Berita

Ilustrasi (Foto: bloomberg.com)

Bisnis

Konglomerat India Rugi Rp38 Triliun, IHSG Belum Rawan

SELASA, 13 AGUSTUS 2024 | 08:19 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Jalannya sesi perdagangan saham di Wall Street akhirnya mirip dengan bursa saham Asia dalam membuka pekan ini. Pantauan memperlihatkan sikap investor di Wall Street yang mencoba bertahan optimis namun kesulitan mendapat pijakan sentimen yang memadai. Akibatnya, aksi akumulasi dengan mudah terimbangi aksi jual hingga menghantarkan Indeks berakhir mixed.

Dalam sesi perdagangan yang berakhir beberapa jam lalu itu, seluruh indeks terlihat terjebak dalam rentang gerak sempit. Indeks DJIA menurun moderat 0,36 persen di 39.357,01 sementara indeks S&P500 ditutup flat di 5.345,39, dan indeks Nasdaq yang naik basa-basi 0,21 persen dengan menjejak posisi 16.780,61. Serangkaian laporan menyebutkan, sikap pelaku pasar yang semakin menantikan rilis data inflasi penting yang akan dilakukan Rabu besok untuk menentukan arah Indeks.

Pelaku pasar juga akan mencermati rilis data indeks harga grosir yang akan dilakukan pada Selasa malam nanti waktu Indonesia Barat. Sementara pantauan lebih rinci menyangkut saham-saham terkemuka yang bergerak menonjol dalam sesi kali ini masih dominasi Saham Teknologi. Saham Dexcom Inc tercatat menguat 2,1 persen, Nvidia Corp melompat 4,1 persen, dan Super Micro Computer yang melambung 6,3 persen. Namun secara keseluruhan, gerak tajam saham teknologi masih jauh dari mampu untuk melonjakkan indeks dalam taraf signifikan.


Laporan terkini dari sesi perdagangan after hours, Selasa pagi Ini waktu Indonesia Barat 13 Agustus 2024, juga menunjukkan gerak Indeks Wall Street yang masih. terjebak dalam rentang sempit.

Dengan bekal sesi perdagangan Wall Street yang tidak meyakinkan ini, sesi perdagangan di Asia rawan untuk terseret di pola yang sama. Pantauan terkini dari bursa saham utama Asia memperlihatkan, gerak Indeks yang identik berada di rentang moderat. Indeks Nikkei (Jepang) melonjak 2,44 persen di 35.878,62, Indeks KOSPI (Korea Selatan) naik tipis 0,17 persen di 2.622,76, dan indeks ASX200 (Australia) turun moderat 0,07 persen di 7.808,1.

Pantauan juga menunjukkan, sikap pelaku pasar yang mungkin akan terarah pada kasus skandal besar di India. Sejumlah laporan yang beredar sebelumnya menyatakan, pimpinan otoritas Bursa India yang dituding terlihat dalam kasus yang membelit konglomerasi terbesar di negeri Bollywood itu, Adani Group. Laporan yang disebar oleh lembaga riset asal Amerika Serikat, Hindenburg itu menyebut bahwa pimpinan otoritas Bursa India, Madhabi Puri Bach yang memiliki saham di perusahaan Investasi di luar negeri yang dimiliki oleh Adani Group.

Rilis tersebut kemudian menghantam saham-saham group Adani di Bursa India hingga memangkas kekayaan Adani Group sebesar Rp38 triliun. Adani Group merupakan konglomerasi terbesar India hingga saat ini bersama dengan group Ambani.

Catatan tim riset RMOL menunjukkan, sejumlah agenda rilis data perekonomian terkini yang kurang signifikan akan mendapat perhatian investor di sesi hari ini, di tengah minimnya sentimen. Diantaranya rilis data Business confidence di Australia pada jam 08.30 wib, yang kemudian disusul rilis data tingkat pengangguran di Inggris pada jam 13.00 wib, dan data indeks harga grosir ppi di Amerika Serikat pada malam nanti jam 19.30 WIB.

Situasi di Bursa saham regional dan global yang kurang meyakinkan ini diperkirakan akan berimbas pada sesi perdagangan di Jakarta. Terlebih gerak naik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi perdagangan kemarin terkesan sedikit dipaksakan untuk menguat lebih tinggi menjelang detik detik penutupan sesi.

Minimnya sentimen yang hadir, menjadikan IHSG berisiko terdampar di di zona koreksi, namun gerak rentang sempit masih akan menjadi opsi paling mungkin bagi IHSG. Secara keseluruhan, posisi IHSG masih belum rawan, bahkan peluang IHSG untuk kembali menghijau masih terbuka, namun terlalu sulit untuk bertahan dengan solid.

Pola berbeda diperkirakan akan mendera nilai tukar Rupiah di mana dalam dua hari sesi perdagangan terakhir mengalami koreksi usai melonjak spektakuler pekan lalu. Gerak koreksi pada dua hari sesi terakhir terlihat kurang mendapatkan sokongan dari situasi di pasar global. Rupiah, oleh Karenanya, sangat berpeluang untuk mampu berbalik menguat di sesi perdagangan hari ini. Namun rentang terbatas akan kembali menjadi pilihan paling mungkin.

Laporan terkini dari sesi perdagangan Asia pagi ini menunjukkan gerak mata uang utama Dunia yang masih relatif tenang, di mana pelaku pasar mason menantikan arahan dari rilis data indeks harga grosir (ppi) nanti malam.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

UPDATE

Nina Agustina Tinggalkan PDIP, lalu Gabung PSI

Kamis, 05 Maret 2026 | 16:10

KPK Panggil Pimpinan DPRD Madiun Ali Masngudi

Kamis, 05 Maret 2026 | 16:08

Bareskrim Serahkan Rp58 Miliar ke Negara Hasil Eksekusi Aset Judol

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:53

KPK Panggil Lima Orang terkait Korupsi Pemkab Lamteng, Siapa Saja?

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:26

Dua Pengacara S&P Law Office Dipanggil KPK

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:20

Legislator PKS: Bangsa yang Kuat Mampu Produksi Kebutuhan Pokok Sendiri

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:16

Perketat Pengawasan Transportasi Mudik

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:09

Evakuasi WNI dari Iran Harus Lewati Jalur Aman dari Serangan

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:02

BPKH Gelar Anugerah Jurnalistik 2026, Total Hadiah Rp120 Juta

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:01

TNI Tangani Terorisme Jadi Ancaman Kebebasan Sipil

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:00

Selengkapnya