Berita

Pemerhati telematika Roy Suryo/Net

Publika

Catatan Diskusi dan Nobar Film "Dirty Election" di Yogyakarta

Inisial M Aktor Intelektual Kejahatan Pilpres 2024

OLEH: ROY SURYO*
MINGGU, 01 SEPTEMBER 2024 | 07:18 WIB

RUANG Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII) yang terletak di Kampus Legendaris lantai 3 Jalan Cik Ditiro No 1 Kota Yogyakarta sontak bergemuruh menjawab siapa sosok inisial M yang diduga menjadi aktor intelektual kejahatan Pilpres 2024, sesuai dengan topik diskusi dan nonton bareng film "Dirty Election" karya APDI (Aliansi Penegak Demokrasi Indonesia) yang diselenggarakan pada Sabtu (31/8) pukul 10.00-14.00 WIB.

Seperti sudah menjadi rahasia umum dan tidak bisa ditutup-tutupi lagi, sosok inisial M inilah biang kerok selain kejahatan Pemilu 2024 juga kemunduran demokrasi secara drastis pasca reformasi 1998, terutama 10 tahun terakhir. 

Rasanya belum kering cucuran darah almarhum Moses Gatotkaca (Pahlawan Reformasi dari Yogyakarta) yang gugur di seputaran Gejayan, sekitar 5 km. Namun kini perjuangan pahlawan reformasi tersebut sudah seperti diingkari oleh ulah inisial M, terwelu.


Belum lagi pahlawan reformasi dari Jakarta yang menjadi korban Tragedi Trisakti 1998 seperti Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan dan Hendriawan Sie, yang bahkan tiap Kamis orang tua dan kerabatnya masih terus menggelar ritual "Kamisan" di depan Istana inisial M tersebut.

Tapi nyaris sudah tidak ada perhatian sama sekali. Padahal tidak mungkin tanpa keringat dan cucuran darah para pahlawan tersebut, Indonesia bisa melakukan reformasi 26 tahun silam.

Oleh karenanya jika kemarin sebelum gerakan massa yang tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa tetapi juga guru besar, siswa-siswi, ibu-ibu, profesional, buruh, politisi, budayawan hingga seniman sampai komika, yang berhasil mencegat niat jahat anggota-anggota Baleg DPR melakukan rekayasa atas putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No. 60 dan 70 (dengan mereka mau mengakali mengubah UU Pilkada lagi).

Sebelumnya beredar luas melalui sosial media tayangan "Peringatan Darurat" Garuda Putih berlatar belakang biru yang dilengkapi dengan background peristiwa 1998 tersebut adalah sebagai pengingat agar sejarah kelam Indonesia itu jangan terjadi lagi.

Sebagaimana pernah diungkap di tulisan-tulisan sebelumnya, "Manunggaling Kalih Jagat" (Menyatunya 2 Alam) diinspirasi oleh kearifan lokal "Manunggaling Kawula Gusti" (Menyatunya Rakyat dan Raja) ini yang akhirnya bisa meruntuhkan rencana jahat patgulipat oknum-oknum yang mau mencederai proses demokrasi Indonesia di tahun 2024 ini kemarin. 

Meski harus kembali mambawa genre "Analog Horror", tetapi cara ini masih terbukti efektif di negara ini. Sebab kalau tidak maka bisa dipastikan niat begal demokrasi akan sukses dan cita-cita reformasi menjadi sia-sia belaka.

Itulah makanya APDI tidak mengenal lelah untuk terus mengedukasi dan memberi makna demokrasi dengan melakukan Roadshow Nonton Bareng dan Diskusi tentang Film "Dirty Election" yang sudah diproduksi April 2024 kemarin. 

Film berdurasi total lebih dari satu jam ini telah secara utuh memotret bagaimana kecurangan, kekacauan hingga kejahatan Pemilu 2024 dari sisi teknis SiREKAP, integritas dan hukum. 

Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk membongkar aktor intelektual kejahatan Pilpres 2024 yang berlangsung kemarin. 

Meski disadari tidak mungkin merubah hasil Pilpres yang sudah disahkan, namun setidaknya kita tidak boleh membiarkan praktik-praktik kotor pemilu seperti kemarin terus terjadi di Indonesia.

Diawali laporan oleh ketua panitia dan penjelasan mekanisme acara oleh Pril Huseno aelaku SC dan moderator, acara dibuka oleh Akhmad Syarbini (Koordinator APDI dan Ketua IA-ITB Perubahan). 

Selanjutnya Prof Masduki (Ketua Forum Cik Ditiro) menyampaikan keynote speech yang memaparkan secara ilmiah proses demokrasi yang terjadi secara umum di dunia dan penerapannya di Indonesia setelah sebelumnya saya juga menceritakan tentang sinopsis film "Dirty Election" dan sempat pula menjelaskan filosofi tari Golek yang diperagakan saat awal acara yang menunjukkan kearifan lokal Jogja. Karena tari Golek ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono IX tersebut sebenarnya juga berarti proses pencarian jati diri seseorang.

Bagi yang kemarin tidak sempat mengikutinya secara langsung di lokasi maupun Daring menggunakan sarana Zoom & YouTube, tayangan secara utuh bisa diakses melalui link www.youtube.com/live/PNTvqZRz-jo?si=HdnZvasg4EnJUqC_ agar bisa menjadi saksi bagaimana proses edukasi dan pembelajaran demokrasi ini makin tersosialisasi di masyarakat.



"Penulis adalah pemerhati telematika-multimesia-AI-OCB Independen

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

UPDATE

Kejagung Sita Dokumen hingga BBE Usai Geledah Kantor Ombudsman

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:06

Menkop Dorong Penerima Bansos Jadi Anggota Kopdes Merah Putih

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:04

PB PMII Tolak Pelantikan DPD KNPI Sulawesi Selatan

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:54

Rupiah Melemah ke Rp17 Ribu, Pemerintah Minta Publik Tak Khawatir

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:44

Dua Mantan Ketua MK Diundang DPR Bahas Isu Revisi UU Pemilu

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:39

Sahroni Dukung Pesan Prabowo agar Rakyat Tidak Kaget

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:32

Japto Soerjosoemarno Tuding Wartawan Tukang Goreng Berita

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:17

Sahroni Auto Debet Gaji ke Kitabisa hingga Akhir Masa Jabatan

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:11

Retreat Kepala Daerah Dipertanyakan Usai Maraknya OTT

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:09

Arogansi Trump Ancam Tatanan Dunia yang Adil

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:01

Selengkapnya