Berita

Sidang putusan terdakwa Syahrul Yasin Limpo, Muhammad Hatta dan Kasdi Subagyono/RMOL

Hukum

Divonis 10 Tahun Penjara, Syahrul Yasin Limpo dan JPU KPK Kompak Pikir-pikir

KAMIS, 11 JULI 2024 | 16:14 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga mantan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) kompak mengambil sikap pikir-pikir selama 7 hari ke depan untuk menyikapi putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Usai mendengarkan putusan atau vonis dari Majelis Hakim dalam kasus dugaan korupsi berupa pemerasan terhadap pejabat di lingkungan Kementerian Pertanian (Kementan), para terdakwa hingga tim JPU diberikan kesempatan Majelis Hakim untuk mengambil sikap.

Kesempatan pertama diberikan untuk terdakwa SYL. Tim Penasihat Hukum (PH) terdakwa SYL, Djamaluddin Koedoeboen mengatakan, pihaknya mengambil sikap untuk pikir-pikir selama 7 hari.


"Kami dari PH Pak SYL tadi telah berembug bersama, berdiskusi, dan akhirnya pada satu kesimpulan bahwa untuk saat ini kami diberikan kesempatan untuk pikir-pikir terlebih dahulu, baru kemudian kami akan mengambil sikap," kata Djamaluddin, Kamis (11/7).

Kesempatan juga diberikan kepada PH terdakwa Muhammad Hatta selaku mantan Direktur Alsintan Kementan, dan terdakwa Kasdi Subagyono selaku mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementan. Kedua pihak dimaksud juga mengambil sikap untuk pikir-pikir.

Kesempatan selanjutnya diberikan kepada tim JPU KPK. Salah satu tim JPU KPK, Meyer Simanjuntak mengatakan, pihaknya mengapresiasi atas segala putusan yang telah dijatuhkan Majelis Hakim kepada para terdakwa.

"Selanjutnya setelah kami berdiskusi, kami pun mengambil sikap untuk berpikir-pikir, dalam rangka mempelajari putusan yang telah dijatuhkan yang mulia, untuk kemudian kami mengambil langkah atau sikap selanjutnya," terang Jaksa Meyer.

Karena semua pihak mengambil sikap pikir-pikir kata Hakim Ketua, Rianto Adam Pontoh, maka putusan Majelis Hakim saat ini belum dinyatakan telah berkekuatan hukum tetap atau inkrah.

"Oleh karena masing-masing sikap ya, dari tim terdakwa dan tim penasihat terdakwa dan dari tim penuntut umum untuk berpikir-pikir selama 7 hari, maka perkara ini belum inkrah, belum berkekuatan hukum tetap. Karena masih ada waktu tujuh hari untuk menyatakan sikap. Silahkan gunakan waktu itu jangan sampai lewat 7 hari," kata Hakim Ketua, Rianto Adam Pontoh.

Dalam putusannya, Majelis Hakim menghukum SYL dengan pidana selama 10 tahun penjara dan denda Rp300 juta subsider 4 bulan kurungan, serta uang pengganti sebesar Rp14.147.144.786 (Rp14 miliar) dan 30 ribu Dolar AS subsider 2 tahun kurungan.

Sedangkan untuk kedua terdakwa lainnya, yakni Muhammad Hatta selaku mantan Direktur Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) Kementan, dan terdakwa Kasdi Subagyono selaku mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementan, masing-masing divonis pidana 4 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider 2 bulan kurungan.

Putusan itu diketahui lebih ringan dibanding tuntutan tim JPU KPK. Di mana, JPU KPK menuntut agar terdakwa SYL divonis penjara selama 12 tahun dan denda Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan, serta bayar uang pengganti Rp44.269.777.204 (Rp44,2 miliar) dan 30 ribu Dolar AS dikurangi dengan jumlah uang yang telah disita dan dirampas subsider 4 tahun kurungan.

Sedangkan tuntutan untuk terdakwa Muhammad Hatta dan terdakwa Kasdi Subagyono, masing-masing dengan pidana selama 6 tahun penjara dan denda Rp250 juta subsider 3 bulan kurungan.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Wall Street Hijau di Tengah Harapan Meredanya Konflik AS-Iran

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:23

Di Balik Sensor Istana: Diksi Nuklir Prabowo dan Bantahan Kilat Teheran

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:10

Pelatih Vietnam Bongkar Rahasia Usai Permalukan Indonesia 3-0

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:04

Tanggapi MK, Menkeu Pastikan Anggaran MBG Tidak Mengganggu APBN

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:47

Menhaj Lantik 6 Pejabat Kemenhaj untuk Perkuat Pelayanan Haji dan Umrah

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:46

Bunga Pinjaman Turun, Bulog Hemat hingga Rp1,07 Triliun per Tahun

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:35

Pasar Logam Mulia Tertekan, Emas Masih Berkutat di 4.000 Dolar AS

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:18

Bursa Eropa Cetak Rekor, DAX 40 Tembus 26.000 Poin

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:07

Sekolah Nasional Terintegrasi: Tantangan Pendidikan dan Implementasi Rekonstruksi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:46

BGN Anggap Putusan MK Justru Perkuat Program MBG

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:27

Selengkapnya