Berita

Partai Golkar/RMOLNetwork

Publika

Parpol, Golkar, dan Demokrasi

SELASA, 13 AGUSTUS 2024 | 10:06 WIB | OLEH: KHALID ZABIDI

MUNDURNYA Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto menjadi pemicu dinamika internal dalam beberapa hari ini. Mundurnya Airlangga membuat perdebatan meluas, baik di kalangan internal Golkar maupun masyarakat luas.

Pertanyaan yang muncul adalah: Mengapa Airlangga mundur? Siapa pengganti Airlangga? Apakah ada tekanan? Siapa yang menekan? Golkar mau diambil Jokowi?

Dinamika Partai Golkar ini menjadi sangat penting karena setidaknya 2 hal, arah politik Golkar ke depan dan perkembangan demokrasi di Indonesia.


Seperti kita ketahui bersama, partai politik adalah salah satu pilar demokrasi. Keberadaan partai politik menjadi sendi perkembangan demokrasi suatu negara, Golkar satu dari sekian banyak parpol yang membentuk wajah politik kebangsaan dan politik kenegaraan di Republik ini. Ini sangat tepat digambarkan oleh LBP saat mengatakan dalam videonya bahwa Partai Golkar adalah aset berharga Republik Indonesia.

Memang begitu adanya, lahirnya partai politik dari cita-cita mewujudkan masyarakat yang bebas menentukan kehendaknya sendiri berdasarkan konsensus pada aturan-aturan nilai normatif membentuk suatu kontrak sosial yang saling menjaga hak kebebasan dan kewajiban dalam suatu masyarakat, suatu bangsa.

Jangan sampai cita-cita ini dilupakan begitu saja oleh para kader partai politik, oleh para kader Golkar.

Berpartai bukan soal sekadar merebut kekuasaan, mencari posisi dan kedudukan sosial yang mentereng, berpartai juga harus terus mengingat dan merapal bacaan-bacaan sejarah, ideologi, nilai-nilai dan cita-cita kebangsaan dan pertanyaan mendasar mengapa partai politik itu perlu ada.

Kini, kita dipertontonkan suatu power game, bagaimana kekuasaan berupaya mengendalikan power-nya dengan yang kasar dan vulgar. Menyudutkan seorang ketua umum partai dengan cara menyakitkan, ancaman, tekanan, dan tangan kekuasaan yang garang.

Dalam istilah olahraga sepak bola adalah "main kayu", kasar yang penting menang.

Tidak ada lagi power game yang bermartabat, elegan, dan demokratis. Apa susahnya bagi penguasa untuk melakukan pendekatan yang lebih halus, lembut tidak menyakitkan merebut hati?

Sudah sekian kali, Partai Golkar dijadikan samsak kekuasaan, ingat, Golkar dibelah dua, ketua umum terdahulu dikejar-kejar seperti tikus, sekjen dipenjara dan kini ketua umum diancam mundur.

Saya pikir sudah cukup Golkar diperlakukan seperti ini walau memang kita sama-sama ketahui jika soal kasus hukum, memang tidak boleh permisif dan tetap harus dukung penegakan hukum tegak berdiri.

Gonjang-ganjing Partai Golkar tidak berdiri sendiri, ada partai politik lain yang sedang di ambang badai serangan api, mau didongkel, mau direbut dan mau dipaksa nunut.

Jika Partai Golkar berhasil mengelola dinamika ini menjadi sebuah momentum  kesetimbangan politik baru yang lebih bebas dan terbuka, tentu ini akan jadi preseden yang baik buat partai politik lainnya menemukan jalan sendiri dalam power game yang lebih cantik.

Demokrasi membuat bangsa ini menjadi bebas menentukan arahnya sendiri, rakyat mempunyai kebebasan berkehendak sendiri atas dirinya di masa kini dan masa depan.

Demokrasi menjaga keseimbangan kekuatan dan keadilan, demokrasi menghargai perbedaan, demokrasi memperlihatkan keindahan berpolitik, bisa berbeda, bisa bersama, bisa bertanding juga bisa bersanding.

Demokrasi menjamin kemajuan bangsa, Daron Acemoglu dalam bukunya Why Nation Fails menuliskan bahwa negara yang menerapkan demokrasi in the long run akan lebih sejahtera dibandingkan negara otoriter karena dalam demokrasi ada partisipasi, ada keterbukaan dan ada interaksi yang sehat di antara komponen masyarakat demi kemajuan yang hakiki.

Penulis adalah Golkar garis keras

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Tiga Tahun UU TPKS: DPR Soroti Masalah Penegakan Hukum dan Temuan Kasus di Lapas

Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08

Komisi III DPR Mulai Bahas RUU Perampasan Aset Tindak Pidana

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:48

Utang Luar Negeri Indonesia Kompak Menurun

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:34

Giliran Ketua DPD PDIP Jawa Barat Ono Surono Diperiksa KPK di Kasus OTT Bupati Bekasi

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:19

Muncul Tudingan Pandji Antek Asing di Balik Kegaduhan Mens Rea

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:04

Emas Antam Naik Terus, Tembus Rp2,67 Juta per Gram!

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:54

KPK Tak Segan Tetapkan Heri Sudarmanto Tersangka TPPU

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:43

TAUD Dampingi Aktivis Lingkungan Laporkan Dugaan Teror ke Bareskrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:28

Istana Ungkap Pertemuan Prabowo dan Ribuan Guru Besar Berlangsung Tertutup

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:27

Update Bursa: BEI Gembok Saham Tiga Saham Ini Akibat Lonjakan Harga

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:17

Selengkapnya