Berita

Sekretaris Jenderal PBB, Anthonio Guterres/Net

Dunia

Sekjen PBB: Dunia Berjalan Menuju Neraka Iklim

KAMIS, 06 JUNI 2024 | 10:58 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Layanan Pemantau Iklim Uni Eropa Copernicus melaporkan bahwa Bumi mengalami gelombang panas terpanjang sejak bulan Juni 2023 hingga Mei 2024.

Disebutkan bahwa suhu bumi menjadi lebih panas 1,5 derajat celcius selama 12 bulan tersebut, disebabkan oleh industrialiasi dan penggunaan bahan bakar fosil dalam jumlah besar.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyalahkan perusahaan bahan bakar fosil yang meraup banyak keuntungan karena perannya mempertajam krisis iklim.


"Perusahaan-perusahaan ini telah menghabiskan miliaran dolar selama beberapa dekade untuk menipu masyarakat dan menabur keraguan," ujarnya, seperti dimuat AFP.

Ia mendorong negara-negara kaya untuk berkomitmen menghentikan penggunaan batu bara pada tahun 2030, mengurangi minyak dan gas sebesar 60 persen pada tahun 2035, dan meningkatkan aliran pendanaan ke negara-negara termiskin dan paling rentan terhadap perubahan iklim.

“Dalam hal iklim, kita bukanlah dinosaurus. Kami adalah meteornya. Kita tidak hanya berada dalam bahaya, kitalah bahayanya. Tapi kami juga solusinya," kata Guterres.

Sekjen PBB itu menilai saat ini Dunia perlu bekerja sama untuk keluar dari jalan menuju neraka iklim.

“Kita sedang bermain rolet Rusia dengan planet kita. Kita membutuhkan jalan keluar dari jalan raya yang bergerak menuju neraka iklim. Dan kebenarannya adalah, kita memiliki kendali atas kemudi ini," ungkapnya.

Laporan Copernicus muncul ketika Amerika Serikat bagian barat mengalami gelombang panas pertamanya pada musim panas ini dengan suhu yang melonjak hingga tiga digit.

Namun panas yang belum pernah terjadi sebelumnya telah meninggalkan jejak kematian dan kehancuran di seluruh dunia.

Puluhan orang tewas di India selama beberapa minggu terakhir ketika suhu mencapai 50 derajat celcius. Suhu ekstrem di Asia Tenggara telah menyebabkan kematian, penutupan sekolah, dan berkurangnya hasil panen; dan saat panas melonjak di Meksiko, monyet-monyet howler terjatuh dan mati dari pepohonan.

Udara dan lautan yang lebih panas juga memicu curah hujan yang lebih tinggi dan badai yang merusak seperti yang melanda Amerika Serikat, Brasil, Kenya, Uni Emirat Arab, dan negara-negara lain pada tahun ini.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

UPDATE

Momen Haru, Teddy Kenang Perjalanan Gubernur Pramono di Kantor Setkab

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:16

Fondasi Membangun Ekosistem Informasi yang Sehat di Era Digital

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:14

Jangan Sampai Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Gejolak Pasar

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:11

PDIP Soroti Kasus Febrie: Penegakan Hukum Tidak Boleh Tebang Pilih

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:07

Kuasa Hukum Nadiem Laporkan Dugaan Pelanggaran Etik dan Intimidasi Saksi ke KY

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:04

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KDKMP Diklaim Bisa Tambah Pendapatan Petani hingga Rp263 Triliun

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:59

Transformasi Digital BRI Pacu Pertumbuhan Bisnis Merchant dan Transaksi QRIS

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:51

Chad Ikuti Jejak Burkina Faso, Mali, dan Niger Keluar dari ICC

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:49

Hasto Ogah Tanggapi Kaesang Maju Nyaleg di Jateng

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:36

Selengkapnya