Berita

Mantan Kepala Dinas Intelijen Israel Mossad, Tamir Pardo/Net

Dunia

Mantan Bos Mossad: Israel Pilih Balas Dendam daripada Selamatkan Sandera

SENIN, 23 SEPTEMBER 2024 | 15:49 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Pemerintah Israel di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dinilai lebih mengutamakan balas dendam ketimbang menyelamatkan para sandera yang ditahan di Gaza.

Pandangan itu disampaikan oleh seorang mantan Kepala Dinas Intelijen Israel Mossad, Tamir Pardo yang menjabat tahun 2011-2016 dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Middle East Monitor pada Senin (23/9).

Menurut Pardo, harusnya pemerintah Netanyahu menerima tawaran gencatan senjata dan pengembalian sandera yang diajukan Hamas pertama kali pada 8 Oktober lalu.


"Namun, Israel memilih balas dendam. Mereka tahu bahwa para sandera tidak dapat dibebaskan melalui serangan militer," ujarnya dalam wawancara dengan kantor berita Israel Srugim.

Dikatakan Pardo, pemerintah sebenarnya tahu bahwa akan ada banyak sandra yang terbunuh akibat serangan udara maupun operasi darat yang dilancarkan militer Israel.

Kendati demikian, lanjut Pardo, pemerintah tidak peduli dan Netanyahu berulang kali menyuarakan optimisme palsu tentang kemenangan mutlak yang akan segera mereka capai.

"Pemerintah tidak peduli. Mereka malah meluncurkan kampanye untuk meyakinkan publik tentang narasi palsu sebagai kemenangan mutlak," tambahnya.

Negosiasi gencatan senjata tidak langsung dan pertukaran tahanan antara Tel Aviv dan Hamas telah mencapai tahap kritis, karena Netanyahu tetap berkomitmen untuk melanjutkan perang di Gaza dan mengendalikan koridor-koridor utama di selatan dan tengah jalur tersebut, seperti Koridor Philadelphia dan Netzarim.

Di sisi lain, Hamas menuntut penarikan penuh Israel dari Gaza dan pemulangan orang-orang yang mengungsi tanpa batasan.

Saat ini, Israel menahan sedikitnya 9.500 tahanan Palestina di penjara-penjaranya, sementara diperkirakan 101 warga Israel ditahan di Gaza.

Hamas mengatakan puluhan sandera telah tewas akibat serangan udara yang diluncurkan Israel.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya