Berita

Ilustrasi/Net

Tekno

Rusia jadi Negara Paling Banyak Diserang Peretas

SELASA, 10 SEPTEMBER 2024 | 12:52 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perusahaan keamanan siber Kaspersky Lab menyatakan bahwa hingga saat ini Rusia adalah negara yang paling banyak mendapat serangan siber di dunia.

Berbicara pada Senin (9/9), Direktur Pelaksana Kaspersky Lab untuk Rusia dan Commonwealth of Independent States (CIS), Anna Kulashova, mengatakan lebih dari separuh pengguna produk Kaspersky Lab di Rusia menjadi sasaran peretas selama delapan bulan pertama tahun ini. 

Ia mencatat bahwa lembaga pemerintah dan keuangan, serta telekomunikasi, media, dan industri merupakan target paling umum bagi penjahat dunia maya.


“Untuk membobol institusi, para peretas dapat memanfaatkan kerentanan dalam aplikasi yang tersedia untuk umum, dan mencuri kredensial login, yang dapat diperoleh melalui peretasan kata sandi, termasuk melalui perusahaan-perusahaan kecil yang bertindak sebagai kontraktor bagi bisnis-bisnis yang lebih besar,” kata Kulashova, seperti dikutip dari RT, Selasa (10/9).

Ia mencatat bahwa tantangan yang mendesak ditimbulkan oleh hacktivism, di mana penjahat siber menimbulkan kerusakan pada operasi bisnis untuk menarik perhatian pada isu-isu sosial atau politik, tetapi sebagian besar serangan siber dilakukan untuk keuntungan finansial atau spionase.

Kulashova mengingat bahwa pada bulan Juli, Kaspersky Lab menemukan dua gelombang pengiriman surat yang ditujukan ke bisnis domestik, yang berisi perangkat lunak atau tautan berbahaya. 

"File-file ini dikirim ke sekitar seribu karyawan di sektor manufaktur, keuangan, dan energi, serta staf lembaga pemerintah. Jika serangan berhasil, penjahat dunia maya dapat memperoleh akses jarak jauh ke komputer dan mengunduh file serta dokumen rahasia," jelasnya.

Ia juga mengatakan para peretas telah melakukan serangkaian serangan terarah yang rumit terhadap perusahaan TI dan badan pemerintah Rusia.

"Kampanye malware, yang dilakukan dengan memanfaatkan infrastruktur cloud publik, termasuk Yandex Cloud dan Dropbox, ditujukan untuk mencuri informasi rahasia," demikian Kulashova.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

UPDATE

SGU Gandeng Poltek SSN Perkuat Pendidikan Siber Keamanan

Rabu, 29 Juli 2026 | 02:09

Jokowi Bohong soal 54 Kali Ajak Makan Siang PKL Solo

Rabu, 29 Juli 2026 | 02:02

Sentralisasi Hambat Otonomi Daerah

Rabu, 29 Juli 2026 | 01:49

Kejagung Periksa Tujuh Saksi Kasus TPPU Febrie, Empat Penyidik Polri

Rabu, 29 Juli 2026 | 01:05

Terungkap Jokowi Ikut Dirikan Gerindra di Solo Jelang Pemilu 2009

Rabu, 29 Juli 2026 | 01:00

Satgas Jaga Jakarta dan FKDM Jangan Loyo Antisipasi Tawuran Warga

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:28

Polda Metro Jaya Bongkar Sindikat Pengedar Etomidate

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:24

Beredar Hasil Survei 32 Capres 2029

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:02

DKPP Putus Perkara Helikopter KPU pada 29 Juli

Selasa, 28 Juli 2026 | 23:23

GOR Ciracas Diserbu 3.190 Pelamar Kerja

Selasa, 28 Juli 2026 | 23:05

Selengkapnya