi yang telah dia pendam sejak pertama mengikuti kontestasi Pilpres tahun 2009.

Prabowo pasti memiliki gagasan yang bertolak belakang dengan Jokowi. Gagasan-gagasan yang telah dia pikirkan dan kampanyekan sejak Pilpres 2014 dan 2019. Gagasan yang terpaksa disimpan rapat saat menjadi menteri di kabinet Jokowi.

Meskipun indikasi bahwa perbedaan kepentingan itu semakin nyata, namun baik Jokowi maupun Prabowo tentu masih menutup-nutupi. Mereka kerap mencari kambing hitam yang bisa.

Dituduh sebagai pengadu-domba. Padahal sebagai dua "domba politik" yang memiliki latar belakang, kapasitas dan idealisme yang jauh berbeda, keduanya sudah pasti akan beradu dengan sendiri.

Tak perlu ada kalangan dan panitia agar mereka saling beradu. Jokowi dan Prabowo akan segera beradu sendiri. Salah satu bukti yang aktual adalah pernyataan resmi dari Partai Gerindra yang meminta agar ekspor pasir laut ditunda.

Dua domba sedang beradu atas inisiatif sendiri, tanpa ada pihak lain yang memanas-manasi.

Akhir dari tulisan ini, penulis ingin mengutip dari seorang aktivis lingkungan: Langkah yang tepat atau elokkah tunda ekspor pasir laut dari Partai Gerindra?

Objektif tidak ada alasan apa pun untuk membenarkan ekspor pasir laut. Pahamkah pemerintah Jokowi terhadap dampak perusakan lingkungan akibat pengerukan pasir laut tersebut?

Dan Gus Dur pernah menyatakan: Prabowo Subianto adalah sosok paling ikhlas pada rakyat Indonesia.

Penulis adalah Senator Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (Prodem)

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya