Berita

Ilustrasi foto/Net

Politik

Peretasan PDNS Jadi Cyber Security Incident Luar Biasa

KAMIS, 27 JUNI 2024 | 04:19 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 baru-baru ini mengalami serangan ransomware Brain Cipher yang berhasil mengenkripsi seluruh file di dalamnya.

Ahli digital forensik, Ruby Alamsyah menyatakan bahwa kejahatan siber ini terorganisir dan memiliki aktor-aktor di belakang layar yang kemungkinan memiliki jaringan internasional.

“(Organisasi peretas) itu biasanya keungkapnya nanti, agak lama dan itu biasanya yang mengungkap FBI, bareng-bareng dengan interpol dan penegak hukum internasional lainnya,” kata Ruby dikutip dari kanal Youtube KompasTV, Rabu malam (26/6).


Menurut dia, pemerintah seharusnya fokus pada pemulihan dari ransomware itu, bukan mengidentifikasi pelakunya.

“Karena dampak yang terjadi setelah ada ransomware ini, sistem dan data itu disandera sama pelaku dan untuk menormalkan, memulihkan kembali pelaku minta tebusan. Nah jadi penyanderaan ini lah yang fokusnya di situ apakah kita punya persiapan yang proper, (sehingga) kita dapat melakukan recovery dengan cepat,” jelasnya.

Lanjut Ruby, dua hari sebelum terjadi peretasan PDNS, pelaku sudah melakukan peretasan terhadap korban dan meminta uang tebusan sebesar 150 ribu dolar AS.

Dia menambahkan komparasi pada PDNS pelaku meminta tebusan 8 juta dolar AS dengan kuantitas dan kualitas yang bekali lipat.

“Nah jadi kekhawatiran kita di situ tuh. Biasanya permintaan jumlah nilai tebusan itu korelasinya dengan kuantitas dan kualitas data yang disandera. Itu harus jadi konsen kita, apalagi sudah diinfokan saat ini, sudah confirm sekitar 282 instansi pemerintah yang terhubung di PDNS, yang terdampak,” bebernya.

Ruby menyambut baik komitmen Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo untuk mengungkap tindak pidana dalam kasus ini.

“Kita merasa bahwa kejadian kali ini, cyber security incident kali ini sangat luar biasa. Makanya saya tidak heran tiba-tiba Kapolri sejak hari minggu lalu sudah menyatakan bahwa Polri mau mencari tindak pidana di kasus ini. Feeling saya, mestinya pernyataan itu bukan mencari peretasnya, bukan mengidentifikasi peretasnya, tapi mencari tindak pidana, kenapa ini bisa terjadi karena dampaknya sangat luar biasa besar,” pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kejagung Diminta Awasi Ekstra Proyek Pembangunan IKN

Selasa, 22 September 2026 | 22:15

Suahasil Beberkan Tiga Jurus Perkuat Pengawasan Bea Cukai, Apa Saja?

Selasa, 22 September 2026 | 21:51

KPK Didesak Periksa Nusron agar Tak Muncul Spekulasi Liar

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Jangan Omon-omon, Pelaksanaan MBG Harus Dipersempit ke Daerah 3T

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Raja Juli Sepi, Muncul Nusron

Selasa, 22 September 2026 | 21:12

Pakai Amine System, SP-ABG Pertamina Turunkan CO2 pada Gas jadi 5%

Selasa, 22 September 2026 | 21:07

Selebgram Jule Hanya Pemakai Etomidate, Bukan Pengedar

Selasa, 22 September 2026 | 20:54

Wacana Pencalonan Presiden-Wapres Cukup Didukung Dua Fraksi Ingkari Putusan MK

Selasa, 22 September 2026 | 20:36

KPK Kembali Sita Mobil Vinna Ledy Anggraheni Hasil Pemberian Pengusaha

Selasa, 22 September 2026 | 20:18

Swing Voters dan Pilkades Bekasi 2026

Selasa, 22 September 2026 | 19:59

Selengkapnya