Berita

Peraih Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus/Benar News

Global

Peraih Nobel Muhammad Yunus Resmi Pimpin Pemerintahan Sementara Bangladesh

RABU, 07 AGUSTUS 2024 | 14:48 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Setelah pengunduran diri Sheikh Hasina, kini Bangladesh akan dipimpin oleh pemerintahan sementara yang diketuai oleh peraih Nobel Perdamaian,  Muhammad Yunus.

Keputusan itu diambil selama pertemuan Presiden Bangladesh Mohammed Shahabuddin dan para pemimpin Gerakan Mahasiswa Anti Diskriminasi yang mendalangi protes anti-pemerintah.

Sekretaris pers presiden, Joynal Abedin mengatakan bahwa penunjukkan Yunus sebagai kepala pemerintahan sementara telah disetujui dan prosesnya akan difinalisasi dalam beberapa hari.


"Negara ini sedang mengalami krisis yang dalam dan untuk menyelesaikan masalah ini, pemerintahan sementara harus dibentuk sesegera mungkin," kata Presiden Shahabuddin, seperti dikutip dari Bangladesh Sangbad Sangstha pada Rabu (7/8).

Dikatakan bahwa pimpinan tiga divisi militer Bangladesh serta anggota masyarakat sipil lainnya berpartisipasi dalam rapat yang berlangsung pada Selasa malam (6/8) dari pukul 07.30 hingga 11.30 waktu setempat.

Sebelum pertemuan digelar, Gerakan Mahasiswa Anti Diskriminasi telah lebih dulu melakukan pembicaraan dengan Yunus agar dia mau memimpin Bangladesh.

Mereka tegas menolak pemerintahan yang dipimpin militer maupun yang dibentuk para sekutu Hasina.

"Kami tidak akan menerima pemerintah kecuali yang diusulkan oleh mahasiswa dan rakyat," tegas gerakan tersebut.

Yunus dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2006 karena mengembangkan sistem kredit mikro untuk meminjamkan sejumlah kecil uang dalam bentuk pinjaman jangka panjang kepada mereka yang menderita kemiskinan dalam upaya untuk mengangkat status keuangan mereka.

Pengangkatan Yunus dilakukan setelah Hasina mengundurkan diri pada hari Senin (5/8).dan meninggalkan negara itu karena para pengunjuk rasa menyerbu kediamannya di ibu kota Dhaka.

Protes tersebut dimulai awal Juli oleh mahasiswa Universitas Dhaka yang berdemonstrasi menentang sistem kota PNS untuk keluarga veteran.

Demonstrasi, yang dipicu oleh pengangguran yang tinggi, telah ditanggapi dengan kekerasan brutal oleh otoritas keamanan, mengakibatkan lebih dari 400 orang meninggal dunia.

Pada Selasa (6/8), Presiden Shahabuddin membubarkan Parlemen, membuka jalan bagi pemerintahan sementara dan pemilihan umum baru yang akan diadakan.

Bangladesh juga telah membebaskan mantan Perdana Menteri Begum Khaleda Zia, saingan perdana menteri yang digulingkan dan pemimpin Partai Nasionalis Bangladesh.

Keputusan pembebasan Zia dilakukan setelah pertemuan antara tiga ketua angkatan militer, para pemimpin berbagai partai politik, dan Gerakan Mahasiswa Anti Diskriminasi.

Tarique Rahman, ketua Partai Nasionalis Bangladesh yang mengasingkan diri, juga dilaporkan akan segera kembali ke negara itu.

Populer

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya