Berita

KH Jamaluddin F Hasyim/Ist

Publika

Ulama Dibela, Ulama Dinista

OLEH: KH JAMALUDDIN F HASYIM*
SELASA, 13 AGUSTUS 2024 | 10:56 WIB

GEMPURAN terhadap ulama adalah suatu hal yang mesti (necessary) dilakukan dalam rangka menggerus otoritas keagamaan yang ada pada mereka. 

Banyak cara bisa dilakukan untuk menggerus bahkan merusak suatu tatanan masyarakat religius. Pertama, tanamkan keraguan terhadap otentisitas kitab suci dan teks keagamaan lainnya. 

Dimulai dari mempertanyakan keaslian sumber kitab suci, lalu muncul tafsir-tafsir dari berbagai pihak yang tidak otoritatif dengan penafsiran "semau gue". 


Langkah berikutnya adalah menggerus pengaruh tokoh agama dengan mempertanyakan otoritasnya dan mengungkap keburukan oknum tokoh agama yang menyimpang untuk kemudian digeneralisir sebagai rusaknya semua tokoh agama dan karenanya tidak perlu diikuti lagi. 

Tokoh-tokoh baru pun dimunculkan, meskipun dengan kompetensi yang belum jelas. Yang penting muncul idola baru dan menggeser umat dari tokoh utama yang sudah eksis. Di sini umat mulai kehilangan pegangan, dari kitab suci yang dipertanyakan hingga tokoh ulama yang dinistakan. 

Umat semakin sering disuguhkan cara beragama baru yang makin dipopulerkan oleh media yang ada. Media memang suka yang kontroversial, istilahnya bad news is good news. 

Harus diakui, pihak yang paling mudah dilibatkan dalam pendangkalan iman itu adalah mereka yang dekat dengan pemikiran liberal. 

Sesuai istilahnya, kaum liberal adalah mereka yang berusaha melepaskan diri dari belenggu otoritas apa pun, termasuk agama. 

Dengan dukungan dana dan publikasi media yang luas, mereka mudah mendapatkan panggung perhatian masyarakat.

Apakah ini yang terjadi saat ini pada umat Islam? Ketika umat ini setiap hari berada dalam pusaran konflik antara satu pemikiran dengan pemikiran lainnya. 

Seakan ada yang mengorkestrasi untuk kemudian pelan-pelan menuju konflik terbuka dan bahkan konflik fisik.  

Segmen umat Islam terbesar saat ini adalah kaum Aswaja, penganut Asy'ariah dan bermazhab. Kelompok di luar Aswaja masih sibuk membangun dirinya dan tidak mau masuk dalam pusaran konflik. 

Kaum Aswaja saat ini terbelah antara pendukung kiai pribumi dan muhibbin Habaib. Benturan demi benturan terjadi, khususnya di ranah media sosial. 

Kecaman, caci maki, sahut-menyahut, terjadi antara kedua kubu. Objektivitas ilmiah sudah bergeser ke arah fanatisme buta. Pembelaan tanpa reserve kepada yang didukung begitu menguras energi dan emosi. 

Atmosfer informasi menjadi keruh, sekeruh hati mereka yang berkonflik. Dalam situasi seperti ini, kita patut bertanya, ini ujungnya kemana? 

Apakah konflik ini bermanfaat bagi umat atau justru memperlemah umat, padahal tantangan umat semakin berat. Lupakah dengan isu Palestina, ancaman LGBT, hingga kontrol terhadap kasus-kasus besar korupsi yang merugikan bangsa?

Bisakah kita mengambil posisi sebagai pihak yang betul-betul netral, melihat dan menimbang dengan tenang, mengukur secara objektif, lalu menyimpulkan dengan acuan kaidah ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan? 

Apakah kita kehilangan sosok-sosok pemersatu yang merelakan diri menjadi jembatan penengah agar konflik mereda menuju persatuan kembali? 

Jawabannya ada pada kita semua.

*Penulis adalah Ketua Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya