Berita

Politikus Golkar Ridwan Kamil/Ist

Politik

Survei Indikator Politik: RK Ungguli Dedi Mulyadi hingga Desy Ratnasari

SABTU, 06 JULI 2024 | 03:48 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Politikus Golkar Ridwan Kamil masih menjadi kandidat tertinggi dalam hasil survei untuk Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat (Pilgub) 2024.

Hal itu terlihat dari hasil survei yang dirilis oleh Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia yang dilakukan pada tanggal 20-27 Juni 2024. Kang Emil begitu sapaannya unggul dalam berbagai simulasi hasil survei.

Dalam simulasi 12 nama kandidat, Ridwan Kamil unggul dengan 44,5 persen disusul Dedi Mulyadi 33,2 persen, Survei Indikator Politik: Ridwan Kamil Ungguli Dedi Mulyadi  


Dalam simulasi 12 nama kandidat, Ridwan Kamil unggul dengan 44,5 persen disusul Dedi Mulyadi 33,2 persen, Dede Yusuf 5,4 persen, Bina Arya 2,2 persen, Desy Ratnasari 1,8 persen, Haru Suandharu 1,2 persen, Ono Surono 1,1 persen dan nama lain seperti Uu Ruzhanul Ulum, Ilham Akbar Habibie, M Iriawan, Taufik Hidayat, dan Syaiful Huda yang angkanya kurang dari satu persen.

Founder dan Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengatakan bahwa popularitas dan kesukaan Ridwan Kamil sudah maksimum di 96 persen tahu dan 92 persen suka.

Dalam variabel alasan memilih, Kang Emil dipilih karena sudah punya bukti nyata hasil kerjanya serta berpengalaman di pemerintahan. Hal itu juga terlihat dari hasil survei kepuasan publik terhadap kinerja Ridwan Kamil saat jadi Gubernur Jabar.

"Kekuatan Ridwan Kamil dipersepsikan sukses ada di faktor bukti kinerja atau teknokratis," kata Burhanuddin, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (5/7).

Menanggapi hal itu, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Karim Suryadi mengungkapkan ada empat catatan dari hasil survei terbaru Indikator Politik Indonesia.

Pertama, kata Karim, dari sejumlah nama yang beredar Pilkada Jabar hanya terbagi menjadi dua kubu yakni Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi.

"Kedua, ini penting bagi Golkar dan Gerindra. Karena bagi Golkar untuk memenangkan Pilkada Jabar jangan tarik Ridwan Kamil ke Jakarta," jelasnya

"Dan penting bagi Gerindra satu-satunya cara memenangkan Dedi Mulyadi ya mengeluarkan Ridwan Kamil dari Jabar. Jadi ini pesan yang hitam putih nyaris tidak ada cara mengalahkan Ridwan Kamil selain mencabut dari Jabar," tambahnya.

Ketiga, sambung Karim, berdasarkan pengamatannya nama Ridwan Kamil selalu masuk dalam persepsi masyarakat Jabar dalam konteks gubernur.

"Artinya habitat politik Ridwan Kamil ya Jabar. Apalagi tingkat kepuasan juga tinggi terhadap kinerja Ridwan Kamil," kata Karim dikutip dari Kantor Berita RMOLJabar.

Keempat, hasil survei yang Ridwan Kamil saat ini diperoleh secara pasif atau tanpa ada upaya apapun dalam lingkup Pilkada Jabar. Adapun nama Ridwan Kamil ramai diperbincangkan hanya dalam konteks Pilkada DKI Jakarta.

Untuk diketahui, populasi survei ini adalah warga negara Indonesia di Provinsi Jawa Barat yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah dan memiliki telepon/cellphone.

Sampel sebanyak 1214 responden dipilih melalui metode Double Sampling. Double Sampling adalah pengambilan sampel secara acak dari kumpulan data hasil survei tatap muka yang dilakukan sebelumnya.

Margin of error survei diperkirakan 2.8% pada tingkat kepercayaan 95%, asumsi simple random sampling. Wawancara dengan responden dilakukan lewat telepon oleh pewawancara.


