Berita

Ilustrasi (Foto: Reuters.com)

Bisnis

Inggris-Jerman Lesu, Rupiah Gagal Beralih Positif

SENIN, 23 SEPTEMBER 2024 | 20:20 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Rilis data indeks PMI flash di Jerman yang dinantikan investor akhirnya memperlihatkan kabar suram. Indeks PMI manufaktur hanya 40,3 alias mengalami kontraksi, juga lebih rendah ketimbang bulan Agustus yang sebesar 42,4. Sementara indeks PMI flash untuk sektor jasa dilaporkan sebesar 50,6 atau tumbuh namun masih juga lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 51,2.

Secara keseluruhan, rilis data tersebut masih jauh dari bersahabat bagi pelaku pasar. Namun juga tak terlalu mengkhawatirkan. Akibatnya respon investor terkesan bertahan dalam keraguan dalam menjalani sesi perdagangan sore ini. Hal ini terlihat dari gerak indeks di Bursa saham utama Eropa yang mixed dalam mengawali sesi perdagangan pekan ini.

Indeks DAX di bursa saham Jerman dan indeks FTSE di bursa saham Inggris hanya naik moderat, sementara indeks CAC di bursa saham Perancis melemah terbatas. Sedangkan pada sesi sebelumnya, Indeks ASX200 di bursa saham Australia menutup sesi dengan turun 0,69 persen dengan menjejak posisi 8.152,9 dan indeks KOSPI di bursa saham Korea Selatan naik 0,33 persen dengan terhenti di 2.602,01.


Pola gerak indeks yang mixed di Asia seakan berlanjut di bursa saham Eropa usai rilis data indeks PMI Jerman dan Inggris. Laporan terkait menyebutkan, rilis ndeks PMI flash di Inggris yang memang masih mampu membukukan pertumbuhan untuk bulan September ini, namun besaran Indeks masih lebih rendah dibanding bulan sebelumnya.

Di tengah gerak mixed yang berlanjut di sesi perdagangan Eropa tersebut Indeks Harga Saham Gantungan (IHSG) di Jakarta mampu beralih positif pada sesi perdagangan sore. Pantauan sebelumnya menunjukkan, gerak IHSG yang konsisten menapak zona pelemahan terbatas di sepanjang sesi pagi. Namun pelaku pasar di Jakarta terlihat berupaya memaksimalkan kesempatan untuk mengangkat IHSG di tengah mixed nya indeks di Bursa Asia dan Eropa.

Pantauan lebih jauh menunjukkan, gerak naik saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan yang semakin signifikan pada sesi sore hingga mampu membalikkan IHSG di zona hijau. IHSG kemudian menutup sesi sore dengan naik moderat 0,42 persen di 7.775,73. Catatan memperlihatkan, seluruh saham unggulan tersebut yang melonjak dalam rentang bervariasi dan cenderung signifikan.

Deretan saham saham unggulan yang melonjak kali ini mencakup: BBRI, TLKM, BBNI, HRUM, BMRI, BBCA, ICBP, ADRO, PTBA, ITMG serta UNTR. Pantauan juga menunjukkan saham terkait konglomerat kenamaan Prajogo Pangestu, yaitu TPIA, BRPT, dan PTRO yang mampu membukukan rebound teknikal secara signifikan dalam sesi perdagangan kali ini.

Namun saham milik Prajogo Pangestu yang paling disorot, BREN kukuh tak bergerak di level terendahnya hingga sesi perdagangan sore ditutup. Saham yang baru saja dikeluarkan dari daftar indeks FTSE itu anteng di Rp7.075 di sepanjang sesi perdagangan setelah terhajar koreksi curam lanjutan sebesar 19,83 persen.

Rupiah Gagal Beralih Positif

Pola berbeda terjadi pada nilai tukar Rupiah di sesi perdagangan sore ini. Lemasnya kinerja perekonomian Jerman yang tercermin dalam rilis data indeks PMI flash membuat nilai tukar Euro beralih runtuh setelah sempat mencoba menguat di sesi pagi.

Keruntuhan Euro kemudian menjalar pada mata uang utama dunia lainnya seperti Poundsterling dan Dolar Australia. Akibatnya, sentimen secara umum beralih cenderung suram. Pantauan menunjukkan nilai tukar Euro dan Poundsterling yang kini bahkan telah menembus ke bawah level psikologisnya masing-masing di kisaran 1,1100 dan 1,3300. Situasi tersebut kemudian dengan mudah menyeret mata uang Asia termasuk Rupiah yang di sesi pagi telah konsisten menapak pelemahan moderat.

Hingga sesi perdagangan sore ini berlangsung, Rupiah tercatat ditransaksikan di kisaran Rp15.195 per Dolar AS atau melemah 0,34 persen. Sementara pada mata uang Asia, kini terlihat hampir seluruhnya menginjak zona pelemahan dalam kisaran moderat. Hingga ulasan ini disunting, mata uang Asia hanya menyisakan Dolar Hong Kong yang masih berupaya bertahan positif namun terlihat rentan untuk terseret di zona merah.

Kegagalan Rupiah beralih menguat kali ini, terlihat masih seiring dengan tinjauan teknikal sebelumnya, di mana gerak melemah yang terjadi sekedar realisasi potensi koreksi teknikal usai melonjak sangat signifikan pada pekan lalu.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya