Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

IMF Sambut Baik Perluasan BRICS

JUMAT, 13 SEPTEMBER 2024 | 08:24 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Menimbang besarnya manfaat yang akan didapatkan secara global, Julie Kozack, juru bicara Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan ia menyambut perluasan BRICS.

Berbicara kepada wartawan pada Kamis (12/9) ia menanggapi pertanyaan tentang rencana Turki untuk bergabung dengan kelompok tersebut.

“Pandangan kami adalah bahwa peningkatan dan perluasan kerja sama internasional serta pendalaman hubungan perdagangan dan investasi di antara kelompok negara harus disambut dan didorong,” kata Kozack, seperti dikutip dari RT, Jumat (13/9).


Terutama, katanya, jika perluasan ditujukan untuk mengurangi fragmentasi dan menurunkan biaya perdagangan dan investasi di antara negara-negara peserta.

"Keputusan untuk bergabung dengan inisiatif semacam itu merupakan keputusan kedaulatan masing-masing negara anggota," ujarnya.

Ankara sebelumnya telah menegaskan haknya untuk menjalin hubungan dengan negara atau organisasi internasional mana pun yang dianggapnya sesuai, dan menyatakan bahwa keterlibatannya dengan BRICS atau Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) tidak mengganggu komitmen lainnya, termasuk dengan NATO.

"Kami tidak menganggap BRICS sebagai alternatif bagi struktur lainnya. Kami menganggap semua struktur dan aliansi ini memiliki fungsi yang berbeda," kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebelumnya. 

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mencatat bahwa hingga 34 negara telah menyatakan minatnya pada BRICS, dengan diskusi yang sedang berlangsung tentang kemitraan potensial.

Bloomberg melaporkan pada awal September bahwa keanggotaan Turki dapat dipertimbangkan pada pertemuan puncak BRICS mendatang di Kazan, Rusia, pada akhir Oktober mendatang di mana Erdogan telah diundang ke pertemuan tersebut. 

Ajudan presiden Rusia Yury Ushakov mengonfirmasi bahwa Ankara secara resmi mengajukan keanggotaan dan mengatakan organisasi tersebut akan mempertimbangkannya.

Didirikan pada tahun 2009 oleh Rusia, Tiongkok, India, dan Brasil, organisasi ini diikuti oleh Afrika Selatan pada tahun berikutnya. Pada tahun 2024, kelompok ini berkembang lebih jauh hingga mencakup Mesir, Iran, Uni Emirat Arab, dan Ethiopia.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Anies dan KDM Bisa Wassalam Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Senin, 21 September 2026 | 16:22

Keluarga Ikhlas Namun Masih Berharap Lima Wartawan yang Hilang Bisa Pulang

Senin, 21 September 2026 | 16:01

Begini Respons Nusron Ditanya Alasan Mundur dari Kepengurusan Golkar

Senin, 21 September 2026 | 15:53

Turki Siap Kirim Bantuan Militer ke Arab Saudi Jika Terdesak

Senin, 21 September 2026 | 15:47

Bupati Bolmut Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Senin, 21 September 2026 | 15:41

Menkop Dorong Koperasi Sawit Miliki Pabrik CPO Sendiri

Senin, 21 September 2026 | 15:15

Lima Wartawan Hilang saat Liput Anak Krakatau Jadi Pahlawan Pers

Senin, 21 September 2026 | 15:07

Arab Saudi Gempur Yaman 760 Kali, Houthi Ancam Balas Lebih Keras

Senin, 21 September 2026 | 14:56

Dukung Prabowo Kuatkan Sanksi Pelaku Karhutla

Senin, 21 September 2026 | 14:50

Jangan Ukur Keberhasilan Pariwisata Hanya dari Jumlah Wisatawan

Senin, 21 September 2026 | 14:40

Selengkapnya