Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

China Kewalahan Hadapi Utang Pemda Hingga 13 Triliun Dolar

JUMAT, 12 JULI 2024 | 15:21 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Perekonomian China yang lesu akibat krisis properti, kini semakin memburuk dengan permasalahan utang pemerintah daerah yang terus membengkak.

Hutang yang diajukan Pemda China pada LGFV (Local Government Financing Vehicle) atau perusahaan investasi yang membiayai pengembangan real estate dan proyek infrastruktur lokal telah mencapai 13 triliun dolar AS.

Utang dengan jumlah tersebut hampir menyamai PDB tahunan China sebesar 17 triliun dolar AS.


Risiko gagal bayar dari pengembang properti besar dan melonjaknya utang LGFV menjelaskan kekhawatiran investor global terhadap stabilitas perekonomian China.

Mengutip Bloomberg pada Jumat (12/7), Partai Komunis China yang dipimpin Xi Jinping dijadwalkan menggelar rapat untuk merancang solusi atas utang yang sangat besar pada 15 hingga 18 Juli mendatang.

Diperkirakan Xi bakal mengizinkan pemerintah daerah untuk mempertahankan bagian yang lebih besar dari pendapatan fiskal mereka, yang saat ini mengalir ke Beijing.

Hal ini dapat menjadi langkah penting untuk meningkatkan investasi di sektor manufaktur bernilai tinggi dan memperkuat konsumsi domestik yang lesu.

Peningkatan pendapatan akan memberdayakan pemerintah daerah untuk berinvestasi lebih banyak pada industri yang inovatif dan meningkatkan produktivitas, sehingga mengurangi ketergantungan mereka pada penjualan properti dan tanah untuk kelangsungan hidup.

Fokus yang terus berlanjut pada pengurangan utang pada sektor perumahan dan LGFV terus memberikan tekanan pada pertumbuhan.

Baru-baru ini, LGFV kesulitan menerbitkan obligasi karena upaya regulasi yang intensif untuk memitigasi risiko di salah satu sektor yang paling banyak dililit utang di Tiongkok.

Laura Li dari Standard & Poor’s menyoroti pengetatan peraturan yang sedang berlangsung, sehingga semakin menantang bagi LGFV dengan peringkat rendah, bahkan dari provinsi kaya seperti Jiangsu dan Zhejiang, untuk menerbitkan obligasi di masa depan.

Namun, mengizinkan pemerintah daerah untuk memperoleh lebih banyak pendapatan pajak dapat mengubah insentif secara signifikan.

Ekonom Jonathon Sine menjelaskan bahwa Beijing sebelumnya lebih suka mengendalikan pendapatan untuk pemerintahan dan redistribusi.

Masalahnya terletak pada sistem transfer antar pemerintah, dimana dana didistribusikan dari Beijing ke provinsi, lalu ke kota besar, kabupaten, dan kotapraja.

"Proses ini bisa memakan waktu lebih dari satu tahun, sehingga menimbulkan inefisiensi," ungkapnya.

Menurut Sine, dengan mereformasi sistem keuangan yang kompleks ini, China dapat meningkatkan efisiensi ekonominya dan mendekatkan Xi pada tujuannya yakni meningkatkan kualitas perekonomian nasional.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Istana Minta Kritik terhadap BI Dijadikan Evaluasi Penguatan Komunikasi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:23

Kursi Dua Wamen Kosong, Pemerintah Belum Siapkan Pengganti

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:10

Mensesneg soal Kabar Said Iqbal Masuk Kabinet: Masih Didiskusikan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:59

Mubes V Kosgoro 1957 Digoyang Penolakan Daerah

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:52

AS Hantam Iran dengan Sanksi Baru, Jaringan Penyelundupan LPG Jadi Target

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:37

Istana Bantah Isu Menkeu dan Gubernur BI Bakal Dicopot

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:31

Prasetyo Hadi: Sinergi Pemerintah, DPR, dan BI Kunci Jaga Stabilitas Ekonomi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:20

Bank Indonesia Sudah Intervensi, Mengapa Rupiah Tetap Melemah?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:08

Menkeu Purbaya Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Lesu

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:47

Daftar Komoditas Dirilis, Danantara SDI Siap Kendalikan Rezim Baru Ekspor RI

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:21

Selengkapnya