Berita

Artikel BBC memuat profil pemimpin redaksi RT Margarita Simonyan/Tangkapan layar RMOL

Global

Tak Terima Dituding Campuri Pilpres AS, Pemred RT akan Tuntut BBC

SABTU, 07 SEPTEMBER 2024 | 11:48 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ketegangan antara Rusia dan Amerika Serikat menjelang pilpres AS kini sampai ke ranah media, di mana pemimpin redaksi RT Margarita Simonyan bersiap menuntut lembaga penyiaran negara Inggris, BBC.

Dalam pernyataannya pada Jumat (6/9), Simonyan mengatakan bahwa profil dirinya yang dipublikasikan oleh BBC layak diajukan ke pengadilan Rusia atas dasar pencemaran nama baik.

Kasus bermula saat BBC meminta salah satu karyawan Ukrainanya untuk menyusun fitur 'Siapakah Margarita Simonyan?' pada hari Kamis, setelah AS menuduh RT mencampuri pemilu Amerika.


“Simonyan tidak hanya mengepalai operasi propaganda eksternal Rusia, ia juga terlibat aktif dalam penyampaian pesan internal dan secara rutin tampil di acara bincang-bincang politik di TV Rusia,” tulis Katerina Khinkulova, seperti dikutip Sabtu (7/9).

“Pandangan publiknya sekarang tidak bisa dibedakan dari kebijakan Kremlin,” imbuh Khinkulova, seraya mengklaim bahwa Simonyan telah digambarkan sebagai propagandis dan ideolog utama Kremlin, hampir lebih condong ke Putin daripada presiden Rusia sendiri.

Mengomentari hal itu, Simonyan menyebut artikel Khinkulova sebagai propaganda Inggris dalam segala kejayaan dan orisinalitasnya.

"Tentu saja, saya tidak pernah mengatakan hal seperti ini," imbuh Simonyan, merujuk pada beberapa kutipan yang dikaitkan dengannya dalam artikel tersebut. 

"Namun, saya rasa saya akan menuntut BBC. Mereka punya biro di Moskow, biarkan mereka makan sedikit debu," ujarnya.

Jaksa Agung AS Merrick Garland mengklaim pada hari Rabu bahwa RT telah bertindak sebagai agen Kremlin untuk "merusak proses demokrasi kita," serta menyebarkan konten anti-Ukraina secara daring. 

Menurut Washington, RT menghabiskan jutaan dolar untuk memproduksi konten bagi pemirsa Amerika melalui sebuah perusahaan media di Tennessee yang dikelola oleh beberapa komentator konservatif. 

Pihak berwenang AS mengakui bahwa konten tersebut tampaknya tidak bermuatan politik, tetapi mengklaim bahwa konten tersebut entah bagaimana memajukan apa yang mereka klaim sebagai kepentingan pemerintah Rusia.

Populer

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Usai DPR, Guru Besar IPB Desak BPK Evaluasi WTP Kemenhut

Rabu, 28 Oktober 2026 | 08:24

HLN ke-81: PLN Perkuat Listrik sebagai Penggerak Kehidupan dan Kemandirian Bangsa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:47

IKA FH Undip Gelar Konsolidasi, Ini yang Dibahas

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:55

Tolak Usul Luhut, PKS Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:25

Telkom Perkuat Transparansi Ekosistem Pengadaan Digital Nasional Lewat SPSE V5

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:57

Konser Andrea Bocelli Turut Serukan Solidaritas Palestina Tuai Apresiasi

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:28

Menanti Negarawan di Tengah Oase Pragmatisme

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:55

InfraNexia Perkuat Kesiapan Infrastruktur Dukung Pertumbuhan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:25

Revitalisasi Intisab Siapkan Kepemimpinan Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:59

Kemerdekaan yang Belum Selesai: Dari Cita-Cita 1945 ke Amarah Gen Z

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:30

Selengkapnya