Berita

Ilustrasi (Asia.nikkei.com)

Bisnis

Laporan Intel Hadirkan Jumat Keramat, IHSG dan Rupiah Rawan

JUMAT, 02 AGUSTUS 2024 | 22:11 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Sentimen dengan cepat dan mengejutkan berbalik pada sesi perdagangan Kamis 1 Agustus 2024 di Bursa Wall Street. Pelaku pasar kini mulai menilai kebijakan penurunan suku bunga oleh The Fed yang mungkin terlalu lamban. Aksi jual panik menjadi tak tertahankan dan sekaligus berpadu dengan profit taking usai lonjakan tinggi di sesi perdagangan sebelumnya.

Data perdagangan terbaru, seluruh Indeks Wall Street hancur dalam koreksi tajam hingga mulai menumbuhkan ketakutan terjadinya resesi. Indeks DJIA terpangkas curam 1,21 persen dengan menutup di 40.347,97, sementara indeks S&P500 runtuh 1,37 di 5.446,68 dan indeks Nasdaq terbabat parah 2,3 persen di 17.194,15.

Laporan lebih jauh juga menunjukkan, gerak koreksi Indeks Wall Street yang masih berlanjut hingga sesi trading after hours dengan dipicu oleh rilis kinerja kuartalan emiten teknologi terkemuka, Intel Corp., yang suram.


Lebih lanjut disebutkan, laporan Intel yang semakin buruk dengan rencana pemecatan hingga lebih dari 15 persen pekerjanya untuk mencapai target penghematan hingga $10milyar. Perusahaan kenamaan itu juga tidak akan membagikan dividend serta menurunkan belanja modal hingga 20 persen. Laporan ini melengkapi suramnya kinerja kuartalan yang di bawah ekspektasi investor.

Berpadu dengan laporan kuartalan buruk dari emiten teknologi terkemuka lainnya, Amazon, tekanan jual akhirnya membanjir hingga menghempaskan harga saham dalam rentang tajam. Pantauan RMOL menunjukkan harga saham Intel yang terpangkas brutal hingga kisaran 20 persen menyusul rilis kinerja suram tersebut, sementara Saham Amazon ambruk hingga 7 persen.

Bekal buruk dari sesi perdagangan Wall Street ini kemudian dengan cepat menjalar hingga sesi perdagangan pagi akhir pekan, Jumat 2 Agustus 2024 di Asia. Pelaku pasar dengan cepat tenggelam dalam kepanikan hingga meruntuhkan Indeks dalam rentang yang lebih tragis.

Indeks Nikkei di Bursa Saham Jepang terjungkal 4,28 persen di 36.494,78, sementara Indeks KOSPI (Korea Selatan) terpangkas 2,07 persen di 2.720,19 dan indeks ASX 200 (Australia) merosot 2,04 persen di 7.948,8. Laporan Intel dengan demikian telah berhasil menghadirkan kutukan Jumat Keramat di Bursa Saham Utama Asia akhir pekan ini.

Sesi perdagangan penutupan pekan di Bursa Saham Indonesia, oleh karenanya kini menjadi rawan dan terancam terseret dalam kepanikan global. Untuk dicatat, gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Pada sesi perdagangan kemarin yang mampu melakukan lonjakan tertajam di Asia dengan melompat hingga 0,97 persen. Sentimen akan menjadi lebih suram pada Jumat malam nanti waktu Indonesia Barat, ketika otoritas AS merilis data NFP (non-farm payroll) dan tingkat pengangguran untuk bulan Juli.

Saham-saham unggulan yang telah terlanjur melonjak tak tertahankan pada sesi perdagangan kemarin kini terancam segera berbalik runtuh untuk menenggelamkan IHSG dalam rentang signifikan.

Situasi serupa juga dimungkinkan untuk mendera nilai tukar Rupiah. Gerak menguat yang telah berhasil dibukukan Rupiah dalam beberapa hari sesi perdagangan terakhir sangat mungkin untuk terpupus di Jumat keramat. Hal ini terlebih merujuk pada situasi terkini di pasar uang global, di mana seluruh mata uang utama Dunia yang kompak terjerumus dalam zona merah. Lagi-lagi mata uang Dolar Australia dan Dolar Kanada menjadi yang paling terpuruk akibat mendapat sorotan tambahan dari runtuhnya Harga minyak dunia.

Pantauan terkini di pasar uang pada sesi perdagangan Asia menunjukkan, nilai tukar Dolar Kanada yang kini telah terpuruk hingga di titik terendahnya dalam lebih dari 9 bulan. Sedangkan Dolar Australia mulai mendekati titik terlemahnya dalam hampir 4 bulan.

Sekalipun demikian, pelemahan Rupiah, bilapun terjadi, sangat mungkin akan berada di rentang terbatas. Tetapi sesi perdagangan awal pekan depan akan menjadi tantangan yang lebih berat bagi Rupiah.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Nilai TKA Siswa SD-SMP Jeblok, Program MBG Dipertanyakan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:30

UPDATE

13 Langkah Komprehensif Kuatkan Rupiah

Rabu, 03 Juni 2026 | 06:11

Dua Guru Magelang Didakwa Korupsi Modus Pungli Peserta PPG

Rabu, 03 Juni 2026 | 06:00

Bukan Dapur Asal Ngebul

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:26

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

Putusan MK soal Keterwakilan Kuota Perempuan Berikan Keadilan Gender

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:14

Syafrin Liputo Dituntut Bawa Jaksel Lebih Maju, Inklusif, dan Sejahtera

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:01

2.081 Polisi Kawal Ketat Piala AFF U-19 2026

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:22

Korban Kebakaran Kemayoran

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:19

Multipolaritas Harus Jadi Jalan Kerja Sama, Bukan Konfrontasi

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:09

KDM Sikat PKL Usai 30 Tahun Berkuasa di Bandung

Rabu, 03 Juni 2026 | 03:45

Selengkapnya