Berita

Landmark New Delhi

Bisnis

Prediksi Pertumbuhan Ekonomi India Direvisi Jadi 7 Persen

KAMIS, 05 SEPTEMBER 2024 | 00:39 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Bank Dunia telah merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi India, dari perkiraan sebelumnya sebesar 6,6 persen menjadi 7 persen untuk tahun fiskal 2025. 

India Development Update (IDU) menyebut revisi atas perkiraan pertumbuhan ekonomi ini memperlihatkan ketahanan India dalam menghadapi kondisi ekonomi global yang menantang.

Laporan IDU berjudul “Peluang Perdagangan India dalam Konteks Global yang Berubah”, menyoroti status India sebagai ekonomi utama yang tumbuh paling cepat, dengan tingkat pertumbuhan yang luar biasa sebesar 8,2 persen pada tahun fiskal 2023/2024.


Pertumbuhan ini terutama didorong oleh investasi infrastruktur publik yang signifikan dan lonjakan investasi rumah tangga di sektor real estat. Di sisi pasokan, sektor manufaktur yang kuat, yang tumbuh sebesar 9,9 persen, dan aktivitas jasa yang tangguh memainkan peran penting dalam mengimbangi kinerja buruk sektor pertanian.

Tingkat pengangguran perkotaan juga mengalami penurunan bertahap, khususnya di kalangan pekerja perempuan, yang tingkat penganggurannya turun menjadi 8,5 persen pada awal tahun fiskal 2024/2025. Akan tetapi, laporan tersebut mencatat bahwa pengangguran di kalangan muda perkotaan tetap tinggi, yakni 17 persen. 

Di sisi eksternal, cadangan devisa India mencapai rekor tertinggi sebesar USD 670,1 miliar pada awal Agustus, setara dengan lebih dari 11 bulan impor, didukung oleh defisit transaksi berjalan yang menyempit dan arus masuk investasi portofolio asing yang kuat.

Meskipun ada hambatan ekonomi global, prospek Bank Dunia untuk India tetap positif, dengan pertumbuhan diproyeksikan tetap kuat pada 7 persen pada tahun anggaran 2024/25 dan terus berlanjut dengan kuat hingga tahun anggaran 2026/27.

Laporan tersebut juga mengantisipasi penurunan rasio utang terhadap PDB India dari 83,9 persen pada tahun anggaran 2023/24 menjadi 82 persen pada tahun anggaran 2026/27, di samping defisit transaksi berjalan yang stabil sekitar 1-1,6 persen dari PDB selama periode yang sama.

IDU menekankan peran penting perdagangan dalam mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi India. Lingkungan perdagangan global telah menjadi semakin proteksionis, tetapi konfigurasi ulang rantai nilai global setelah pandemi COVID-19 menghadirkan peluang yang signifikan bagi India.

Laporan tersebut menyoroti upaya India untuk meningkatkan daya saingnya melalui Kebijakan Logistik Nasional dan berbagai inisiatif digital yang bertujuan untuk mengurangi biaya perdagangan. Namun, laporan tersebut juga memperingatkan bahwa meningkatnya hambatan tarif dan nontarif berpotensi membatasi efektivitas investasi yang berfokus pada perdagangan.

“Prospek pertumbuhan India yang kuat bersama dengan penurunan inflasi akan membantu mengurangi kemiskinan ekstrem. India dapat meningkatkan pertumbuhannya lebih jauh dengan memanfaatkan potensi perdagangan globalnya,” ujar Country Director Bank Dunia di India, Auguste Tano Kouame, seperti dikutip dari The Print. 

Ia menambahkan, “Selain TI, layanan bisnis, dan farmasi yang menjadi keunggulannya, India dapat mendiversifikasi keranjang ekspornya dengan peningkatan ekspor di sektor tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki, serta produk elektronik dan teknologi hijau.”

Untuk mencapai tujuan ambisiusnya sebesar 1 triliun dolar AS dalam ekspor barang dagangan pada tahun 2030, IDU merekomendasikan pendekatan tiga cabang: mengurangi biaya perdagangan lebih lanjut, menurunkan hambatan perdagangan, dan memperdalam integrasi perdagangan.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa pangsa India dalam ekspor pakaian global telah menurun dari 4 persen pada tahun 2018 menjadi 3 persen pada tahun 2022, sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya biaya produksi dan menurunnya produktivitas.

“Dengan meningkatnya biaya produksi dan menurunnya produktivitas, pangsa India dalam ekspor pakaian global telah menurun dari 4 persen pada tahun 2018 menjadi 3 persen pada tahun 2022,” ujar Nora Dihel dan Ran Li, ekonom senior dan salah seorang penulis laporan tersebut.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Tak Pandang Bulu, Prabowo Akui Serahkan Dadan ke Kejaksaan

Kamis, 17 September 2026 | 12:29

MGBKI Soroti Isu Pendidikan Dokter Spesialis

Kamis, 17 September 2026 | 12:21

Prabowo Tugaskan Bahlil Bahas RUU Migas, SKK Migas Bisa Bubar!

Kamis, 17 September 2026 | 12:15

MNK Rokan Resmi Jadi Pionir Pengembanga Migas Nonkonvensional Indonesia

Kamis, 17 September 2026 | 12:13

Dasco Pastikan Seluruh Parpol Dilibatkan dalam Pembahasan Lanjutan RUU Pemilu

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

Ternyata Prabowo Suka Evidence-Based

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

SMEC Perluas Akses Layanan Kesehatan Mata

Kamis, 17 September 2026 | 11:50

Berjalan Beriringan, Operasi PLTP Tak Pengaruhi Situs Waruga di Tomohon

Kamis, 17 September 2026 | 11:43

Optimalisasi Sumur Sepinggan V-7: PHKT Genjot Produksi Migas Lampaui Target

Kamis, 17 September 2026 | 11:35

Prabowo Ungkap Bakal Ada Investasi Besar-besaran Masuk RI

Kamis, 17 September 2026 | 11:19

Selengkapnya