Politikus Golkar Ridwan Kamil/Ist5,4 persen, Bina Arya 2,2 persen, Desy Ratnasari 1,8 persen, Haru Suandharu 1,2 persen, Ono Surono 1,1 persen dan nama lain seperti Uu Ruzhanul Ulum, Ilham Akbar Habibie, M Iriawan, Taufik Hidayat, dan Syaiful Huda yang angkanya kurang dari satu persen.

Founder dan Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengatakan bahwa popularitas dan kesukaan Ridwan Kamil sudah maksimum di 96 persen tahu dan 92 persen suka.

Dalam variabel alasan memilih, Kang Emil dipilih karena sudah punya bukti nyata hasil kerjanya serta berpengalaman di pemerintahan. Hal itu juga terlihat dari hasil survei kepuasan publik terhadap kinerja Ridwan Kamil saat jadi Gubernur Jabar.

"Kekuatan Ridwan Kamil dipersepsikan sukses ada di faktor bukti kinerja atau teknokratis," kata Burhanuddin, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (5/7).

Menanggapi hal itu, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Karim Suryadi mengungkapkan ada empat catatan dari hasil survei terbaru Indikator Politik Indonesia.

Pertama, kata Karim, dari sejumlah nama yang beredar Pilkada Jabar hanya terbagi menjadi dua kubu yakni Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi.

"Kedua, ini penting bagi Golkar dan Gerindra. Karena bagi Golkar untuk memenangkan Pilkada Jabar jangan tarik Ridwan Kamil ke Jakarta," jelasnya

"Dan penting bagi Gerindra satu-satunya cara memenangkan Dedi Mulyadi ya mengeluarkan Ridwan Kamil dari Jabar. Jadi ini pesan yang hitam putih nyaris tidak ada cara mengalahkan Ridwan Kamil selain mencabut dari Jabar," tambahnya.

Ketiga, sambung Karim, berdasarkan pengamatannya nama Ridwan Kamil selalu masuk dalam persepsi masyarakat Jabar dalam konteks gubernur.

"Artinya habitat politik Ridwan Kamil ya Jabar. Apalagi tingkat kepuasan juga tinggi terhadap kinerja Ridwan Kamil," kata Karim dikutip dari Kantor Berita RMOLJabar.

Keempat, hasil survei yang Ridwan Kamil saat ini diperoleh secara pasif atau tanpa ada upaya apapun dalam lingkup Pilkada Jabar. Adapun nama Ridwan Kamil ramai diperbincangkan hanya dalam konteks Pilkada DKI Jakarta.

Untuk diketahui, populasi survei ini adalah warga negara Indonesia di Provinsi Jawa Barat yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah dan memiliki telepon/cellphone.

Sampel sebanyak 1214 responden dipilih melalui metode Double Sampling. Double Sampling adalah pengambilan sample secara acak dari kumpulan data hasil survei tatap muka yang dilakukan sebelumnya.

Margin of error survei diperkirakan 2.8% pada tingkat kepercayaan 95%, asumsi simple random sampling. Wawancara dengan responden dilakukan lewat telepon oleh pewawancara.



Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggerebekan Pesantren

Senin, 02 November 2026 | 18:26

DPR Gandeng Kementerian PPPA Dorong Gerakan Nasional Antibullying

Senin, 02 November 2026 | 18:20

Gibran Ingatkan Ancaman Hoaks terhadap Kerukunan Masyarakat

Senin, 02 November 2026 | 18:06

Antisipasi Gangguan Selat Hormuz, Chandra Asri Bangun Fasilitas Pengganti Nafta

Senin, 02 November 2026 | 18:02

Program Kemenag Harus Sejalan dengan Visi-Misi Prabowo

Senin, 02 November 2026 | 17:41

Kemenhaj Rekrut Tenaga Pendukung untuk Urus Visa Haji 2027

Senin, 02 November 2026 | 17:34

Ahmad Doli Harap Pimpinan Parpol Segera Bertemu Bahas Gibran

Senin, 02 November 2026 | 17:31

Gibran Tetap Blusukan ke Daerah di Tengah Polemik Putusan MA dan MK

Senin, 02 November 2026 | 17:25

Kesejahteraan Rakyat di Daerah Tambang Nikel Harus jadi Perhatian Pemerintah

Senin, 02 November 2026 | 17:09

Cegah Kekerasan di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Daring melalui MOOC Pintar

Senin, 02 November 2026 | 17:02

Selengkapnya